Memperingati Tahanan Palestina yang Dibawa ke Penjara Kekejaman Zionis


MutiaraUmat.com -- Tanggal 17 April diperingati sebagai hari tahanan Palestina. Masyarakat di berbagai negara melakukan protes menuntut pembebasan Palestina, terutama setelah zionis mengesahkan UU hukuman mati bagi tahanan Palestina. (CNNindonesia.com, 24/04/2026)

Sejak saat itu, hari memperingati tahana Palestina menjadi hari solidaritas nasional dan internasional, menyoroti perjuangan Palestina melawan para penduduk zionis Israel yang terus berlanjut atas tanah palestina. Hingga awal April lebih dari 9.600 warga Palestina berada dalam tahanan Israel, mereka yang ditahan Sebanyak 3.532 orang dan merupakan tahanan adminuistrat ditahan tanpa dakwaan atau pengadilan.

Diantaranya adalah anak-anak terdapat 342 orang, 84 perempuan dan 119 orang menjalani hukuman di penjara seumur hidup. Ironisnya Kondisi rakyat Palestina di penjara Zionis sangat mengenaskan, mereka diperkosa, dipukuli, disiksa, dilaparka, hingga meninggal dunia.

Imperialisme, Praktik Para Zionis Israel

Penjajahan dan kekejaman zionis atas Palestina yang terus berlangsung adalah proyek imperialisme global yang ditopang penuh oleh negara Kapitalisme Barat. Penindasan yang terjadi di tanah Palestina, lebih dari sekedar penjajahan. Namun, tidak terlepas dari kepentingan geopolitik. Apa yang menimpah Palestina adalah dampak diterapkan praktik imperialisme dari negara-negara yang mendukung para zionis Israel.

Penjajahan atas negeri-negeri Muslim oleh imperialis Barat terus berlangsung hingga saat ini. Ini akibat dari negeri-negeri Muslim yang tercerai-berai dalam ikatan sempit nasionalisme. Karena itu, tak ada jalan lain kecuali umat Islam bersatu dan bangkit untuk melawan. Saatnya umat membangun kekuatan mandiri dengan semua potensi yang mereka miliki. 

Sistem hukum internasional dan lembaga-lembaga seperti PBB hanyalah instrumen yang tidak mampu dan tidak mau melindungi umat Islam yang terjajah. HAM yang selalu dinarasikan Barat berstandar ganda. Penerapan ini seringkali didasakan pada kepentingan relatif para penjajan dan didalamnya terdapat dinamika penerapan geopolitik, bukan pada prinsip kemanusuaan yang secara universal.

Akar masalah Palestina bukan sekadar pelanggaran HAM, melainkan ketiadaan pelindung (junnah) bagi umat Islam yakni Khilafah Islamiyyah. Runtuhnya kekhalifahah menghilangkan pelindung fisik bagi umat Islam. Mengakibatkan umat Islam terpecah belah menjadi beberapa negara dan bangsa yang diikat dengan paham nasionalisme yang melemahkan ukhuwah islamiyah, sehingga umat muslim yang ada di Palestina tertindas tanpa adanya pembelaan secara struktural yang kuat.


Khilafah Jalan Satu-satunya Pembebasan Palestina

PBB dan hukum internasional terbukti gagal dalam menghentikan kekejama Israel, karena lembaga-lembaga tersebut tidak mampu memberikan solusi secara parsial. Sebab, hanya Khilafah Islamiyyah yang akan memimpin jihad dan yang mampu menggerakkan pasukan militer dari negara-negara muslim. Membebaskan Tanah palestina dari penjajahan Zionis secara kaffah, tanpa adanya pembedaan antara negara kau muslimi lainya.

Dasar akidah Islam mengajarkan kepada kita bahwa sesama Muslim adalah satu kesatuan yang utuh, bersaudara dan saling terkait. Rasulullah SAW bersabda bahwa perumpamaan orang beriman dalam hal saling mencintai dan menyayangi adalah seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasakan sakitnya.

Umat Islam tidak boleh berdiam diri, berdiplomasi atau menyerahkan masalah ini pada PBB, melaikan harus menyuarakan solusi jihad. Sebab hanya jihadlah yang mampu mengarahkan seluruh pasukan militer di negara-negara muslim untuk membebaskan palestina dibawah kepemimpinan kholifah. Maka pentingnya menerapkan khilafah untuk menyelesaikan problematikan umat yang ada di tengah-tengah masyarakat.

Solusi tuntas pembebasan Palestina hanya akan terwujud dengan tegaknya Khilafah Islamiyyah. Khilafah adalah satu-satunya institusi yang memiliki kewenangan, kekuatan, dan kewajiban syar'i untuk mengerahkan pasukan jihad membebaskan Palestina. Sebab hanya Islamlah yang mampu menyeruakan kebenaran dalam menyelesaikan problematika umat ini.

Kekuatan umat Islam sejatinya bukan kecil. Sesungguhnya umat Islam miliki potensi kekuatan yang sangat besar, yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Salah satunya adalah kekuatan militer di berbagai negera Islam di seluruh penjuru dunia.

Sayangnya, potensi umat yang luar biasa besar tersebut tidak pernah benar-benar digunakan untuk membela Islam dan kaum Muslim. Sebaliknya, potensi itu justru dimanfaatkan untuk menjaga stabilitas sistem global yang didominasi oleh kekuatan kafir penjajah di bawah hegemoni Amerika. Inilah, tragedi terbesar umat hari ini. Bukan karena ketiadaan kekuatan, tetapi karena ketiadaan kepemimpinan yang menyatukan umat Islam sehingga kaum muslimin hari ini lebih memilih mengikuti peraturan yang berlandaskan sekuler.

Oleh: Saufinah
Aktivis Muslimah

0 Komentar