Membentengi Akidah: Strategi Generasi Islam Menghadapi Hegemoni Pemikiran Sekuler
TintaSiyasi.id -- Generasi Tanpa Kompas
Dunia pendidikan di Riau, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) dikejutkan dengan insiden penganiayaan. Berawal dari penolakan cinta, sebuah obsesi berujung pada aksi kriminal mengerikan. Seorang mahasiswa tega melukai wanita yang disukainya tepat di saat hendak mengikuti seminar proposal.
Fenomena peningkatan angka kriminalitas di kalangan pemuda saat ini menjadi alarm keras bagi kita, yang menunjukkan adanya pergeseran nilai dan rapuhnya pondasi karakter di usia produktif.
Pemuda mudah terjebak dalam spiral depresi, di mana keputusan instan yang buruk sering kali diambil saat mereka merasa tidak lagi mampu mengejar ketertinggalan, untuk memuasakan hawa nafsunya. Pemuda mengalami krisis arah hidup di mana mereka hanya sekadar mengikuti arus kehidupan tanpa kendali, hingga akhirnya terseret ke dalam lubang kehancuran.
Generasi saat ini dikepung oleh pemikiran sekuler di setiap lini baik dunia nyata maupun dunia digital. Sekularisme mengusai cara pikir dan prilaku generasi Muslim. Benar menurut pemuda saat ini relatif bukan halal haram. Standar bahagia tergantung pada materi yang dihasilkan dengan mengejar kekosongan demi kekosongan.
Dunia pendidikan saat ini telah nyata melahirkan kerusakan pada generasi mulai dari tindakan kriminal yang sadis lagi bengis, bullying, rudapaksa dan lain sebaginya. Hal ini terjadi di seluruh pelosok negeri ini dan di seluruh jenjang pendidikan mulai dari TK, SD, SMP, SMA, bahkan perguruan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa kerusakaan ini sudah bersifat sistemik.
Pendidikan Berbasis Wahyu
Pendidikan dalam Islam merupakan sebuah upaya yang sadar dan terstruktur dan sistematis untuk mensukseskan misi penciptaan manusia yaitu abdullah dan khalifatul fil ardh. Dalam Islam asas pendidikan Islam adalah akidah Islam yang berpengaruh pada penyusunan kurikulum pendidikan, sistem belajar mengajarnya, kualifikasi guru, proses evaluasinya, pengembangan budaya dan bagaimana interaksi di setiap komponen penyelenggara pendidikan.
Pendidikan dalam Islam memadukan tiga peran sentral yang berpengaruh pada perkembangan generasi yaitu :
Peran keluarga: orang tua adalah ujung tombak lahirnya bibit unggul generasi. Keluarga adalah sekolah utama dan pertama bagi generasi. Dalam oendidikan di keluarga wajib menjadikan Islam sebagai basis dalam pembinaan dalam membentuk kepribadian anak. Di mana setiap anak harus dibekali dengan kecintaan yang tinggi pada Allah dan rasul-Nya. Maka akan menghasilkan generasi yang bertakwa yang mampu menjadikan Islam sebagai benteng dirinya.
Peran masyarakat: dalam pandangan Islam prilaku masyarakat akan selalu kondusif jika masyarakatnya bertakwa, amar makruf nahi mungkarnya berjalan secara efektif. Kondisi ini akan memiliki dampak yang positif bagi terbentuknya generasi emas.
Peran negara: negara memiliki tugas sebagai penyelenggara pendidikan yang komprehensif. Negara wajib menyediakan fasilitas yang memadai, wajib menerapkan kurikulum berbasis akidah Islam. Tenaga pengajar yang professional hingga pada sistem gaji guru yang bisa mensejahterakan. Negara harus menjadikan kontrol sosial jika ada yang melakukan pelanggraan syariat.
Lahir generasi Islam yang tidak hanya unggul dalam sains tapi juga ulama yang faqqih fiddin. Sejarah mencatat pendidikan Islam mengalami kejayaan dan kegemilangan yang diakui oleh dunia international. Lembaga pendidikan tumbuh subur, majelis-majelis ilmu berada di setiap masjid.
Selama masa Kekhilafahan Islam ada beberapa pendidikan Islam yang masih terus pada masanya yaitu Nizhamiyah di Baghdad, Al-Azhar di Mesir, Al-Qawariyyin di Maroko, dan Sankore di Afrika.
Islam: Madrasah para Pejuang Muda
Rasulullah merangkul generasi muda untuk mengganti sistem yang batil untuk mewujudkan peradaban Islam yang gemilang. Pelopor perubahan yang memikul satu amanah yaitu risalah Islam. Menjadi garda terdepan di dalam perjuangan.
Rasulullah membimbing pemuda dengan pembinaan intensif sehingga lahirlah pemuda seperti Mu’adz bin amr dan Mu’ad bin Afrah. Pemuda hebat yang luar biasa dalam Islam melahirkan ketakwaan dan keberanian serta ketangguhan yang kuar biasa.
Mu’adz bin amr dan Mu’ad bin Afrah yang mengikuti baginda Rasul dalam perang badar tanggal 17 Ramadhan di tengah lapar dan haus, dengan keimanan, ketanguhannya kedua pemuda ini dikenal sebagai eksekutor yang berhasil menumbangkan musuh besar Islam, Abu Jahal.
Abu Jahal saat itu sedang dikelilingi oleh benteng pasukan Quraisy yang sangat ketat. Tanpa rasa takut, kedua pemuda itu menerjang jantung pertahanan musuh. Mu’adz bin Amr berhasil menebas kaki Abu Jahal hingga panglimanya itu jatuh dari kudanya. Sementara Mu’adz bin Afra ikut menyerang hingga Abu Jahal terkapar bersimbah darah. Inilah potret pendidikan Islam yang mampu melahirkan generasi yang berani dan tangguh.[]
Putri Rahmi D.E., S.ST.
Aktivis Muslimah
0 Komentar