Perjanjian Hudaibiyah dan BoP, Samakah?


MutiaraUmat.com -- Banyak masyarakat yang menganggap bahwa bergabungnya Indonesia dalam perjanjian BoP yang dibuat Amerika adalah sebuah strategi jitu untuk membebaskan Palestina dari penjajah kafir zionis Yahudi Israel. Sebagaimana perjanjian Hudaibiyah yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw dengan kafir Quraisy pada saat sebelum penakluk Mekkah.

Dengan alasan ketika bergabung dengan organisasi BoP tersebut akan dengan mudah memerdekakan Palestina. Sebab, mudah mengetahui apa saja rencana-rencana serta kebijakan atau solusi yang akan diberlakukan bagi Palestina. Sehingga, seandainya tidak setuju dengan kebijakan tersebut, maka peserta bisa melakukan instrupsi kepada ketua BoP-nya yaitu AS. 

Hanya saja benarkah perjanjian BoP sama dengan perjanjian Hudaibiyah yang kelak menguntungkan bagi Indonesia dan Palestina, sebagaimana perjanjian Hudaibiyah Rasulullah dengan kaum kafir Quraisy? Atau malah merugikan Indonesia dan Palestina dan negeri Muslim lainnya? Atau bahkan menguntungkan AS sebagai ketua BoP yang sejatinya melalui dialah penjajahan Palestina dan beberapa negeri Muslim senantiasa terus terjadi.

Oleh karena itu, marilah kita mencermati dan membandingkan perjanjian BoP yang dilakukan oleh pemimpin kita saat ini dengan AS dan perjanjian Hudaibiyah yang dilakukan oleh Rasulullah Saw dengan pemimpin kafir Quraisy. 

Walaupun perjanjian Hudaibiyah yang dilakukan oleh Rasulullah Saw, secara eksplisit terlihat sangat merugikan kaum Muslim. Sehingga, dikabarkan dalam sejarah bahwa Umar bin Khattab ra. senantiasa melakukan instrupsi kepada Rasulullah dan merasa kecewa dengan isi perjanjian yang telah disepakati oleh Rasulullah tersebut. 

Namun, ternyata perjanjian tersebut sangat banyak menguntungkan bagi dakwah Islam dan kaum Muslim. Yang akhirnya bisa leluasa berdakwah, memperluas wilayah kepemimpinan Islam. Mengislamkan banyak tokoh-tokoh Arab, baik didalam dan diluar Mekkah. Juga, berhasil menaklukkan institusi besar Yahudi Khaibar. Serta menjadikan Mekkah sebagai bagian dari daulah Islam dengan sangat mudah. 

Sehingga, melalui perjanjian Hudaibiyah inilah Rasulullah dan kaum Muslim hingga masa kekhilafahan terakhir Usmaniyah bisa leluasa menyampaikan dakwah dan melaksanakan haji dan umrah dengan aman dan nyaman. Yang sebelum terjadinya penaklukan Mekkah, Rasulullah, dakwah Islam dan umatnya selalu mengalami intimidasi dan kriminalisasi dari penguasa kaum kafir Quraisy. 

Yang dengan fakta inilah sebagian kaum Muslim negeri ini khususnya, menganggap bahwa bergabungnya Indonesia dengan BoP yang isi perjanjiannya penuh dengan kontroversi, merugikan Indonesia dan Palestina. Dianggap sebagai suatu strategi yang menguntungkan kelak yang tidak diketahui oleh masyarakat, sebagaimana perjanjiannya Hudaibiyah, yang hanya Rasulullah lah yang mengetahuinya.

Karena itu, untuk menyelesaikan perkara ini sehingga bisa menempatkan diri serta dukungan dengan benar, maka perlu diperjelas dan dipertegas apakah memang ada persamaan perjanjian BoP yang ditengarai oleh AS dengan perjanjian Hudaibiyah yang dilakukan oleh Rasulullah Saw?

Dalam perjanjian BoP, ada beberapa point yang menurut para pakar merugikan negeri ini dan juga Palestina serta kaum Muslim secara keseluruhan. Dalam perjanjian ini dinilai hanya menguntungkan AS sebagai negara yang telah membentuk BoP, dikarenakan kebijakan yang dibuat hanya sebelah pihak yaitu AS, sementara negara anggota hanya wajib menerima saja apapun kebijaksanaan yang akan diberlakukan oleh AS. 

Di antaranya disebutkan bahwa Presiden AS Donald J. Trump sebagai Ketua perdana BoP sekaligus perwakilan resmi AS. Dalam struktur organisasi, Ketua memegang kewenangan yang sangat luas. Mulai dari mengundang negara anggota, menyetujui kebijakan utama, hingga membentuk dan membubarkan entitas di bawah BoP. Bahkan, pembubaran BoP dapat dilakukan berdasarkan penilaian sepihak dari Ketua. (Kompas.com, 20 Februari 2026)

Kemudian negara yang mau bergabung menjadi anggota BoP tersebut, wajib memberikan dana sebagai komitmen menjadi anggota, yang jumlahnya mencapai sebesar USD 7 miliar atau sekitar 84-110 triliun rupiah. Dana tersebut diklaim untuk pembangunan kembali Gaza. Yang sejatinya belum jelas Gaza yang mana yang hendak dibangun. Apakah Gaza yang telah diduduki zionis Yahudi dan pastinya untuk warga Yahudi, bukan untuk warga Palestina. 

Sebab, AS menyatakan akan tetap menjaga keamanan stabilitas diwilayah Gaza yang selama ini makna kemananan stabilitas yang dilakukan AS di suatu negeri, adalah dengan menjaga keamanan AS dengan menempatkan tentaranya disana. Dan pastinya untuk meredam perjuangan Palestina serta menjaga keamanan dan stabilitas zionis Yahudi yang selama ini telah disokong baik dengan dana maupun dengan Alusista yang berasal dari AS untuk menghancurkan Gaza, Palestina.

Kemudian, isi dari perjanjian BoP tersebut yang tetap menjadikan dua negara sebagai solusi (two state solution). Yang selama ini, tidak pernah membuahkan hasil dan tidak pernah menguntungkan Palestina. Dan kalaupun itu terjadi, sama saja menjadikan Palestina tetap dalam kondisi terjajah. Sebab solusi dua negara selain hanya sekedar teori, juga solusi yang mustahil bisa dilaksanakan. Karena, sejatinya Palestina adalah negara terjajah, dan penjajahnya adalah zionis Yahudi itu sendiri yang telah disokong oleh ketua BoP, AS.

Jika memang menginginkan kemerdekaan bagi bagi Palestina, maka sejatinya harus melenyapkan penjajahnya yang tidak lain adalah zionis yahudi yang selama ini disokong penuh oleh AS untuk menggenosida Palestina. Namun, hal ini tidak dilakukan oleh AS. AS justru menjaga zionis walaupun nyawa dan kehormatan negaranya dipertaruhkan. Dengan terus memudahkan zionis Yahudi menguasai 90 persen wilayah Gaza, Palestina.

Dan hal ini tentu sangat berbeda perjanjian BoP yang dibuat oleh induk penjajah, AS, dengan perjanjian yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. Sebab, Rasulullah Saw keputusannya dibimbing Wahyu. Sementara pemimpin kita saat ini tidak ada wahyu yang membimbingnya, serta pandangan politik luar negeri yang bertentangan dengan Islam.

Hubungan politik luar negeri daulah Islam dengan negara kafir harbi fi'lan seperti AS adalah "Perang", bukan kerjasama diplomasi atau perdamaian. Jadi, sangat bertentangan sekali dengan apa yang telah Islam tetapkan dan Rasulullah contohkan.

Apalagi dengan kerja sama ini Indonesia diminta untuk mengirimkan tentaranya dalam rangka menjaga stabilitas keamanan gencatan senjata di Palestina, yang kemungkinan besar akan menjadi bumerang bagi pasukan Indonesia jika suatu saat terjadi lagi bentrok antara Hamas dengan Yahudi siapa yang akan didukung atau dibela oleh tentara Indonesia? Sebab, selama ini yang terjadi adalah zionis Yahudi selalu yang pertama mengingkari perjanjian dan memulai perang. (Kompas, 3 Maret 2026)

Karena itu sudah sangat jelas bahwa bergabungnya Indonesia dengan BoP seumpama mengantarkan diri ke kandang macan yang siap disantap kapan saja. Dan bukan hanya itu, bekerja sama dengan negara kafir harbi fi'lan seperti AS dilarang tegas oleh Allah SWT. Sebagaimana firmannya dalam surat Al-Ma'idah ayat 51:

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin kalian. Sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka...". 

Begitu juga firman Allah:

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu'min. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?" (QS. An-Nisa' ayat 144).

Allah juga telah firman Allah:

"Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah..." (QS. Ali 'Imran ayat 28).

Dan firman Allah:

"Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu..." (QS. Al-Mumtahanah ayat 9)

Lebih tegas lagi Allah menyatakan kalau orang kafir dari kalangan Yahudi dan Nasrani (AS) itu, tidak pernah senang dengan kaum Muslim. Sebagaimana Firman Allah:

"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah ridha kepadamu (Muhammad) sampai engkau mengikuti Millah (jalan hidup) mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).” Dan sekiranya engkau mengikuti hawa nafsu mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah." (Al-Baqarah ayat 120)

Jadi, sudah sangat jelas bahwa bekerja sama dengan AS sebagai negara kafir harbi fi'lan selain tidak menguntungkan bahkan malah merugikan, juga dilarang oleh Allah pastinya mendapat azab baik di dunia berupa keburukan dan kesengsaraan dan juga diakhirat kelak mendapat azab yang pedih. Na'udzubillahi min dzalik. Wallahu a'lam bishshawab.[]
 

Fadhilah Fitri, S.Pd.I.
Aktivis Muslimah

0 Komentar