Palestina dan Kebutuhan Persatuan Umat

Mutiaraumat.com -- Palestina kembali menjadi bukti bahwa dunia internasional hari ini gagal menjaga nilai kemanusiaan. Ribuan nyawa melayang, rumah-rumah dihancurkan, anak-anak kehilangan keluarga, sementara dunia hanya sibuk mengeluarkan pernyataan tanpa tindakan nyata yang mampu menghentikan penderitaan rakyat Gaza.

Tragedi ini memperlihatkan bahwa sistem global yang dibangun atas asas kepentingan politik dan kapitalisme tidak pernah benar-benar berpihak pada keadilan.

Setiap hari rakyat Gaza hidup di bawah ancaman kematian. Serangan demi serangan terus berlangsung hingga menjadikan wilayah tersebut sebagai tempat yang tidak aman bagi siapa pun, termasuk perempuan dan anak-anak. Bahkan kamp-kamp pengungsian yang seharusnya menjadi tempat perlindungan pun tetap menjadi sasaran serangan (MetroTVNews, 9 Maret 2026).

Yang paling memilukan, anak-anak Gaza harus menanggung dampak perang yang sangat mengerikan. Banyak dari mereka mengalami amputasi akibat ledakan bom dan serangan udara. Sebagian kehilangan tangan, kaki, bahkan keluarganya dalam waktu bersamaan. 

Perserikatan Bangsa-Bangsa mengungkapkan bahwa satu dari lima korban amputasi di Gaza adalah anak-anak. Kondisi ini diperparah oleh minimnya tenaga medis, alat kesehatan, serta terbatasnya akses bantuan kemanusiaan akibat blokade yang terus berlangsung (Tempo, 5 Mei 2026).

Tidak hanya itu, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) juga melaporkan bahwa ribuan korban amputasi di Gaza harus menunggu bertahun-tahun hanya untuk mendapatkan kaki atau tangan prostetik. Krisis ini terjadi karena sangat sedikit teknisi prostetik yang tersedia, sementara jumlah korban terus bertambah setiap hari (Inilah.com, 7 Mei 2026).

Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa tragedi Palestina bukan sekadar konflik biasa, tetapi penjajahan yang telah menghancurkan kehidupan generasi muslim di Gaza. Namun ironisnya, dunia internasional justru tampak tidak memiliki keberanian untuk menghentikannya. 

Resolusi demi resolusi hanya menjadi dokumen politik tanpa kekuatan nyata. Negara-negara besar yang selama ini berbicara tentang demokrasi dan hak asasi manusia ternyata justru memiliki standar ganda ketika yang menjadi korban adalah rakyat Palestina.

Di sisi lain, umat Islam hari ini pun belum mampu menunjukkan kekuatan politik yang benar-benar melindungi kaum muslimin. Negeri-negeri muslim masih terpecah oleh nasionalisme, kepentingan politik, dan sekat batas negara. 

Akibatnya, penderitaan Palestina hanya dijawab dengan kecaman, bantuan kemanusiaan, atau konferensi internasional yang tidak pernah menyentuh akar persoalan.

Padahal Islam memiliki konsep ukhuwah islamiyah yang mampu menyatukan umat tanpa memandang ras, bangsa, ataupun wilayah. Rasulullah ï·º menggambarkan kaum muslimin seperti satu tubuh. Ketika satu bagian tubuh sakit, maka bagian lainnya ikut merasakan penderitaan. 

Akan tetapi, konsep persatuan ini perlahan melemah akibat pengaruh sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan dan menjadikan nasionalisme sebagai identitas utama umat.

Inilah yang seharusnya menjadi bahan renungan besar bagi kaum muslimin. Palestina bukan hanya persoalan kemanusiaan, tetapi juga persoalan politik umat. Selama umat Islam tercerai-berai dan tidak memiliki kekuatan politik yang bersatu, maka tragedi serupa akan terus berulang di berbagai negeri muslim. Umat akan selalu menjadi korban tekanan negara-negara besar yang menguasai ekonomi, militer, media, dan politik dunia.

Karena itu, solusi Islam tidak cukup hanya dengan rasa simpati sesaat. Umat membutuhkan kebangkitan kesadaran politik Islam agar mampu kembali menjadikan syariat sebagai landasan kehidupan. 

Persatuan umat harus dibangun di atas akidah Islam, bukan sekadar kepentingan nasional atau ekonomi. Dengan persatuan inilah umat dapat memiliki kekuatan untuk melindungi negeri-negeri muslim dan menjaga kehormatan kaum muslimin.

Selain itu, kaum muslimin juga harus terus menjaga kepedulian terhadap Palestina melalui dakwah, pendidikan umat, bantuan kemanusiaan, serta pembentukan opini publik yang berpihak pada perjuangan rakyat Gaza. 

Jangan sampai tragedi Palestina dianggap sebagai berita biasa yang perlahan dilupakan. Sebab ketika umat mulai terbiasa melihat penjajahan tanpa rasa marah dan peduli, maka saat itulah nurani umat sedang melemah.

Palestina hari ini sejatinya sedang mengingatkan umat Islam tentang pentingnya persatuan dan kepemimpinan yang benar-benar mengurus urusan kaum muslimin. Sebab hanya dengan kekuatan umat yang bersatu, penjajahan dapat dihentikan dan kemuliaan Islam dapat kembali diwujudkan di tengah dunia yang penuh ketidakadilan ini.[]

Oleh: Sera Alfi Hayunda 
(Aktivis Muslimah)

0 Komentar