Freestyle Mematikan: Krisis Pendidikan di Tengah Gempuran Dunia Digital


Mutiaraumat.com -- Tangis duka kembali menyelimuti negeri ini. Anak-anak yang seharusnya tumbuh dalam pelukan kasih sayang dan perlindungan, justru kehilangan nyawa akibat meniru aksi berbahaya dari dunia digital. Mereka masih terlalu kecil untuk memahami risiko, tetapi sudah dibiarkan berhadapan dengan derasnya arus konten tanpa penjagaan.

Dilansir dari kumparan.com, dua anak di Lombok Timur, masing-masing usia TK dan SD, meninggal dunia akibat cedera leher setelah meniru aksi “freestyle” yang viral di media sosial dan game online. Aksi tersebut diduga terinspirasi dari game populer Garena Free Fire yang menampilkan gerakan ekstrem.

Pemberitaan serupa juga dimuat oleh Tribun Pontianak dan Radar Sampit JawaPos. Bahkan psikolog anak yang diwawancarai Metro TV News mengingatkan bahwa anak-anak memiliki kecenderungan tinggi meniru sesuatu yang dianggap menarik tanpa memahami bahaya di baliknya.

Tragedi ini bukan sekadar kecelakaan biasa. Ini adalah alarm keras bahwa perlindungan terhadap generasi sedang mengalami krisis serius di tengah sistem sekuler kapitalisme yang menjadikan kebebasan dan keuntungan materi sebagai orientasi utama.

Krisis Perlindungan Generasi di Tengah Sistem Sekuler Kapitalisme

Tragedi ini sejatinya tidak lahir secara tiba-tiba. Ada akar persoalan yang sangat dalam dan saling berkaitan. Ketika keluarga melemah, lingkungan kehilangan fungsi pendidikan, dan negara gagal menjalankan tanggung jawabnya, maka anak-anak menjadi pihak paling rentan menjadi korban.

Inilah buah pahit sistem sekuler kapitalisme yang memisahkan agama dari kehidupan, sehingga pendidikan generasi tidak lagi dibangun atas dasar penjagaan akidah dan keselamatan, melainkan dibiarkan mengikuti arus pasar dan kebebasan tanpa batas;

Pertama, Krisis Pengasuhan dalam Tekanan Kapitalisme. Anak-anak sejatinya lahir dalam keadaan lemah dan belum sempurna akalnya. Mereka belum mampu memilah mana hiburan dan mana ancaman. Apa yang terlihat menarik akan dengan mudah mereka tiru, apalagi jika dianggap keren, viral, dan mendapat banyak perhatian.

Namun ironisnya, di tengah sistem kapitalisme hari ini, banyak keluarga justru kehilangan kesempatan untuk hadir penuh dalam pengasuhan anak.

Tekanan ekonomi yang semakin berat memaksa orang tua bekerja keras demi memenuhi kebutuhan hidup. Biaya pendidikan mahal, harga kebutuhan pokok naik, lapangan pekerjaan tidak stabil, sementara standar kehidupan terus dibentuk oleh gaya hidup konsumtif. Akibatnya, ayah dan ibu sama-sama terkuras tenaga dan pikirannya.

Rumah yang seharusnya menjadi pusat pendidikan pertama perlahan kehilangan fungsinya. Anak-anak tumbuh lebih banyak bersama gadget dibanding pendampingan orang tua. Tidak sedikit orang tua akhirnya menjadikan HP sebagai “pengasuh instan” agar anak diam dan tidak rewel ketika mereka sibuk bekerja atau menyelesaikan urusan rumah.

Di sinilah dunia digital mulai mengambil alih peran keluarga.

Masalahnya, dunia digital dalam sistem sekuler kapitalisme tidak dibangun untuk mendidik generasi, melainkan untuk mengejar keuntungan. Konten dibuat demi viewers, like, engagement, dan cuan. Semakin sensasional suatu tayangan, semakin besar peluang viral dan menghasilkan keuntungan ekonomi.

Akibatnya, anak-anak terus dibanjiri tontonan ekstrem, kekerasan, tantangan berbahaya, hingga hiburan kosong yang merusak pola pikir. Mereka akhirnya tumbuh dalam budaya meniru tanpa memahami risiko.

Sistem ini sangat berbeda dengan Islam. Dalam Islam, anak yang belum balig belum dibebani hukum syariat karena akalnya belum sempurna. Karena itu mereka wajib dijaga, diarahkan, dan dididik dengan penuh tanggung jawab.

Islam menjadikan pengasuhan sebagai amanah besar, bukan sekadar urusan pribadi yang dilepas begitu saja kepada teknologi dan media.

Rasulullah ï·º bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”

Hadis ini menegaskan bahwa orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga keselamatan fisik, akal, dan kepribadian anak-anak mereka.

Kedua, Lingkungan yang Kehilangan Fungsi Pendidikan

Krisis generasi hari ini tidak hanya lahir dari lemahnya pengasuhan, tetapi juga dari rusaknya lingkungan sosial.

Dulu masyarakat memiliki kepedulian tinggi terhadap tumbuh kembang anak. Anak-anak bermain dalam pengawasan orang dewasa. Tetangga merasa bertanggung jawab menegur jika ada perilaku membahayakan. Lingkungan menjadi bagian dari sistem pendidikan sosial.

Namun dalam sistem sekuler kapitalisme, masyarakat diarahkan menjadi individualistis. Setiap orang sibuk dengan urusannya sendiri. Selama tidak mengganggu kepentingan pribadi, banyak orang memilih diam terhadap kerusakan di sekitarnya.

Akibatnya, anak-anak tumbuh tanpa kontrol sosial yang kuat. Mereka bebas meniru apa saja demi dianggap keren dan mendapat pengakuan dari teman-temannya. Budaya viral melahirkan kebutuhan untuk tampil, direkam, dan dipuji, meski harus mempertaruhkan keselamatan.

Media sosial pun memperparah keadaan. Algoritma terus mendorong konten yang memancing perhatian tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi psikologis anak. Anak-anak akhirnya hidup dalam lingkungan yang miskin keteladanan namun kaya distraksi dan sensasi.

Inilah buah pahit masyarakat sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan.

Padahal Islam menjadikan masyarakat sebagai salah satu pilar utama penjaga generasi. Dalam Islam, amar makruf nahi mungkar bukan sekadar slogan, tetapi budaya hidup. Masyarakat didorong saling menasihati, peduli, dan menjaga lingkungan agar tetap sehat bagi pertumbuhan anak-anak.

Lingkungan dalam Islam bukan hanya tempat tinggal bersama, tetapi benteng sosial yang menjaga moral dan keselamatan generasi.

Ketiga, Negara Gagal Menjadi Pelindung Generasi

Tragedi freestyle mematikan ini juga menunjukkan lemahnya peran negara dalam melindungi anak-anak dari bahaya dunia digital.

Faktanya, anak-anak masih sangat mudah mengakses konten berbahaya. Video ekstrem, tantangan viral, hingga tayangan penuh kekerasan tersebar bebas tanpa penyaringan yang benar-benar efektif. Bahkan algoritma media sosial terus merekomendasikan konten serupa karena dianggap mampu meningkatkan durasi tontonan dan keuntungan platform.

Negara memang hadir dengan himbauan setelah tragedi terjadi. Namun himbauan jelas tidak cukup.

Akar masalahnya terletak pada sistem sekuler kapitalisme itu sendiri. Dalam sistem ini, negara lebih sering berfungsi sebagai regulator pasar daripada pelindung moral rakyat. Selama industri digital menghasilkan keuntungan ekonomi besar, pembatasan serius terhadap konten merusak sering kali tidak menjadi prioritas utama.

Negara juga tampak kalah menghadapi dominasi korporasi teknologi global yang mengendalikan arus informasi dunia. Akibatnya, perlindungan generasi sering tunduk pada kepentingan industri hiburan.

Padahal dalam Islam, negara memiliki tanggung jawab besar sebagai ra’in (pengurus rakyat). Negara wajib menjaga akidah, akal, moral, dan keselamatan masyarakat.

Karena itu negara dalam Islam tidak akan membiarkan konten merusak tersebar bebas atas nama kebebasan berekspresi atau keuntungan bisnis. Informasi yang membahayakan generasi akan dibatasi secara tegas, sementara media edukatif dan berkualitas akan diperbanyak.

Sebab generasi dalam Islam bukan objek pasar, melainkan aset peradaban yang harus dijaga.

Islam Menawarkan Sistem Perlindungan Generasi

Tragedi anak-anak yang meninggal akibat meniru tren freestyle seharusnya menjadi tamparan keras bagi kita semua. Persoalan ini tidak cukup diselesaikan dengan himbauan sesaat atau pengawasan individu semata.

Masalah ini Bersifat Sistemik

Islam memiliki konsep perlindungan generasi yang menyeluruh melalui sinergi tiga pilar utama: keluarga, masyarakat, dan negara.

Keluarga menjadi madrasah pertama yang menanamkan iman, adab, dan ketakwaan. Masyarakat menjalankan kontrol sosial melalui budaya amar makruf nahi mungkar. Sementara negara memastikan seluruh sistem kehidupan mendukung lahirnya generasi yang selamat akalnya, kuat kepribadiannya, dan mulia akhlaknya.

Allah Swt. berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6).

Ayat ini menunjukkan bahwa menjaga keluarga bukan hanya memastikan mereka hidup, tetapi juga memastikan mereka terlindungi dari segala hal yang merusak dunia dan akhiratnya.

Sudah saatnya umat menyadari bahwa Islam bukan sekadar agama ritual, tetapi sistem hidup yang memiliki mekanisme nyata dalam menjaga manusia dan peradaban.

Generasi hari ini tidak boleh terus dibiarkan tumbuh di bawah asuhan algoritma.

Mereka membutuhkan sistem kehidupan yang menjaga fitrah, melindungi akal, dan mengarahkan mereka menuju kemuliaan. Dan semua itu hanya bisa terwujud dengan penerapan Islam secara menyeluruh dalam kehidupan. Wallahu'alam bishshowwab.[]

Oleh: Melgi Zarwati
(Aktivis Dakwah)


0 Komentar