Pendidikan dalam Kapitalisme Vs. Islam
MutiaraUmat.com -- Menanggapi wacana terkait rencana pemerintah Indonesia untuk menghapus beberapa jurusan perkuliahan yang dianggap tidak relevan demi tembus target pertumbuhan ekonomi, beberapa rektor dan wakil rektor memilih untuk menolaknya dan memilih jalan lain. Adapun rektor dan wakil rektor tersebut di antaranya rektor UMM dan Unisma secara tegas menolak rencana tersebut dengan alasan bahwasanya kampus bukanlah pabrik pekerja. Sementara wakil rektor UMY memilih untuk menyesuaikan kurikulum daripada menutupnya. Sementara itu rektor UGM mengaku rutin mengevaluasi prodi dan terbuka untuk membuka, menutup, atau merger prodi.
Munculnya fakta terkait penutupan prodi oleh pemerintah Indonesia tersebut tak lepas dari adanya sistem kapitalisme dan sekularisme yang diterapkan oleh negeri ini. Dalam sistem kapitalisme sekularisme perguruan tinggi harus menyesuaikan dengan tuntutan dunia industri. Dunia kampus yang seharusnya dijadikan sebagai tempat menuntut ilmu dengan sebaik-baiknya malah dianggap sebagai pabrik penghasil pekerja.
Negara tidak lagi menjadikan kampus sebagai penghasil SDM untuk mengurusi urusan umat malah menjadikan sebagai target untuk menghasilkan pekerja demi pertumbuhan ekonomi. Dunia kampus yang seharusnya berperan sebagai pusat peradaban yang mengintegrasikan penguasaan sains dan teknologi dengan nilai-nilai moral keagamaan untuk mencetak kaum intelektual menjadi pilar dakwah serta mendorong kemajuan sosial dan ekonomi masyarakat malah dijadikan sebagai sebuah industri. Hal ini tentu saja demi menjaga kepentingan segelintir orang dan para investor asing di negeri ini.
Pendidikan di dunia kapitalis sekularisme hanya berorientasi pada materi. Mahalnya biaya pendidikan yang menyebabkan hanya segelintir orang yang mampu menikmati pendidikan tinggi juga menunjukkan potret buram pendidikan di Indonesia. Lalu bagaimanakah solusi Islam dalam mengatasi masalah ini?
Dalam Islam, negaralah yang memiliki kebutuhan untuk mencetak ahli di bidang apa sesuai kebutuhan SDM dalam melayani urusan umat karena tugas pokok negara dalam Islam adalah melayani rakyatnya. Dan sesungguhnya dunia pendidikan termasuk perguruan tinggi adalah tanggung jawab negara termasuk menentukan visi misi, pembiayaan, penentuan kurikulum serta penyediaan sarpras. Dalam hal ini negara mandiri dalam mengelola pendidikan tinggi tidak bergantung pada tekanan dan kepentingan negara asing. Berikut solusi Islam untuk pendidikan tinggi:
Pertama. Integrasi ilmu. Menghapus dikotomi ilmu antara ilmu dunia dan ilmu umum. Semua ilmu dianggap sebagai wahana untuk mengenal Allah dan memberikan manfaat bagi manusia.
Kedua. Pendidikan berbasis karakter. Pendidikan berbasis karakter ini adalah mengutamakan adab dibandingkan ilmu. Tujuan utama bukan semata-mata untuk mencapai target akademik tetapi lebih kepada pembentukan akhlak, moral, dan spiritual mahasiswa.
Ketiga. Ekosistem kampus islami. Menciptakan pergaulan yang sehat, memfasilitasi ibadah, dan mendorong kegiatan pengabdian masyarakat.
Keempat. Optimalisasi peran mahasiswa. Mengarahkan mahasiswa untuk menjadi agent of change yang memandang permasalahan dari perspektif islam dan kritis terhadap situasi politik dunia.
Kelima. Komunitas pendukung. Bergabung dengan organisasi dakwah atau komunitas mahasiswa muslim untuk menjaga konsistensi Islam.
Keenam. Pendidikan Holistik Integratif. Kurikulum perguruan tinggi dalam negara Islam dirancang sesuai syariat Islam.[]
Oleh: Ummu Syaqila
Aktivis Muslimah
0 Komentar