Jangan Memaksakan Mudik Jika Belum Mampu
MutiaraUmat.com -- Ketua Dewan Pengawas Syariah PT Sompo Insurance Indonesia, A. Riawan Amin, menjelaskan bahwa mudik bukanlah kewajiban agama, melainkan tradisi sosial-budaya. Menurutnya, tidak ada dalil khusus yang memerintahkan mudik saat Lebaran. Namun mudik kerap menjadi sarana untuk menghidupkan nilai-nilai Islam yang sangat dianjurkan, yaitu birrul walidain dan silaturahim.
Birrul walidain berarti berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua. Dalam Islam, kedudukannya sangat tinggi, bahkan sering disebut setelah perintah menyembah Allah SWT.
Meski demikian, berbakti tidak selalu harus diwujudkan dengan pulang kampung. Jika kondisi kesehatan, keselamatan, atau ekonomi tidak memungkinkan, bakti tetap dapat dilakukan melalui doa, perhatian, komunikasi, maupun bantuan sesuai kemampuan. (liputan6.com, 3/3/2026)
Memang, menjelang Idulfitri, satu kata selalu memenuhi percakapan banyak orang, yaitu mudik. Tiket mulai diburu, jalanan mulai dipenuhi kendaraan, dan media sosial ramai dengan cerita perjalanan pulang kampung. Mudik memang memiliki makna emosional yang kuat. Ia bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan hati untuk bertemu orang tua, keluarga, dan kenangan masa kecil.
Namun di tengah euforia itu, ada juga banyak orang yang diam-diam menyimpan kesedihan. Mereka ingin pulang, tetapi kondisi ekonomi belum memungkinkan. Ada yang gajinya pas-pasan. Ada yang baru kehilangan pekerjaan. Ada yang sedang berjuang melunasi utang. Bahkan ada yang harus memilih antara membeli tiket pulang atau membayar kebutuhan hidup yang lebih mendesak.
Dalam situasi seperti ini, sering muncul perasaan tidak enak hati. Takut dianggap tidak peduli pada keluarga. Takut dianggap tidak berbakti kepada orang tua. Bahkan kadang ada tekanan sosial yang membuat seseorang merasa harus pulang, apa pun caranya.
Padahal sebenarnya, mudik bukan kewajiban syariat. Aku sering berkata kepada teman-teman, "Jangan sampai silaturahmi yang seharusnya membawa keberkahan justru dimulai dengan utang dan beban."
Islam tidak pernah mengajarkan umatnya memaksakan sesuatu di luar kemampuan. Allah SWT berfirman, "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (TQS. Al-Baqarah: 286).
Ayat ini sederhana, tetapi sangat menenangkan. Artinya, jika kondisi kita memang belum memungkinkan untuk mudik, maka tidak ada dosa di dalamnya.
Imam Al-Ghazali pernah menjelaskan bahwa salah satu sumber kegelisahan manusia adalah memaksakan diri mengikuti standar orang lain, bukan hidup sesuai kemampuan yang Allah berikan. Ketika seseorang memaksakan sesuatu hanya demi terlihat sama dengan orang lain, maka yang lahir bukan kebahagiaan, tetapi kelelahan batin.
Fenomena ini sering terlihat menjelang Lebaran. Ada orang yang sebenarnya tidak memiliki cukup uang, tetapi tetap memaksakan diri pulang kampung. Tiket dibeli dengan utang. Biaya perjalanan ditutup dengan kartu kredit. Bahkan ada yang harus meminjam ke sana-sini demi bisa pulang. Padahal setelah Lebaran selesai, yang tersisa adalah tagihan dan tekanan finansial.
Aku sering mengatakan dengan jujur, "Jangan membesarkan gaya hidup, lalu menyalahkan keadaan ketika uang tidak cukup."
Banyak orang mampu menabung untuk hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting, seperti gawai baru, pakaian bermerek, nongkrong setiap akhir pekan, atau perjalanan rekreasi yang mahal. Tetapi ketika Lebaran tiba, tiba-tiba uang terasa tidak cukup.
Padahal jika sejak awal kita menyadari bahwa mudik adalah hal yang penting bagi keluarga, seharusnya persiapan itu dilakukan sejak jauh hari.
Menabung sedikit demi sedikit.
Mengatur prioritas pengeluaran.
Menahan gaya hidup yang tidak perlu.
Karena perjalanan pulang kampung bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia adalah rencana yang bisa dipersiapkan.
Namun jika tahun ini memang belum mampu, jangan merasa rendah diri. Silaturahmi tidak harus menunggu Lebaran. Kita masih bisa menjaga hubungan dengan orang tua melalui telepon, doa, atau bahkan kunjungan di waktu lain ketika kondisi sudah lebih siap.
Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari dalam Al-Hikam pernah mengingatkan, "Istirahatkan dirimu dari mengatur sesuatu yang sudah diatur oleh Allah."
Kalimat ini mengajarkan kita untuk tidak memaksakan diri mengejar sesuatu yang belum Allah bukakan jalannya. Kadang yang terbaik adalah menerima keadaan dengan lapang dada, sambil terus berusaha memperbaiki masa depan.
Mudik memang indah, tetapi ketenangan hidup jauh lebih penting. Jangan sampai perjalanan pulang yang seharusnya membawa kebahagiaan justru menjadi sumber kegelisahan setelahnya.
Karena itu aku sering mengingatkan diri sendiri dan orang-orang di sekitarku, "Tidak semua orang harus pulang tahun ini. Tidak semua kebahagiaan harus mengikuti jadwal orang lain."
Yang penting adalah menjaga hati tetap bersyukur, menjaga hubungan dengan keluarga tetap hangat, dan menjaga hidup tetap berada dalam batas kemampuan.
Tahun ini mungkin belum bisa mudik. Tidak apa-apa.
Masih ada tahun depan.
Masih ada waktu lain.
Masih ada kesempatan untuk pulang dengan lebih tenang dan tanpa beban.
Yang penting satu hal, jangan sampai gengsi membuat kita hidup di luar kemampuan.
Karena kebahagiaan sejati bukan terletak pada seberapa jauh kita bepergian, tetapi pada seberapa tenang hati kita menjalani hidup tanpa memaksakan diri.
Dan terkadang, keputusan paling bijak bukanlah memaksakan perjalanan, tetapi menunggu hingga Allah memberikan kemampuan yang lebih lapang.
Wallahu a’lam bishshawab.[]
Nabila Zidane
Jurnalis
0 Komentar