Bukan Karier, Ini Standar Wanita Sukses Menurut Islam

MutiaraUmat.com -- Dulu Kartini berjuang agar perempuan bisa belajar. Sekarang, perempuan sudah belajar tinggi. Gelar berjejer. CV rapi. LinkedIn kinclong.

Tapi anehnya, semakin tinggi pendidikan, kok makin banyak yang bingung arah hidupnya?
Karena diam-diam, standar “wanita sukses” sudah digeser.

Katanya sukses itu kalau punya karier mentereng, teman segudang, jadwal arisan penuh,
dan feed Instagram estetik.
Kalau belum begitu? Dibilang “Kurang pergaulan”.

Padahal dalam Islam ukuran sukses bukan itu. Rasulullah Saw bersabda,
Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim)

Ulama menjelaskan, wanita shalihah itu bukan yang paling sibuk di luar, tapi yang paling lurus hubungannya dengan Allah dan keluarganya.

Kalau diringkas dan ini sering bikin banyak orang kaget bahwa wanita sukses dalam Islam itu cukup dua,

Pertama, mendapat ridha suami

Kedua, berhasil menanamkan akidah yang kokoh pada anak-anaknya.

Sederhana? Iya.
Mudah? Jangan salah, ini levelnya berat.

Ridha suami bukan berarti jadi “Yes woman” tanpa akal. Tapi mampu menjaga kehormatan rumah tangga, menjadi penenang, bukan penambah masalah.

Karena dalam Islam, suami itu bukan cuma pasangan, tapi pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban, dan istri adalah partner yang menentukan arah kapal itu.

Lalu bagian kedua, nah ini yang sering diremehkan sobat Nabila. Ketahuilah, zaman serba liberal begini menanamkan akidah pada anak itu bukan sekadar: anaknya ranking satu,
jago bahasa Inggris, atau hafal rumus matematika. 

Tapi apakah dia kenal Allah? Apakah dia takut berbuat dosa saat tidak diawasi?Apakah dia punya kompas hidup?
Karena anak pintar tanpa iman 
bisa jadi bahaya bagi dirinya dan orang lain.

Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan bahwa anak itu amanah, hatinya bersih, dan siap dibentuk.nKalau dibiasakan pada kebaikan, dia akan tumbuh di atasnya. Kalau dibiarkan, ya jangan kaget kalau arah hidupnya hilang.

Makanya, dalam Islam, Ibu itu bukan sekadar “di rumah”. Ibu itu madrasah pertama dan utama.
Bukan sekolah biasa. Ini Sekolah Tinggi paling menentukan masa depan umat.

Di tangan ibulah akan lahir generasi beriman atau generasi yang kosong arah.
Lucunya sekarang banyak yang bangga bilang,

“Aku wanita sibuk, jadwalku padat!”

Tapi lupa bertanya,

“Anakku sedang tumbuh jadi apa?”

Padahal kelak di akhirat sang ibu bukan ditanya,
“Seberapa panjang gelarmu?”
“Seberapa tinggi kariermu?”
“Seberapa ramai pergaulanmu?”

Tapi

“Apa yang kamu tanam dalam jiwa anak-anakmu?”

Ini bukan berarti wanita haram berkarier. Bukan.
Tapi jangan sampai yang utama ditinggalkan,
yang pelengkap justru dikejar mati-matian. Kartini dulu memperjuangkan perempuan agar tidak bodoh.

Islam sejak awal sudah memuliakan perempuan bukan hanya agar cerdas,
tapi agar menjadi pilar peradaban.

Jadi kalau hari ini ada yang tanya,

“Wanita sukses itu seperti apa sih?”

Jawab saja pelan-pelan, tapi dalam, yaitu bukan yang paling terlihat hebat di luar. Tapi yang paling kuat membangun dari dalam.

Karena ibu tidak sedang membesarkan anak.
Ibu sedang membangun masa depan umat dan itu tidak bisa digantikan siapa pun.

Mau jadi wanita hebat? Silakan.
Mau punya karier? Boleh.
Tapi jangan lupa, kalau rumahmu kosong dari iman, maka dunia yang kamu kejar
tidak akan pernah cukup memperbaiki semuanya.

Oleh: Nabila Zidane
Jurnalis

0 Komentar