Penjara Tanpa Ujung: Jeritan Palestina yang Tak Pernah Padam
MutiaraUmat.com -- Tanggal 17 April datang lagi. Bukan sebagai perayaan, bukan sebagai hari yang membawa kabar gembira, melainkan sebagai pengingat yang memilukan. Di balik tembok-tembok beton yang dingin, ribuan jiwa masih meringkuk dalam kegelapan. Hari Tahanan Palestina diperingati di berbagai penjuru dunia dan ribuan warga Palestina turun ke jalan dalam peringatan hari bersejarah ini, menyoroti nasib ribuan tahanan yang masih mendekam di penjara, sekaligus menolak keras kebijakan hukuman mati yang kian mencekam. (Antaranews, 17/4/2026)
Fakta Yang Membakar Nurani
Lebih dari 9.600 warga Palestina dan Arab masih mendekam di penjara Zionis, dalam kondisi yang oleh organisasi hak asasi manusia digambarkan sebagai "paling berbahaya". (Palinfo, 18/4/2026) Ini bukan sekadar angka. Di balik setiap digit itu ada ibu yang menangis setiap malam, ada anak yang tidak tahu kapan ayahnya akan pulang, ada seorang suami yang tak tahu apakah istrinya masih hidup.
Jumlah itu melonjak 83% dibanding sebelum Oktober 2023. Di antara para tahanan terdapat 86 perempuan, 350 anak di bawah 18 tahun, serta lebih dari 240 jurnalis. Anak-anak dipenjara tanpa dakwaan, tanpa pengadilan. Lebih dari 100 tahanan dilaporkan meninggal dunia. Mereka tidak gugur di medan perang dengan senjata di tangan. Mereka mati di balik jeruji, dalam sunyi yang tak terdengar dunia. Bahkan jenazah mereka pun ditahan. Menambah penderitaan keluarga yang belum dapat memakamkan anggota keluarganya secara layak. ". (Palinfo, 18/4/2026)
Siapa Yang Membangun Penjara Ini?
Kekejaman ini tidak tumbuh sendiri dari tanah Palestina. Ia adalah buah dari sebuah proyek besar, imperialisme global yang telah berurat-berakar sejak abad lalu. Disiram setiap hari oleh tangan-tangan kapitalisme Barat. Senjata yang menembak anak-anak Gaza dibeli dengan uang pajak rakyat Amerika. Jet tempur yang memorakporandakan rumah sakit dan sekolah dilengkapi suku cadang dari pabrik-pabrik Eropa. Penjajahan ini bukan sekadar konflik antar dua pihak. Ini adalah konflik antara yang terjajah dan seluruh tatanan dunia yang merestui penjajahan.
Dan ke mana PBB? Ke mana Mahkamah Internasional? Ke mana Dewan Keamanan yang katanya menjaga perdamaian dunia? Komunitas internasional terus didesak untuk mengambil langkah konkret, menekan pembebasan tahanan dan mengakhiri penahanan administrative. Namun seruan ini terus bergema tanpa respons yang memadai. HAM yang lantang dikampanyekan Barat ternyata hanya berlaku untuk manusia-manusia pilihan. Untuk Palestina, HAM adalah slogan yang kehilangan maknanya di pintu gerbang Tel Aviv.
Akar dari semua ini bukan sekadar soal pelanggaran hukum atau krisis kemanusiaan biasa. Akar sesungguhnya adalah absennya pelindung yang sesungguhnya bagi umat Islam. Selama lebih dari satu abad, umat Islam menghadapi penjajahan tanpa tameng, tanpa pedang, tanpa pemimpin yang memiliki kewenangan dan keberanian untuk berkata: "Cukup. Tidak boleh ada lagi yang menyentuh mereka!"
Bangkit Dari Tidur Panjang
Pertama, sudah waktunya umat Islam menegaskan kepada diri sendiri bahwa Palestina bukan semata-mata isu kemanusiaan internasional. Palestina adalah qodhiyyah islamiyyah yakni persoalan Islam yang menyentuh akidah dan kehormatan umat. Kepedulian terhadapnya tidak boleh hanya muncul ketika gambar mayat viral di media sosial, lalu padam seiring berlalunya trending topic.
Kedua, umat Islam tidak boleh terus berdiplomasi di hadapan lembaga-lembaga internasional yang telah terbukti mandul dan berpihak. Suara yang harus lantang dikumandangkan adalah suara solusi yang sesungguhnya: jihad fisabilillah, bukan sekadar posting di media sosial atau petisi online.
Ketiga, dan ini yang paling hakiki, pembebasan Palestina secara tuntas hanya akan menjadi kenyataan ketika ada institusi yang memiliki kekuatan, kewenangan, dan kewajiban syar'i untuk menggerakkan pasukan membebaskan tanah yang terjajah. Institusi itu adalah Khilafah Islamiyyah. Tanpanya, umat Islam akan terus menjadi penonton yang menangis tanpa daya, sementara saudara-saudara mereka terus membusuk di dalam penjara-penjara yang dijaga oleh bayonet penjajah.
Bagi keluarga para tahanan, angka-angka itu bukan statistik. Mereka adalah wajah-wajah yang dirindukan, suara yang terputus, dan harapan yang tertahan di balik jeruji besi. Dan bagi kita yang masih bebas, masihkah kita hanya akan menonton? Palestina bukan isu kemarin. Palestina adalah pertanyaan yang terus menuntut jawaban dari setiap jiwa yang mengaku peduli. Wallahu a’lam bisshawab
Oleh: Kina Kirana
Aktivis Muslimah
0 Komentar