Potret Buram Guru dengan Murid


MutiaraUmat.com -- Aksi tidak pantas sejumlah siswa terhadap seorang guru, siswi terlihat mengejek hingga menunjukkan gestur jari tengah kepada seorang guru di dalam kelas. Tindakan tersebut mencerminkan krisis etika serta menurunnya penghormatan terhadap guru di lingkungan sekolah. SMAN 1 Purwakarta. (Detikjabar, 18/4/2026)

Dalam praktik pendidikan hari ini, keberhasilan memang seringkali di ukur secara sempit hanya sebatas nilai ujian, peringkat sekolah, kelulusan dan kesiapan untuk bekerja. Pendidikan direduksi hanya menjadi proses teknis saja, sedangkan pembentukan karakter dan adab menjadi slogan normatif semata.

Dalam sistem kapitalisme, pembayaran jasa memang menuntut akan adanya pelayanan prima. Ini akan menyebabkan relasi murid dan guru direduksi menjadi hubungan fungsional hanya sekedar penyedia dan penerima jasa. Akhirnya, guru kehilangan wibawa moral, sedangkan murid kehilangan rasa hormat dan kesadaran spiritual.

Tidak hanya itu. Guru juga dibebankan tugas administratif, beban kerjanya berlebih, upah minim, tunjangan yang tidak semuanya menerima, bahkan banyak guru-guru swasta yang dibayar jauh di bawah UMR daerah. Mereka juga dibayang-bayani dengan tekanan ekonomi keluarga. Akhirnya, sebagian guru terjebak pada kondisi ekstrem pendekatan keras, bahkan verbal abuse, sebagai jalan pintas pendisiplinan. Dan kondisi ekstrem lainya ialah kondisi tidak acuh dan justru abai terhadap kondisi murid untuk menghindari risiko konflik.

Apa sebenarnya yang rusak dalam sistem pendidikan kita? Mengapa relasi murid dan guru seharusnya sakral dan penuh penghormatan, sekarang berubah menjadi pengabaian, konflik terbuka, hingga kekerasan?

Mengurai Akar Persoalan Guru dengan Murid

Problem antara guru dan murid bukan sekedar persoalan individu, emosi sesaat atau lemahnya pengawasan sekolah. Ia adalah cermin buram dari dunia pendidikan yang sedang krisis kronis, ini menunjukkan pendidikan saat ini telah kehilangan spiritnya.

Kata Syekh Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitabnya Syakhshiyyah Al-Islamiyyah mengatakan bahwa perilaku manusia merupakan cerminan langsung dari mafahim (persepsi) yang dibentuk oleh sistem pendidikan dan lingkungan masyarakat ideologis tempat mereka dibesarkan. Dengan begitu, ketika persepsi tentang ilmu dan relasi manusia dibangun di atas asas sekuler (pemisahan agama dari kehidupan), perilaku dan tutur kata yang lahir pun akan tercerabut dari adab dan nilai sakralnya.

Sekularisme telah berhasil memisahkan agama dari kehidupan, termasuk dari dunia pendidikan. Nilai agama dipinggirkan menjadi pelajaran tambahan, bukan fondasi utama berpikir dan berperilaku. Akibatnya, dunia pendidikan kehilangan tujuan akhirnya, yaitu untuk mendapatkan Ridha Allah. Murid juga kehilangan orientasi hidup dan makna belajar yang sesungguhnya. Belajar bukan lagi untuk ibadah kepada Allah dan untuk meningkatkan kualitas diri, melainkan hanya mengejar ijazah dan ketika lulus bisa bekerja dengan upah yang tinggi.

Guru pun kehilangan peran sebagai pendidik moral dan spiritual. Relasi guru dan murid juga berubah menjadi transaksional, bukan lagi relasi yang dilandasi kasih sayang, cinta dan penghormatan. Akhirnya, sekolah hanya menjadi ruang kompetisi nominal, bukan lagi pembinaan dan pembentukan karakter yang sanggup merubah generasi menjadi generasi penerus peradaban bangsa. Inilah akibatnya ketika agama tidak lagi manjadi rujukan, standar benar dan salah menjadi relatif dan ditentukan oleh emosi, kepentingan dan tekanan sosial. Akhirnya mengakibatkan, kekerasan mudah terjadi, baik dari guru maupun murid. Kemudian melahirkan generasi yang mudah emosi, tidak tahan ditegur dan minim rasa hormat pada gurunya.

Saatnya Kembali ke Sistem Pendidikan Islam

Selain hubungan kausal antara iman, ilmu dan amal, Islam juga menempatkan adab bagian penting fondasi pendidikan. Imam Malik pernah berkata, " Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu." Pernyataan ini tidak hanya sekedar nasihat moral, tetapi prinsip dalam pendidikan Islam. Karena ilmu tanpa adab akan melahirkan kesombonga, kerasnya hati dan kerusakan.

Imam Syafi'i pernah berkata, " Aku membalik lembaran kitab di hadapan guruku dengan sangat perlahan karena segan suaranya terdengar." Rosulullah SAW bersabda, " Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi." (HR Abu Dawud dan Tirmidzi, hadis Hasan sahih).

Hadis ini menunjukkan dasar utama kemuliaan pendidik dalam Islam. Maka tugas menjadi seorang guru adalah amanah yang mulia dan berat. Islam menawarkan solusi sistemis, bukan tambal sulam, untuk menghadapi krisis kekerasan dan hilangnya adab dalam pendidikan.

Pertama, mengembalikan tujuan pendidikan sebagai sarana membentuk manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Tujuan pendidikan Islam juga bukan sekadar mentransfer ilmu pengetahuan, akan tetapi membentuk syahsiah islamiah, yakni pola pikir dan pola sikap terikat pada akidah Islam.

Kedua, menjadikan akidah Islam sebagai landasan yang utama dalam pendidikan, bukan sekadar pelengkap kurikulum. Islam menolak dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Dikotomi sekuler seperti ini justru akan melahirkan kekosongan nilai dalam penguasaan ilmu modern sehingga kecerdasan tidak diimbangi dengan adab.

Ketiga, memuliakan guru secara moral dan mensejahterakan secara materi agar mereka fokus menjalankan amanah menjadi guru pendidik yang sejati.

Keempat, menerapkan sistem pendidikan Islam secara totalitas dalam naungan sistem kehidupan Islam sehingga nilai- nilai Islam tidak berhenti pada slogan saja. Negara harus berperan sebagai penjamin pendidikan berbasis akidah.

Allah SWT berfirman, " Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar." (TQS. Ali Imron : 104).

Ayat di atas menegaskan seruan kepada kebaikan serta amar makruf nahi mungkar, berkorelasi dengan tujuan pendidikan dalam Islam, sehingga dunia pendidikan menjadi bagian dari misi besar peradaban Islam. Sejarah Islam menunjukkan bahwasanya pendidikan yang berlandaskan akidah Islam mampu melahirkan peradaban bangsa yang gemilang. Kegemilangannya termasuk mempelopori dunia dalam ilmu pengetahuan dan pendidikan. Pada masa keemasannya, Islam tidak hanya unggul dalam sains dan filsafat, akan tetapi akhlak dan adab keilmuannya.

Masjid, kuttab dan madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam, mampu menyatukan ilmu agama dan ilmu dunia. Hubungan guru dan murid dibangun atas dasar penghormatan, keteladanan, dan spiritualitas keimana kepada Allah SWT. Guru dihormati bukan karena jabatan, tetapi karena ketakwaan dan keilmuannya. Murid dididik untuk rendah hati, sabar, dan menghormati ilmu.

Dengan begitu akan melahirkan ulama besar, ilmuwan dan pemimpin yang beradab, sebab pendidikan dibangun di atas tauhid. Hanya dengan sistem Islam yang mampu melahirkan generasi yang unggul secara intelektual dan memiliki karakter akhlak yang mulia.

Wallahu a'lam bishshawab.[]


Oleh: Rokani 
(Aliansi Penulis Rindu Islam)

0 Komentar