Ketika Jalan Berlubang Merenggut Nyawa, Siapa yang Bertanggung Jawab?


MutiaraUmat.com -- Bayangkan ini. Seorang ayah berangkat pagi mencari nafkah. Pulang bukan membawa uang, tapi membawa duka.

Bukan karena mabuk. Bukan karena ugal-ugalan. Bukan karena sengaja mencelakai. Tapi karena menghindari jalan berlubang dan seorang anak kecil kehilangan nyawanya. Siapa sebenarnya yang harus kita tanya pertama kali?

Kisah Al Amin, tukang ojek pangkalan 15 tahun di Pandeglang, bukan sekadar berita kecelakaan. Ini cermin.
Ia terjatuh saat menghindari lubang di jalan. Penumpangnya terpental dan terlindas ambulans yang datang dari belakang. Kini ia terancam pidana.(kompas.com, 23/2/2026)

Kita semua berduka untuk Khairi Rafi. Tidak ada kalimat yang bisa mengurangi pedihnya orang tua yang kehilangan anak. Tapi dalam waktu yang sama, kita juga perlu bertanya dengan jujur. Kalau jalan tidak berlubang, apakah tragedi ini akan terjadi?

Jangan buru-buru menunjuk jari hanya pada yang paling lemah. Karena dalam Islam, kepemimpinan bukan soal jabatan. Kepemimpinan adalah amanah.

Rasulullah Saw bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Jalan umum bukan milik tukang ojek. Bukan pula milik rakyat kecil. Itu tanggung jawab penguasa.

Khalifah Umar bin Khattab pernah berkata, “Seandainya seekor keledai terperosok di Irak karena jalan yang rusak, aku khawatir Allah akan menanyakan kepadaku mengapa aku tidak meratakannya.”

Seekor keledai. Bukan manusia. Bukan anak kecil. Seekor hewan saja membuat Umar gemetar dalam tanggung jawab.

Lalu bagaimana dengan seorang anak yang kehilangan nyawa? Bagaimana dengan seorang ayah yang kehilangan nafkah?

Dalam sistem Islam, penguasa bukan sekadar regulator. Ia raain (pengurus urusan rakyat). Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan dalam pembahasan sistem pemerintahan Islam bahwa negara bertanggung jawab penuh atas pengaturan kemaslahatan publik, termasuk infrastruktur dan keselamatan jalan. Penguasa wajib memastikan sarana umum tidak membahayakan rakyatnya.

Jika terjadi kelalaian dalam pengelolaan fasilitas umum yang menimbulkan mudarat, maka itu bukan semata urusan individu, melainkan tanggung jawab negara yang harus diteliti secara adil.

Artinya apa? Artinya keadilan tidak boleh berhenti pada orang paling bawah.

Al Amin adalah rakyat kecil.
Penghasilannya Rp50–70 ribu sehari. Motor pun bukan miliknya sendiri. Rumah 6x6 dengan lantai tanah.

Ia bukan orang yang punya kuasa. Ia hanya orang yang berusaha bertahan hidup. Apakah ia harus tetap diperiksa?

Tentu hukum harus berjalan.
Tapi hukum tanpa melihat konteks bisa berubah menjadi beban bagi yang paling lemah.

Imam Al-Mawardi dalam Al-Ahkam As-Sulthaniyyah menegaskan bahwa tugas penguasa adalah menjaga agama dan mengatur urusan dunia dengan keadilan. Keadilan itu bukan hanya menghukum, tapi memastikan sebab-sebab bahaya tidak dibiarkan berulang.

Jalan berlubang bukan takdir yang turun dari langit. Itu hasil kelalaian pengelolaan dan ketika rakyat menjadi korban akibat fasilitas publik yang tidak aman, maka evaluasi tidak boleh berhenti pada pengemudi.

Kita semua tentu ingin keadilan bagi keluarga korban. Tapi keadilan sejati bukan sekadar mencari siapa yang paling mudah dihukum. Keadilan adalah memastikan tragedi seperti ini tidak terulang.

Kalau hari ini tukang ojek yang diproses, besok bisa siapa saja. Karena kita semua melewati jalan yang sama.

Pertanyaannya sekarang, apakah keselamatan rakyat sudah menjadi prioritas utama? Ataukah rakyat kecil selalu menjadi pihak pertama yang menanggung akibat?

Tulisan ini bukan untuk membela satu pihak dan menyalahkan pihak lain.
Tulisan ini untuk mengingatkan bahwa dalam Islam, kepemimpinan adalah amanah besar. Setiap kebijakan, setiap kelalaian, setiap lubang di jalan, maka semua ada pertanggungjawabannya di hadapan Allah.

Dan ketika seorang ayah miskin berkata, “Saya cuma tukang ojek”, itu bukan sekadar kalimat. Itu jeritan kecil dari rakyat yang tidak punya kuasa.

Semoga kita semua belajar. Bahwa infrastruktur bukan sekadar proyek.
Bahwa jalan bukan sekadar aspal.
Bahwa tanggung jawab bukan sekadar jabatan. Karena dalam Islam, pemimpin bukan dilihat dari kuatnya kuasa, tapi dari besarnya rasa takutnya kepada Allah.

Wallahu a’lam bishshawab.[]


Nabila Zidane
Jurnalis

0 Komentar