Lebaran di Tengah Banyaknya Keluarga yang Terlilit Utang, Sistem Islam Solusinya


MutiaraUmat.com -- Menjelang Lebaran 2026, banyak rumah tangga di Indonesia menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat akibat kenaikan harga kebutuhan, biaya perjalanan, dan melemahnya nilai tukar rupiah, sementara bantuan pemerintah dinilai belum sepenuhnya efektif. Ekonom menilai kondisi ini membuat masyarakat mengandalkan tabungan bahkan berutang untuk memenuhi kebutuhan, karena pendapatan tidak sebanding dengan pengeluaran yang meningkat. Meski pemerintah menawarkan berbagai diskon transportasi dan program bantuan, manfaatnya dianggap terbatas karena hanya berlaku pada waktu tertentu dan tidak menjangkau semua kalangan pekerja. Akibatnya, momen Lebaran yang seharusnya membawa kebahagiaan justru terasa membebani secara finansial bagi banyak keluarga.
(www.inilah.com, 14/03/2026)

Satu fenomena yang terus berulang di tengah masyarakat menjelang Ramadan dan Idulfitri, adalah meningkatnya kebutuhan yang tidak sebanding dengan kemampuan ekonomi. Data menunjukkan bahwa aktivitas pinjaman seperti pinjol, multifinance, hingga gadai mengalami peningkatan. Di balik semaraknya persiapan Lebaran, banyak keluarga justru sedang berjuang keras memenuhi kebutuhan, bahkan tidak sedikit yang terpaksa mengandalkan utang. Tabungan yang terkuras perlahan digantikan dengan pinjaman, menjadikan momen yang seharusnya penuh kebahagiaan berubah menjadi beban yang menyesakkan.

Kondisi ini tidak muncul tanpa sebab. Harga kebutuhan pokok yang terus naik, biaya mobilitas yang tinggi terutama saat mudik, serta melemahnya nilai mata uang menjadi tekanan yang datang secara bersamaan. Bantuan sosial yang diharapkan mampu meringankan beban pun belum sepenuhnya tepat sasaran. Pada akhirnya, banyak keluarga berada dalam posisi terdesak, di mana pengeluaran meningkat sementara pendapatan tidak mengalami kenaikan yang berarti. Dalam situasi seperti ini, utang menjadi jalan pintas yang dianggap paling mudah, terlebih di era digital saat akses terhadap pinjaman semakin cepat dan tanpa banyak syarat.

Namun, kemudahan ini justru menyimpan bahaya besar. Utang berbunga atau riba tidak hanya memberatkan secara finansial, tetapi juga menggerus keberkahan hidup. Keluarga yang awalnya hanya ingin memenuhi kebutuhan sesaat, perlahan terjebak dalam lingkaran utang yang sulit diputus. Perputaran ekonomi rakyat pun tidak lagi bertumpu pada produktivitas, melainkan pada pinjaman yang terus berulang. Inilah yang menjadikan banyak keluarga semakin bergantung pada utang, bahkan untuk memenuhi kebutuhan rutin sehari-hari.

Jika dilihat lebih dalam, persoalan ini bukan sekadar kesalahan individu dalam mengelola keuangan, melainkan menunjukkan adanya kerusakan pada sistem yang mengatur kehidupan ekonomi. Sistem yang ada saat ini belum mampu memberikan jaminan kesejahteraan yang merata. Distribusi kekayaan cenderung tidak seimbang, sementara negara lebih banyak berperan sebagai pengatur daripada penanggung kebutuhan rakyat. Akibatnya, masyarakat dipaksa bertahan dengan kemampuan sendiri di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat.

Dalam pandangan Islam, kondisi ini menjadi peringatan bahwa sistem berbasis riba tidak akan pernah membawa keberkahan. Allah SWT telah menegaskan bahwa riba akan dimusnahkan, sementara sedekah justru akan menyuburkan harta. Islam tidak hanya melarang riba, tetapi juga menawarkan solusi menyeluruh melalui sistem ekonomi yang adil dan menyejahterakan. Dalam sistem ini, negara memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan setiap individu terpenuhi kebutuhan dasarnya, menyediakan lapangan kerja yang layak, serta menjaga stabilitas harga dan nilai mata uang.

Sejarah menunjukkan bahwa ketika sistem Islam diterapkan, negara benar-benar hadir sebagai pelindung rakyat. Kebutuhan pokok terjamin, distribusi kekayaan berjalan adil, dan masyarakat tidak dipaksa bergantung pada utang untuk bertahan hidup. Pemimpin dalam Islam dipandang sebagai pengurus rakyat yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kesejahteraan mereka. Dengan demikian, problem ekonomi tidak dibiarkan menjadi beban individu semata, tetapi diselesaikan secara sistemik oleh negara.

Di sisi lain, Islam juga mengembalikan makna Lebaran kepada hakikatnya yang sejati. Idulfitri bukanlah tentang kemewahan, pakaian baru, atau hidangan berlimpah, melainkan tentang kemenangan dalam ketaatan dan meningkatnya ketakwaan kepada Allah SWT. Lebaran adalah momen kembali kepada fitrah, di mana kebahagiaan tidak diukur dari materi, tetapi dari kedekatan dengan Sang Pencipta. Ketika sistem kehidupan selaras dengan syariat, maka Lebaran tidak lagi menjadi sumber tekanan ekonomi, melainkan benar-benar menjadi hari kemenangan yang penuh keberkahan.

Realita hari ini menunjukkan bahwa selama sistem yang digunakan masih berlandaskan kapitalisme dan riba, maka masalah utang dan tekanan ekonomi akan terus berulang setiap tahunnya. Kesejahteraan yang hakiki tidak cukup dibangun dengan program sesaat, tetapi membutuhkan perubahan sistem yang mendasar. Hanya dengan penerapan sistem Islam secara kaffah, yang didukung oleh kepemimpinan yang amanah, keseimbangan ekonomi, keadilan distribusi, dan keberkahan hidup dapat benar-benar terwujud. Dengan demikian, Ramadhan dan Idulfitri tidak lagi menjadi momen yang memberatkan, tetapi menjadi jalan menuju ketakwaan dan kesejahteraan yang sesungguhnya.

Wallahu a'lam bishshawab.[]


Oleh: Yusniah Tampubolon
Aktivis Muslimah

0 Komentar