Menyamakan BoP dengan Perjanjian Hudaibiyah, Selain Tidak Memahami Politik Islam, Juga Tidak Belajar dari Pengalaman
MutiaraUmat.com -- Menteri Agama (Menag) RI, Nasaruddin Umar, menyamakan langkah Presiden Prabowo Subianto bergabung dalam Board of Peace (BoP) dengan strategi Rasulullah Saw dalam Perjanjian Hudaibiyah adalah sebuah kekeliruan yang sangat besar. Sebab, proses dan isi dalam perjanjian BoP sudah sangat berbeda sama sekali dengan perjanjian Hudaibiyah. Apalagi kenyataan dalam penerapannya nanti.
Yang membuat perjanjian dalam BoP hanya sebelah pihak yaitu dari ketua BoP saja, yakni AS yang nota bene adalah pemimpin negara kafir harbi fi'lan yang nyata permusuhannya dengan Islam dan umatnya. Sementara pemimpin negeri-negeri Muslim termasuk Indonesia hanya mengikuti saja, tidak ada andil membuat aturan, bahkan hanya sekedar masukan, apalagi bisa menguntungkan sebagai mana perjanjian Hudaibiyah-nya Rasulullah.
Dan konteks perdamaian Palestina yang diperundingkan dalam BoP itu tetap solusi yang sama dengan solusi organisasi dunia PBB selama ini dalam menyelesaikan masalah Palestina. Yaitu dengan menerapkan solusi dua negara (two nation state), tetap bukan mengenyahkan entitas zionis Yahudi dari bumi Palestina. Karena terjajahnya Palestina hingga saat ini disebabkan oleh keberadaan entitas zionis itu. Jadi untuk apa perjanjian itu dibuat, kalau tidak bisa memerdekakan hakiki Palestina?
Apalagi bergabung di dalamnya diwajibkan membayar uang sebanyak lebih tujuh triliun rupiah dan bea cukai untuk Indonesia eksport produk ke AS dikenakan sebanyak 19%. Serta diwajibkan Indonesia mengimpor barang-barang termasuk kebutuhan pokok dari AS dengan tanpa pungutan cukai dan bebas dari sertifikasi halal. Sungguh aneh, kalau pemerintah masih melanjutkan bergabung didalamnya.
Dalam perjanjian Hudaibiyah, meskipun kedua belah pihak ada dalam membuat teks perjanjian dan berkali-kali terjadi instrupsi dari pihak kafir Quraisy, tapi yang mendikte teks tersebut adalah Rasulullah sendiri. Jadi walaupun berubah teksnya (sebagaimana yang umum diketahui, teksnya seolah-olah merugikan kaum Muslim), tapi konteksnya tetap apa yang diinginkan oleh Rasulullah. Karena Rasulullah punya pandangan politik luar negeri Islam yang tinggi, yang tidak akan menjerumuskan Islam dan umatnya dalam kebinasaan.
Berbeda dengan perjanjian BoP, perjanjian ini AS sebagai sebuah negara yang memegang ideologi kapitalisme sekuler, yang dengan ideologi yang dianutnya hingga saat ini AS mengendalikan dunia, bisa dipastikan konteksnya sesuai dengan kepentingan AS dan zionis Yahudi, bukan kepentingan Palestina, Indonesia dan kaum Muslim
Dan juga presiden Prabowo Subianto bukanlah Rasulullah yang menerapkan sistem Islam atau Al-Qur'an dan Sunnah dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara dan memiliki kesadaran politik Islam yang tinggi. Pemimpin negeri saat ini justru menerapkan ideologi sekuler kapitalisme dari kafir Barat yang saat ini diemban oleh AS. Jadi bagaimana mungkin AS buat perjanjian akan menguntungkan kaum Muslim?
Jika diteliti secara kasat mata saja, isi dari perjanjian BoP itu bukan hanya tidak bisa memberikan kemerdekaan bagi Palestina, malah semakin mengokohkan cengkraman zionis atas Palestina. Apalagi dengan mengirimkan tentara Indonesia yang katanya digunakan sebagai pendamaian jika terjadi baku tembak atau perang lagi antara zionis Yahudi dengan Hamas Palestina. Siapa yang akan dibela dan didukung oleh tentara Indonesia? Atau akankah tentara Indonesia akan mati konyol dibunuh oleh zionis Yahudi, sebagaimana relawan dan jurnalis yang sudah pernah ke sana dibunuh?
Sementara, selama ini dalam sejarah membuktikan gencatan senjata yang diberlakukan selalu zionis Yahudi lah yang melanggarnya. Begitulah tabiat Yahudi dimasa Rasulullah yang selalu mengkhianati perjanjian dan begitu juga dimasa nabi-nabi terdahulu yang bukan hanya dikhianati, tapi juga dibunuh oleh mereka. Jadi, perdamaian dan kemerdekaan Palestina yang bagaimana yang hendak dituju dengan perjanjian ini?
Dan perjanjiannya ini juga merugikan negeri ini baik dari segi politik, Indonesia yang katanya menganut politik bebas aktif ternyata tidak bisa berkutik dihadapan penguasa imperialisme AS. Dari segi pemerintahan yang terus akan dipantau dan ekonomi Indonesia yang terus dikendalikan oleh lembaga keuangan internasional yang dibangun oleh AS. Sehingga masyarakat semakin sulit untuk bangkit dari berbagai keterpurukan termasuk bangkit dari segi pemikiran.
Hal ini disebabkan tidak lain karena semenjak lenyapnya pemahaman Islam kaffah dalam diri umat dan runtuhnya institusi Islam khilafah, sehingga umat tidak lagi bisa memahami politik luar negeri dengan benar sesuai dengan pandangan Islam. Tidak diterapkannya sistem Islam dalam kehidupan bernegara yang bisa mewujudkan sistem politik luar negeri yang benar sebagaimana Rasulullah contohkan.
Rasulullah sebagai kepala negara tidak pernah menggadaikan keselamatan dan kesejahteraan umatnya. Apalagi menggadaikan kehormatannya dan darah sesama Muslim hanya karena ingin diakui oleh negara adidaya, apalagi mengkhianati Islam. Perjanjian Hudaibiyah yang Rasulullah lakukan berpihak kepada Islam, walaupun secara nyata setelah berjalan baru sahabat mengetahuinya.
Tapi, kondisi saat ini sungguh sangat berbeda. Perjanjian BoP yang diikuti oleh presiden Prabowo Subianto jelas-jelas menyerahkan nyawa umat ini kepada kafir penjajah. Baik dari segi politik juga ekonomi. Menguntungkan bagaimana secara ekonomi bea eksport Indonesia diberikan 19 persen, walaupun sudah mengalami penurunan? Jikalau seandainya Indonesia memang dihormati oleh negara adidaya tersebut, mengapa tidak nol persen saja biaya ekspor bagi Indonesia? Jadi masih berharap bisa mempercayai kafir Barat, dengan cara mengikuti berbagai macam perjanjian-perjanjian?
Karena, Allah SWT sudah mengingatkan kepada umat Islam, bahwa mereka (orang-orang kafir dari kalangan Yahudi dan Nasrani/kafir Barat/AS) tidak akan pernah ridha dengan umat Islam, kecuali umat ini mengikuti Millah mereka, mengikuti agama mereka, mengikuti cara pandang mereka tentang kehidupan.
"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah ridha kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti Millah mereka". (QS. Al-Baqarah ayat 120)
Dan firman Allah:
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil teman kepercayaan dari orang-orang di luar kalangan (agama)-mu (karena) mereka tidak henti-hentinya (mendatangkan) kemudaratan bagimu. Mereka menginginkan apa yang menyusahkanmu. Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang mereka sembunyikan dalam hati lebih besar lagi. Sungguh, Kami telah menerangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu berpikir. (QS. Ali 'Imran: 118).
Jadi, masih menyamakan perjanjian BoP yang disponsori oleh AS dengan perjanjian Hudaibiyah yang di sponsori oleh Allah dan Rasulullah? Sungguh sangat jauh berbeda perbandingan itu. Jadi, dibulan yang penuh berkah ini lebih baik semakin mengintropeksi diri dan belajar Islam yang kaffah, perjuangkan sistem Islam khilafah agar bisa mewujudkan kemerdekaan hakiki bagi Palestina. Dan pastinya agar seluruh kaum Muslim mendapatkan kebahagiaan di dunia dan juga diakhirat. Insya Allah. Aamiin ya rabbal'alamiin. Wallahu a'lam bishshawab.[]
Fadhilah Fitri, S.Pd.I.
Aktivis Muslimah
0 Komentar