Idulfitri di Tengah Reruntuhan, Luka Gaza dan Pudarnya Ukhuwah Umat
MutiaraUmat.com -- Di saat kaum Muslimin di berbagai belahan dunia menyambut hari kemenangan dengan sukacita, suasana berbeda justru menyelimuti Gaza. Takbir Idulfitri tetap berkumandang, namun bukan dari masjid-masjid megah atau rumah yang hangat, melainkan dari tengah reruntuhan bangunan dan tenda-tenda pengungsian (detik.com, 20/03/2026).
Anak-anak mengenakan pakaian seadanya, para ibu menahan duka, dan para ayah memikul beban kehilangan yang tak terucap. Idulfitri yang seharusnya menjadi momentum kebahagiaan, justru berubah menjadi pil pahit akan derita yang tak kunjung usai.
Fakta warga Gaza merayakan Idulfitri di tengah blokade dan krisis kemanusiaan bukanlah hal baru. Namun, setiap tahunnya, luka itu semakin dalam. Serangan demi serangan, pembatasan demi pembatasan, serta hilangnya tempat tinggal dan anggota keluarga menjadikan kehidupan mereka jauh dari kata layak. Duka seolah menjadi bagian dari rutinitas, sementara dunia perlahan terbiasa dengan penderitaan mereka.
Lebih menyakitkan lagi, perhatian dunia terhadap Gaza semakin memudar ketika konflik global bergeser. Amerika Serikat (AS) dan Israel tak henti merancang berbagai skenario terhadap dinamika geopolitik dunia, seperti ketegangannya dengan Iran, membuat tragedi kemanusiaan di Gaza seakan tersisih karena Timur Tengah seolah memang dibuat terus memanas dan membuat umat muslim tercerai-berai. Palestina saat ini seakan bukanlah isu krusial (amat penting dan genting), melainkan sekadar bagian dari berita yang datang dan pergi.
Ironi pun semakin bertambah ketika sebagian negara Arab, khususnya di kawasan Teluk, justru memilih bersekutu dengan kekuatan besar tersebut (negara adidaya AS). Alih-alih menjadi pelindung bagi saudara seiman, mereka terjebak dalam kepentingan politik dan ekonomi yang menjauhkan mereka dari tanggung jawab moral terhadap Gaza. Ukhuwah yang seharusnya menjadi pengikat kuat umat Islam justru tampak rapuh di hadapan kepentingan duniawi.
Padahal, Islam telah menegaskan kaum Muslimin ibarat satu tubuh. Ketika satu bagian merasakan sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakannya. Idulfitri dalam kondisi seperti ini seharusnya tidak hanya dirasakan oleh warga Gaza, tetapi juga oleh seluruh umat Islam di dunia sebagai duka bersama. Tidak pantas bagi sebagian umat merayakan kemenangan dengan kemewahan, sementara saudara mereka merayakannya dengan air mata.
Al-Qur’an memberikan pedoman yang jelas dalam menyikapi kondisi ini. Dalam surah al-Fath ayat 29, Allah menggambarkan kaum Mukmin sebagai pribadi yang berkasih sayang di antara mereka dan tegas terhadap pihak yang memusuhi Islam. Ini bukan sekadar ajaran moral, tetapi prinsip yang seharusnya diwujudkan dalam kehidupan nyata. Ukhuwah Islamiyah bukan sekadar slogan, melainkan ikatan yang menuntut tindakan nyata dalam membela dan melindungi sesama Muslim.
Lebih dari itu, Allah SWT juga memerintahkan kaum Mukmin untuk berjihad sebagaimana disebutkan dalam surah at-Taubah ayat 123. Jihad dalam konteks ini bukan hanya dimaknai sebagai perjuangan fisik yang dilakukan oleh satu negara semata, tetapi juga mencakup segala upaya seluruh umat Islam untuk membebaskan siapa saja yang tertindas, menghentikan kezaliman, dan menegakkan keadilan. Namun, perjuangan ini tidak akan optimal jika umat Islam terus terpecah dalam batas-batas nasionalisme dan kepentingan politik yang sempit.
Sejarah Islam menunjukkan, kekuatan umat terletak pada persatuan. Ketika umat berada dalam satu kepemimpinan yang adil dan berlandaskan syariat, mereka mampu melindungi wilayahnya, menjaga kehormatan umat, dan menghadirkan rasa aman bagi seluruh rakyat baik muslim maupun bukan. Sebaliknya, ketika umat tercerai-berai, maka penderitaan seperti yang dialami Gaza menjadi sulit untuk dihentikan.
Idulfitri di Gaza seharusnya menjadi cermin bagi dunia Islam. Ia bukan sekadar peristiwa kemanusiaan, tetapi juga pengingat akan pentingnya persatuan dan kepemimpinan yang berorientasi pada kepentingan umat. Selama umat Islam belum kembali kepada ikatan ukhuwah yang sejati dan sistem yang menyatukan seluruh umat, maka luka Gaza akan terus terbuka, dan Idulfitri akan terus dirayakan dalam bayang-bayang penderitaan.
Sudah saatnya umat Islam tidak hanya bersimpati, tetapi juga berintrospeksi. Sebab selama penderitaan Gaza masih dianggap sebagai masalah mereka, bukan kita, maka sejatinya kita telah kehilangan makna ukhuwah itu sendiri.[]
Oleh: Alin Aldini, S.S.,
Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok
0 Komentar