Refleksi Hardiknas: Rapuhnya Dunia Pendidikan dalam Sistem Sekuler
MutiaraUmat.com -- Peristiwa pilu dari dunia pendidikan kembali menyapa, menambah duka yang belum sepenuhnya reda. Namun kini berbeda, bukan lagi guru yang menjadi korban penghinaan, melainkan seorang pelajar yang harus rela kehilangan nyawa karena tindak kekerasan.
Sebagaimana yang dikabarkan oleh m.kumparan.com, 21/04/2026, seorang siswa bernama Ilham Dwi Saputra (16 tahun), warga Pandak Bantul, tewas setelah dianiaya sejumlah orang pada malam selasa (14/4) sekitar pukul 23.00 wib di jalan Banyu Urip, Caturharjo, Pandak, kabupaten Bantul.
Dari hasil penyelidikan, akhirnya polisi menangkap terduga dua dari 7 pelaku yakni BLP (18 tahun) dan YP (21 tahun). Menurut Kadiv Humas Jogja Police Watch (JPW), Baharudin Kamba, saat ditemui menyatakan bahwa tindakan yang dilakukan oleh para pelaku tersebut telah direncanakan. Alhasil, Ia menilai kasus ini layak diterapkan dengan pasal pembunuhan berencana.
Mirisnya, kasus yang menimpa Ilham Dwi Saputra- walau tidak sepenuhnya menyeret sesama pelajar- adalah contoh satu dari sekian banyak tindak kekerasan yang melibatkan pelajar dan staf di lingkungan pendidikan.
Hal ini, selaras dengan catatan yang ditunjukkan Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) bahwa terdapat sebanyak 233 kasus kekerasan- verbal, fisik dan seksual- di lingkungan pendidikan dalam tiga bulan terakhir, yakni Januari hingga Maret. Diantaranya, 71% di sekolah, 11% di perguruan tinggi, 9% di pesantren, 6% di satuan pendidikan nonformal dan 3% di madrasah (kompas.id, Selasa, 14 April 2026), membuktikan jika kekerasan di lingkungan sekolah bukan lagi sebatas insiden sporadis, melainkan telah berkembang menjadi fenomena yang terus menerus terulang.
Bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional, berbagai peristiwa ini seharusnya menjadi refleksi bagi semua pihak terkait, bahwa ada sesuatu yang rapuh dan keliru dalam arah pendidikan hari ini.
Pasalnya, tindak kekerasan yang terjadi dalam dunia pendidikan yang melibatkan berbagai generasi, tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan ada proses yang menghasilkan karakter yang jauh dari nilai agama, yang akhirnya mengikis moral dan adab, yaitu sistem sekuler-liberal yang cenderung menghalalkan kebebasan.
Sebab, dalam sistem ini arah pendidikan dibuat untuk mencetak orang pintar, yang bangga akan nilai, prestasi dan ranking. Sibuk mengasah akal tapi abai dalam pembentukan rasa hormat, keimanan dan kelembutan hati. Akibatnya, terbentuklah karakter bebas yang kehilangan arah, minim empati dan mudah terbawa arus pada tindakan kejahatan dan kemaksiatan. Dimana, kekerasan dianggap wajar, hinaan dijadikan candaan, dan pelecehan dianggap hal sepele.
Kondisi ini, diperparah oleh lemahnya sanksi hukum yang diberikan pada pelaku -terutama bagi pelajar yang masih di bawah umur- sehingga, tidak memberi efek jera. Akibatnya, kekerasan bukannya semakin menyusut malah semakin melebar karena sanksi yang dirasa ringan membuat sebagian pelaku lebih berani untuk bersikap sebebasnya.
Alhasil, untuk mengubah keadaan generasi hari ini, perlu adanya perubahan mendasar yang mengembalikan fungsi pendidikan sesuai ajaran islam, yang bukan sekedar proses transfer ilmu untuk mencetak generasi pintar, tetapi juga untuk membentuk kepribadian syakhsiyah islamiah sepenuhnya, yaitu dengan menanamkan pemahaman berupa tsaqofah Islam ke dalam akal, jiwa dan perilaku peserta didik. Dengannya, akan terlahir manusia beriman dan beradab yang tahu batas, serta memandang baik buruk bukan berdasarkan hawa nafsu.
Karenanya, kurikulum dan metode harus dilaksanakan sesuai tujuan tersebut, sehingga bukan hanya sebatas teori, melainkan bisa dihidupkan dalam keseharian.
Di saat yang sama, sistem sanksi yang diterapkan oleh negara Islam bersifat tegas dan adil, tidak memandang umur. Selama, kejahatan terbukti dilakukan, sanksi akan ditetapkan sesuai kadar kejahatan yang dilakukan. Karenanya, sanksi dalam islam bukan hanya bersifat sebagai Jawabir (penebus), tapi juga Zawajir (pencegah) agar masyarakat tidak melakukan tindakan serupa.
Wallahu a’lam bishshawab.[]
Oleh: Dina Aprilia
Aktivis Muslimah
0 Komentar