Dari Peristiwa Nakba Hingga Kini Palestina Masih Terjajah

Mutiaraumat.com -- Liga Arab mendesak perlindungan internasional bagi rakyat Palestina dan meminta komunitas global untuk memaksa Israel agar menghentikan pendudukan ilegal mereka atas tanah Palestina, termasuk Yerusalem Timur (antaranews.com, 15-5-2026).

15 Mei 1948 atau sudah 78 tahun lalu, sekira 750 ribu hingga 1 juta warga Palestina diusir paksa oleh entitas Zi*nis Yahudi dari tanah kelahirannya. Hal itu dilakukan setelah sehari sebelumnya entitas tersebut memproklamasikan berdirinya negara ilegal bernama “Israel” di bawah dukungan negara-negara adidaya, Inggris dan sekutunya dari kalangan para pemimpin Arab. 

Hingga saat ini umat muslim di sana masih terus berjuang mengusir penjajah di tengah diamnya para pemimpin muslim dunia. 

Bagi rakyat Palestina, peristiwa Nakba bukan sekadar sejarah masa lalu, melainkan awal mula kekerasan dan perampasan hak yang masih terus dirasakan Palestina hinggga saat ini.

Genosida kembali terjadi pada rakyat Palestina pascaperistiwa Thufan al-Aqsha (7-10-2023) militer Zi*nis telah membunuh lebih dari 72.000 warga Gaza dan melukai lebih dari 172.700 lainnya. 

Lebih dari 70% persen korban, adalah perempuan dan anak-anak, 90% dari 2,3 juta warga Gaza lainnya hidup terlunta-lunta akibat serangan yang tidak berhenti meski di tengah gencatan senjata. Akibatnya, terjadi kerusakan infrastruktur masif dan bencana kelaparan.

Berbagai negara mengecam dan menyerukan penghentian genosida di Palestina dan PBB pun hanya mengeluarkan resolusi dan rasa empati tanpa tindakan tegas bagi penjajah Zi*nis. 

Muncul pula Board of Peace sebagai dewan perdamaian sedangkan dewan ini digagas oleh pendukung penjajahan dan salah satu anggotanya ada negara ilegal “Israel”, sang pelaku utama penjajahan di Palestina. Berharap perdamaian terwujud oleh BOP adalah mimpi belaka. 

Berlanjutnya penjajahan Palestina adalah potret kegagalan sistem yang sedang tegak dalam menciptakan kerahmatan di dunia, sekaligus menunjukkan kebisukan konsep negara bangsa yang membuat umat Islam kehilangam powernya.

Pembebasan Palestina tidak bisa diharapkan datang dari negara-negara adidaya, lembaga-lembaga internasional atau regional. Juga tidak akan datang dari para penguasa pengekor, organisasi regional. 

Semuanya terbukti mandul, bahkan keberadaan mereka ada yang turut mengukuhkan keberlangsungan penjajahan terhadap Palestina.

Persoalan Palestina akan terus menjadi persoalan dunia jika akar masalahnya tidak diselesaikan, yaitu menghilangkan penjajahan dan menghapus sistem yang mendukungnya.

Tentu diperlukan kekuatan besar yang berasal dari umat berupa tegaknya institusi kepemimpinan global dengan ideolagi Islam. Institusi kepemimpinan tersebut adalah Khilafah Islamiah. 

Pembebasan Palestina harus menjadi agenda yang include dalam penegakkan sistem kepemimpinan Islam. Hanya kepemimpinan Islam yang diharapkan bisa mengusir penjajahan dan mengalahkan kekuatan pendukungnya. 

Sejatinya, sistem Khilafah bukanlah sistem yang baru melaikan Sistem warisan Rasulullah ï·º yang pernah eksis selama 14 abad dan mampu memimpin peradaban cemerlang. Khilafah terbukti mampu menyatukan keragaman meski tetap dalam penerapan syariat Islam pada aspek kemasyarakatan. 

Nonmuslim yang hidup di dalamnya mendapat hak yang sama sebagaimana umat Islam, tidak boleh dizalimi dan dirampas hak-haknya. Maka itulah sebab kenapa umat saat ini butuh hidup di bawah naungan kepemimpinam 
Islam dan berusaha mengembalikan daulah Islam adalah wujud keimanan. 

Kepemimpinan Islam juga akan menyatukan dan memobilisir kekuatan umat Islam, sehingga kewibawaan umat kembali dan umat Islam siap merebut kepemimpinan dunia dan manebat rahmat ke seluruh alam.[]

Oleh: Puput Weni R
(Aktivis Muslimah)

0 Komentar