Hasad Itu Lucu: Orang Lain Bahagia, Dia yang Sengsara


MutiaraUmat.com -- “Orang yang dengki akan terus sakit." (Ali bin Abi Thalib)

Ada orang yang hampir tiap hari jaga kesehatan mental. Madu masuk. Arisan jalan. Pengajian disana sini diikuti. Jalan sehat seminggu sekali. Tapi tiap lihat postingan orang lain bahagia dadanya langsung panas kayak wajan belum dicuci habis goreng lele.

Ternyata yang sakit bukan lambung. Tapi hati. Hasad itu penyakit paling capek sedunia. Bayangkan saja, orang lain yang dapat rezeki eh dia yang insomnia sampe jadi mata panda. Orang lain yang naik level, dia yang migren. 

Lucunya, orang dengki sering merasa dirinya dizalimi kehidupan. Padahal yang bikin sesak bukan keberhasilan orang lain, tapi hatinya sendiri yang menolak menerima takdir Allah.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa hasad adalah penyakit hati yang membuat seseorang tidak rela melihat nikmat pada orang lain. Jadi masalah utamanya bukan pada harta orang lain, tapi pada hati yang gagal ridha terhadap pembagian Allah.

Makanya orang hasad itu hidupnya melelahkan. Scrolling capek. Lihat pencapaian orang capek. Lihat orang bahagia capek. Lihat tetangga renovasi rumah langsung asam urat naik.

Padahal rezeki orang lain tidak pernah mengurangi jatah kita sedikit pun.

Sampai kadang orang lain cuma upload tulisan opini tentang hasad aja dia langsung mikir,

“Ini nyindir aku ya?”

Padahal enggak ada yang mikirin dia.

Hasad membuat manusia kehilangan kemampuan menikmati hidupnya sendiri. Karena fokusnya bukan lagi mensyukuri apa yang dimiliki, tetapi sibuk menghitung nikmat orang lain. Akhirnya hidup berubah jadi perlombaan tanpa garis finish.

Ada yang iri karena wajah.
Ada yang iri karena jabatan.
Ada yang iri karena rumah tangga orang lain terlihat harmonis.
Ada juga yang iri cuma karena temannya terlihat lebih tenang.

Padahal ketenangan itu tidak selalu datang dari banyaknya harta, tapi dari bersihnya hati.

Syekh Ibnu Atha’illah pernah berkata, “Jangan heran bila masih terjadi kesedihan, selama sifat tamak masih ada dalam dirimu.”

Karena hasad selalu lahir dari hati yang sempit. Sempit menerima takdir Allah. Sempit melihat kebahagiaan orang lain dan sempit mempercayai bahwa rezeki Allah itu luas.

Lucunya lagi, orang hasad sering merasa dirinya paling tersakiti. Padahal sebenarnya dia sedang menyiksa dirinya sendiri.

Mau orang yang dia iri-kan gagal pun, belum tentu hidupnya jadi bahagia.
Karena akar masalahnya bukan pada hidup orang lain. Tetapi pada penyakit dalam hatinya.

Makanya Rasulullah Saw mengingatkan agar manusia menjauhi hasad, karena hasad memakan kebaikan seperti api melahap kayu bakar. Ngeri, kan?

Capek iya.
Hati panas iya.
Pahala juga habis.
Rugi paket lengkap.

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa seorang Muslim harus menjadikan ridha Allah sebagai standar hidupnya, bukan sibuk mengejar pengakuan manusia atau sibuk membandingkan diri dengan kehidupan orang lain. Karena kalau ukuran hidup kita adalah dunia manusia, kita tidak akan pernah selesai merasa kurang.

Selalu ada yang lebih kaya.
Lebih cantik.
Lebih sukses.
Lebih populer.
Lebih dipuji.

Kalau hidup diisi perlombaan begitu, kapan tenangnya?

Makanya para ulama terdahulu terlihat ringan hidupnya. Bukan karena mereka tidak punya masalah, tetapi karena hati mereka tidak sibuk mengurusi nikmat orang lain.
Mereka lebih sibuk memperbaiki diri daripada memantau kehidupan manusia.

Hari ini banyak orang terlihat sehat di luar, tapi batinnya penuh perlombaan yang melelahkan. Sedikit-sedikit iri. Sedikit-sedikit membandingkan. Sedikit-sedikit panas lihat kebahagiaan orang lain. Padahal mungkin yang sedang sakit bukan tubuhnya tetapi hatinya yang terlalu lama hidup dalam dengki.

Jadi kalau hari ini kamu mulai gelisah melihat orang lain bahagia, coba berhenti sejenak lalu istighfar pelan-pelan. Belajar ikut bahagia atas nikmat yang Allah berikan kepada orang lain.

Karena hati yang sehat bukan hati yang punya segalanya.
Tetapi hati yang mampu tenang melihat orang lain bahagia tanpa merasa dirinya kalah. Sebab pada akhirnya, hidup ini bukan lomba siapa paling dipuji manusia. Tetapi siapa yang paling bersih hatinya di hadapan Allah.

Barakallahufikum.[]


Nabila Zidane
Jurnalis

0 Komentar