Dilema Ibu Pekerja di Sistem Kapitalisme

MutiaraUmat.com -- Sulit dan mahal. Dua kata yang menggambarkan betapa susahnya mendapatkan hak rasa aman dan kesejahteraan saat ini, terutama bagi ibu yang bekerja dan anak-anaknya. Berbagai peristiwa tragis yang belakangan terjadi, seolah menegaskan bahwa ada yang keliru dalam sistem kehidupan sekarang. 

Berbekal laporan dari salah seorang mantan karyawan, polisi akhirnya melakukan penggerebekkan pada salah satu daycare di Umbulharjo, Yogyakarta pada Jumat (24/4) lalu. Sebanyak 53 bayi dan batita (bawah tiga tahun) diduga mengalami penganiayaan tak manusiawi. Sebanyak 13 pengasuh yayasan daycare tersebut pun ditetapkan sebagai tersangka (liputan6.com, 26/4/26).  Kasatreskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Riski Adrian menceritakan, saat penggerebekan petugas mendapati anak-anak ini dalam kondisi terikat di ruang penitipan anak. Mereka diikat di tangan maupun kaki.

Belum selesai kasus daycare, pada Senin malam, 27 April terjadi kecelakaan kereta antara KRL commuter line arah Jakarta menuju Cikarang dengan kereta api jarak jauh Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat (news.detik.com, 28/4/26). Nahasnya peristiwa tersebut menimpa gerbong KRL khusus wanita sehingga korban berjatuhan bisa dipastikan semuanya adalah perempuan. Dari 16 orang meninggal dunia dan puluhan luka-luka, tak sedikit dari mereka adalah seorang ibu pekerja yang hendak pulang bertemu buah hati tercinta.

Melihat dua peristiwa yang menyesakkan dada tersebut, terdapat satu dilema yang serupa terutama bagi para perempuan pencari "nafkah". Akibat impitan ekonomi yang makin hari makin susah, mereka akhirnya terpaksa untuk turut serta menanggung beban sang tulang punggung keluarga, yakni suami, dan rela menitipkan anak-anak ke tempat pengasuhan. 
Tempat yang semestinya menjadi lingkungan yang aman dan dipercaya bagi para bayi dan balita selama orang tua mereka bekerja atau beraktivitas, nyatanya bak neraka yang meninggalkan trauma. Para orang tua pun jadi was-was untuk meninggalkan buah hatinya pada orang lain. Di satu sisi, mereka terpaksa tetap harus bekerja untuk menghidupi keluarga.

Beratnya sistem kehidupan hari ini yang mengandalkan kapitalisme sekularisme sebagai asas kehidupan, memaksa perempuan meninggalkan rumah, orang tua bahkan buah hati tercinta. Rasa aman dan nyaman, juga kesejahteraan yang seharusnya didapatkan oleh perempuan dan anak-anak, nyatanya sangat sulit untuk diraih. 
Bukan hanya tercerabutnya rasa aman bagi anak-anak dan fitrah perempuan sebagai ibu, pada sistem hari ini terenggutnya mental bahkan nyawa menjadi sesuatu yang sering kita dapati.

Lain halnya dalam sistem Islam. Perempuan dan anak-anak memiliki hak untuk hidup dengan rasa aman dan sejahtera. Perempuan tidak dilarang untuk bekerja, tetapi bukan juga untuk menjadi tulang punggung keluarga. Bekerja mencari nafkah tetap ada pada pundak laki-laki atau suami sebagai kepala keluarga karenanya hal itu merupakan kewajiban syari. Suami wajib memenuhi kebutuhan istri dan anak-anaknya, baik berupa sandang, pangan maupun papan hingga pendidikan sesuai kemampuannya.
Tidak hanya itu, Islam juga menetapkan peran negara sebagai penjamin kesejahteraan rakyat, termasuk dalam hal menyediakan lapangan pekerjaan bagi laki-laki agar mampu menjalankan kewajibannya sebagai kepala keluarga. 

Perempuan pada akhirnya dapat fokus dalam perannya sebagai ibu untuk mengurus rumah dan mengasuh anak-anaknya. Perempuan juga dituntut untuk memperkaya diri dengan berbagai ilmu, sebab menjalankan peran sebagai seorang anak, istri, dan ibu, membutuhkan bekal yang mumpuni. Dalam Islam, perempuan memiliki kemuliaan untuk menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya dalam mengajarkan tauhid dan syariat agar kelak mereka tumbuh menjadi hamba yang taat dan sesuai dengan fitrah.

Pada akhirnya, hak keamanan, kenyamanan, dan kesejahteraan yang seharusnya didapatkan terkhusus bagi wanita dan anak-anak hanya akan bisa terwujud pada sistem yang mampu melindungi dan menjaga mereka secara hakiki, yaitu dengan Islam sebagai pandangan hidup yang sempurna.
Wallahu a'lam bish showwab.

Tsaqifah N. Azzahra, S.Pd 
Pemerhati Keluarga

0 Komentar