Hardiknas dan Potret Buram Pendidikan

TintaSiyasi.id -- Hari Pendidikan Nasional rutin diadakan tiap tahun, dengan beragam bentuk perayaan yang berbeda di tiap daerah. Namun sayang, perayaan Hari Pendidikan Nasional seakan seremonial belaka, tanpa menyentuh problem penting yang harusnya menjadi perhatian.

Baru-baru ini saja, berbagai peristiwa memilukan terjadi. Seorang pelajar bernama Ilham Dwi Saputra (16 tahun) di Jalan Banyu Urip, Caturharjo, Pandak Kabupaten Bantul, mengalami pengeroyokan. Polisi menangkap dua dari lima pelaku. Dwi dinyatakan meninggal di rumah sakit akibat luka yang dideritanya setelah sempat dirawat. (Kumparan.com, 21/4/2026)

Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) 2026, menemukan sejumlah praktik kecurangan yang dilakukan peserta Ujian Tulis Berbasis Komputer-Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) di hari pertama pelaksanaan, Selasa, 21 April 2026. Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB 2026 Eduart Wolok menjelaskan masih ditemukan adanya praktik perjokian dalam tes masuk perguruan tinggi pada tahun ini. (Tempo.co, 21/4/2026)

Problem narkoba di lingkaran pelajarpun semakin mengkhawatirkan. Bangka Belitung (Babel) terungkap enam orang di bawah umur terlibat kasus pidana narkoba dari 165 kasus narkoba periode Januari hingga April 2026 (rri.co.id, 14/4/2026)

Belum lagi masalah moral yang semakin bobrok. Kesekian kalinya peristiwa penghinaan bahkan kekerasan terhadap guru terjadi. Media sosial dihebohkan oleh perilaku sejumlah siswa SMAN 1 Purwakarta yang mengejek dan mengacungkan gestur jari tengah ke gurunya. Dilansir dari detikJabar, Sabtu (28/4/2026) Purwanto, Kepala Dinas Pendidikan Jabar, mengungkapkan insiden tersebut terjadi setelah siswa menyelesaikan pelajaran.

Hardiknas: Alarm Keras Dunia Pendidikan dan Solusi Islam

Hari Pendidikan Nasional harusnya menjadi alarm keras bagi semua pihak yang terkait untuk melakukan perbaikan terhadap kondisi buruk dunia pendidikan saat ini. Potret buram generasi tentu tidak terlepas sistem pendidikan yang diterapkan kini. Sistem pendidikan merupakan punggung keberlangsungan bangsa. Kualitas generasi ditentukan dari kualitas pendidikannya. Sistem barat yang sekular menjadi kiblat sistem pendidikan saat ini, hingga lahirlah generasi yang mengalami dekadansi moral, hedonis, mencari kesenangan semata dan latah serta bermental lemah.

Kurikulum pendidikan yang sekuler, memisahkan kehidupan dari agama. Terdapat dikotomi ilmu, pemisahan antara agama dan sains, dan berbagai ilmu terapan lainnya. Kurikulumnya yang padat dan teoritis, minim nilai dan berfokus pada kognitif, hingga mencetak individu yang pintar secara akademik tapi lemah secara spiritual. Terlebih lagi, pendidikan menjadi barang mahal yang sulit diakses semua kalangan.

Menelaah problem pendidikan yang berkepanjangan, saatnya untuk menilik kembali kepada sistem Islam. Masa kejayaan dan kebangkitan umat di bawah kepemimpinan Islam dan penerapan aturan Islam secara sempurna, selama hampir 14 abad menjadi bukti harusnya Islamlah yang menjadi sandaran dalam segala urusan umat termasuk dalam aspek pendidikan.

Tujuan pendidikan dalam Islam bukan sekedar mencetak manusia cerdas, namun mencetak insan yang berkepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyyah), yakni terbentuk pola pikir (aqliyyah) dan pola sikap (nafsiyyah) yang didasarkan pada akidah Islam. Islam menempatkan penanaman akidah sebagai pondasi utama seluruh ilmu pengetahuan. Akidah inilah yang membentuk perilaku peserta didik agar sesuai dengan syariah, serta mengarahkan potensi mereka untuk beramal meraih ridho Allah Swt. Peran Negara juga memastikan pendidikan berjalan sesuai tujuan Syar'i, yakni mencetak generasi yang beriman, berilmu dan berakhlak mulia.

Negara akan menerapkan sistem sanksi yang tegas bagi pelaku kejahatan, termasuk pelajar, menghadirkan rasa takut dan berfikir panjang sebelum berbuat. Tak kalah penting negara akan membangun suasana hidup yang penuh ketakwaan, serta mendorong setiap orang untuk berlomba dalam amal kebaikan. Karena itu, sudah saatnya mengevaluasi ulang sistem pendidikan dan kehidupan yang kita anut. Islam bukan hanya agama, namun juga sistem hidup menyeluruh yang mampu membentuk manusia seutuhnya: cerdas, berakhlak dan kuat menghadapi ujian. Hanya dengan Islam kaffah, menyelamatkan generasi dari jurang kehancuran dan mengantarkan mereka pada peran hakiki menuju peradaban gemilang. Wallahua'lam

Oleh : Linda Maulidia, S.Si
Aktivis Muslimah

0 Komentar