Mudik Bukan Ajang Adu Gaya
MutiaraUmat.com -- Sudah menjadi habit masyarakat Indonesia jika menjelang lebaran mereka akan berbondong-bondong mudik ke kampung halaman tercinta untuk bertemu orang tua, saudara, handai taulan maupun tetangga. Momen tahunan ini tentu saja sangat ditunggu-tunggu oleh hampir tiga ratus juta rakyat Indonesia.
Persiapan untuk pulang kampung biasanya dilakukan semaksimal mungkin, bahkan jauh sebelumnya mereka sudah menyisihkan sebagian penghasilan demi bisa berkumpul dengan orang-orang tersayang saat hari Raya Idulfitri. Merencanakan transportasi yang akan digunakan, dana baju baru, bingkisan untuk orang tua dan kerabat, budget untuk berwisata, serta mempersiapkan uang lebih untuk memenuhi berbagai kebutuhan lainnya jika ada biaya tak terduga yang harus dikeluarkan. Demi mudik, upaya pun dilakukan begitu rupa.
Semua itu dilakukan oleh kaum urban karena ada sebagian dari mereka yang menilai jika pulang ke kampung halaman haruslah terlihat sukses dari sisi materi di mata keluarga, saudara, tetangga, serta sesama para pemudik di sekitar tempat tinggal.
Alhasil, esensi mudik pun bergeser, yang sedianya untuk silaturahim demi melepas rindu setelah setahun tak bertemu, menjadi ajang pamer atau adu gaya antar saudara dan tetangga. Andaipun ada momen berkumpul dengan keluarga besar, yang dibahas tak jauh dari soal keberhasilan meraih materi, kesuksesan karier, keharmonisan keluarga, gelar akademik yang sudah dicapai, keturunan yang belum jua dianugerahkan, bahkan tak jarang soal jodoh yang tak kunjung datang pun menjadi perbincangan di sela-sela obrolan. Namun sayangnya, dari semua yang diperbincangkan hanya dari sudut keberhasilannya saja yang dibahas, seakan hal itu untuk memublikasikan pada orang lain jika selama di tanah rantau dirinya sudah sukses dari berbagai sisi.
Apa yang dilakukan pemudik seperti itu di hadapan orang lain, tentu akan membuat rendah diri pemudik lainnya yang belum merasa sukses di perantauan. Jangankan untuk menceritakan soal kesejahteraan, bisa pulang kampung dengan membawa anak istri saja sudah merupakan prestasi diri di tengah segala persoalan negeri yang hingga kini belum menemukan solusi, salah satunya adalah persoalan kesulitan ekonomi rakyatnya.
Begitulah memang karakter para pemudik yang banyak terjadi di era sekularisme saat ini, mudik menjadi pamer adu gaya antar sesama. Hal ini tak lepas dari mindset mereka yang menilai bahwa tolok ukur keberhasilan seseorang adalah ketika ia mampu meraih kesuksesan duniawai yang memberikannya kesenangan melalui materi karena dengan finansial yang berlimpah apa pun bisa dibelinya, sehingga capainnya haruslah diketahui oleh orang lain. Sebab, ketika ia dihargai dan dipuji dari keberhasilan duniawi, kepuasan batinnya pun terpenuhi.
Paradigma sekularisme telah menghilangkan esensi mudik kaum urban. Pulang kampung menjadi ajang adu gaya dan pamer kesuksesan, bukan lagi karena kebutuhan silaturahim. Cara pandang seperti ini karena dalam sistem sekuler, aktivitas apa pun tak selalu harus bernilai ibadah, sebab amal sholih hanya berada di area private seseorang. Misalkan shalat, zakat, puasa, dan ibadah haji. Sedangkan aktivitas silaturahim dinilainya hanya sebatas saling mengunjungi dan bermaaf-maafan atas kesalahan, sehingga dalam melaksanakannya tak perlu dikorelasikan dengan ibadah.
Akibatnya, terjadilah riya, yaitu perilaku memperlihatkan amal kebaikan kepada orang lain dengan tujuan ingin mendapatkan pujian, bukan semata-mata karena Allah Swt., dan sum'ah, yaitu menceritakan atau memperdengarkan amal ibadah kepada orang lain dengan tujuan mendapatkan sanjungan, bukan karena Allah Swt,. Perbuatan keduanya tanpa disadari mewarnai jalannya silaturahim. Alih-alih mendapatkan kebaikan, malah tak jarang menimbulkan perselisihan. Seharusnya mendatangkan pahala, justru berbuah dosa.
Mindset demikian seharusnya tak ada di benak umat Islam karena mengunjungi orang tua, saudara maupun handai taulan semata-mata karena silaturahim merupakan salah satu bentuk keimanan seorang Muslim, sebagaimana sabda Rasulullah Saw., bahwa tidaklah masuk surga orang yang memutuskan tali silaturahim. Apabila umat Islam memahami hadis tersebut, patutlah kiranya mengubah niat dan pemikiran ketika akan pulang kampung. Sehingga, mudik tak dijadikan ajang adu gaya, melainkan demi pahala.
Nurmilati
Mutiara Umat Institute
0 Komentar