Freedom Flotilla Dibajak di Laut Internasional: Topeng Hukum Dunia Robek, Zionisme dan Kapitalisme Berkuasa

MutiaraUmat.com -- Dunia kembali menyaksikan wajah asli politik global yang penuh kemunafikan. Kapal-kapal Freedom Flotilla yang membawa bantuan kemanusiaan untuk Gaza dibajak dan dicegat oleh penjajah Israel di perairan internasional. Sejumlah aktivis kemanusiaan, termasuk relawan dari Indonesia, dilaporkan ditangkap dan dihalangi dalam misi damai tersebut.

Peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi klaim dunia Barat tentang demokrasi, HAM, dan hukum internasional. Jika hukum internasional benar-benar ditegakkan secara adil, maka pembajakan kapal sipil di laut internasional seharusnya mendapat sanksi tegas. Namun, yang terjadi justru sebaliknya: dunia diam dan Israel kembali lolos tanpa konsekuensi berarti.

Inilah bukti bahwa hukum internasional dalam sistem kapitalisme global sering hanya menjadi alat politik negara-negara kuat. Aturan ditegakkan keras kepada negara lemah, tetapi dilonggarkan bagi sekutu strategis Barat. Standar ganda menjadi wajah politik global hari ini.

Allah Swt. berfirman:

Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (TQS Al-Maidah: 8)

Namun, keadilan justru hilang dalam sistem sekuler kapitalistik. Standar benar dan salah tidak lagi ditentukan oleh hukum Allah, tetapi oleh kepentingan ekonomi, kekuatan militer, dan aliansi politik. Siapa yang kuat, dialah yang menentukan aturan.

Kapitalisme global juga membuat dunia Islam tercerai-berai menjadi negara-negara lemah yang tidak memiliki kekuatan politik kolektif. Akibatnya, ketika Gaza dibombardir atau relawan kemanusiaan ditangkap, respons dunia Islam hanya sebatas kecaman diplomatik.

Padahal Rasulullah ï·º bersabda:

Perumpamaan kaum mukmin dalam hal saling mencintai dan menyayangi bagaikan satu tubuh.” (HR Bukhari dan Muslim)

Sayangnya, nasionalisme dan kepentingan politik masing-masing negara membuat penderitaan Palestina seolah hanya masalah regional. Inilah dampak nation-state warisan kolonial yang memecah kekuatan umat Islam.

Islam tidak hanya mengajarkan doa dan empati, tetapi juga kewajiban memiliki kekuatan politik untuk melindungi umat. Rasulullah ï·º bersabda:

“Imam (khalifah) adalah perisai; umat berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan pentingnya kepemimpinan Islam yang melindungi umat secara nyata. Dalam sejarah Islam, kehormatan kaum Muslim dijaga oleh institusi politik yang kuat, bukan sekadar kecaman tanpa tindakan.

Karena itu, tragedi Freedom Flotilla harus menjadi pelajaran bahwa berharap keadilan dari sistem internasional sekuler kapitalistik adalah ilusi. Selama dunia diatur oleh kepentingan oligarki global dan imperialisme, keadilan akan terus berpihak kepada yang kuat.

Solusi hakiki bukan sekadar solidaritas emosional, tetapi membangun kesadaran politik Islam, menyatukan umat di bawah syariat Allah, dan menghadirkan kepemimpinan Islam yang mampu melindungi kaum Muslim di seluruh dunia.

Allah Swt. berfirman:

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi.” (TQS Al-Anfal: 60)

Ayat ini menegaskan pentingnya membangun kekuatan politik, ekonomi, dan persatuan umat agar Islam tidak terus menjadi korban penjajahan global.

Wallahu a’lam bishshawab.

Oleh: drh. Mei Widiati, M.Pd. (Pemerhati Pendidikan dan Kesehatan)

0 Komentar