Pulang Lebaran Dalam Kejaran Utang


MutiaraUmat.com -- Mudik itu harusnya pulang membawa bahagia, tapi realitanya, banyak yang pulang justru membawa beban.

Bukan koper yang berat.
Tapi cicilan. Bukan oleh-oleh yang penuh. Tapi utang yang menumpuk.

Aneh ya sob, sebelum mudik, dompet sudah megap-megap.
Tapi tetap dipaksa berangkat, karena satu alasan klasik,
“Gak enak kalau pulang kampung kelihatan susah.”

Akhirnya apa? Baju baru harus ada. THR harus dibagi.
Postingan harus terlihat “berhasil”.

Foto keluarga harus tampak bahagia. Padahal, saldo tinggal sisa doa. 

Ini bukan lagi soal kebutuhan,
tapi soal gengsi yang dibungkus tradisi.

Coba jujur, berapa banyak yang sebenarnya mudik bukan karena rindu, tapi karena takut dianggap gagal? Takut ditanya,

“Kerja di kota, kok gak kelihatan hasilnya?”

Akhirnya, dipaksakan.
Yang penting terlihat “naik kelas”, meskipun setelah itu harus turun derajat
jadi dikejar utang.

Inilah penyakit gaya hidup zaman sekarang, yaitu besar pasak daripada tiang, tapi tetap dipaksakan berdiri tegak demi penilaian manusia.

Padahal Rasulullah Saw sudah mengingatkan,

"Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta,
tetapi kekayaan itu adalah kaya hati."
(HR. Bukhari & Muslim)

Masalahnya, hari ini yang dicari bukan kaya hati, tapi kaya di mata orang lain. Lebih dalam lagi sob, ini bukan sekadar masalah individu,
tapi hasil dari sistem yang membentuk pola pikir kita.

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa tujuan hidup manusia bukanlah mengejar materi atau pengakuan sosial,
melainkan meraih ridha Allah dengan menjalankan syariat-Nya secara kaffah.

Artinya, standar bahagia itu bukan “terlihat sukses”,
tapi benar di hadapan Allah.
Makanya jangan heran jika penghasilan naik, tapi tetap kurang.

Bonus masuk, tapi langsung habis. Gaji dua digit, tapi hati tetap sempit. Karena yang dikejar salah.

Imam Ibnu Atha'illah pernah berkata,

"Bagaimana mungkin hati akan bersinar, jika gambar dunia masih terpatri di dalamnya?"

Selama yang kita kejar adalah pengakuan manusia, maka rasa cukup itu akan selalu kabur. Lebaran harusnya jadi momen kembali ke fitrah,
kembali ke kesederhanaan, kembali ke kejujuran hidup. Bukan malah jadi ajang pembuktian palsu.

Jadi kalau tahun ini masih harus sederhana, tidak apa-apa. Kalau belum bisa bawa banyak oleh-oleh, tidak masalah. Kalau belum terlihat “wah” di mata orang kampung, tenang saja.

Karena yang lebih penting adalah kita pulang tanpa utang, dan kembali tanpa beban.
Sebab pada akhirnya sob
berapa pun besar penghasilan,
tidak akan pernah cukup untuk memenuhi gaya hidup. Tapi hati yang cukup akan selalu merasa kaya, meski hidup sederhana.

Lebaran bukan tentang terlihat berhasil. Tapi tentang pulang dengan hati yang masih utuh.
Bukan yang senyum di kampung, tapi nangis diam-diam di kota karena ditagih utang.

Kalau tulisan ini relate
berarti kita harus jujur pada diri sendiri bahwa yang perlu diperbaiki itu bukan penghasilan, tapi cara kita memaknai hidup.

Oleh: Nabila Zidane
Jurnalis

0 Komentar