Ironi Negeri Agraris, Impor 1000 Ton Beras

MutiaraUmat.com -- Sedari dulu, negeri ini selalu mendapat julukan negeri agraris. Bahkan ada lagu yang menyatakannya dengan jelas, tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Itu semua dilihat dari potensi lahan yang terhampar luas di Indonesia. Subur, gembur, dan kaya akan zat hara itulah kondisinya. Sehingga amat wajar jika dari sisi pertanian begitu menghasilkan. Namun, realitas ternyata tak seindah yang dibayangkan. Dengan sektor pertanian yang begitu luar biasa, belum mampu membawa negeri ini menjadi sebuah negara yang mampu berdiri sendiri tanpa ada setir dari yang lain.

Fakta membuktikan bahwa Indonesia menyetujui untuk mendatangkan komoditas beras sekitar 1.000 ton yang berasal dari Amerika Serikat. Hal tersebut sebagai bagian dari kesepakatan perdagangan bilateral kedua negara. Tentunya membuat satu pertanyaan yang muncul, di tengah gencarnya program swasembada pangan oleh Kementerian Pertanian ternyata muncul kebijakan tersebut. Lantas, bagaimana kondisinya jika pada saat yang sama, yaitu beras dari AS datang sementara di dalam negeri sedang panen raya? Bagaimana kebijakan pemerintah sendiri untuk menyerap seluruh komoditas beras yang ada?

Berbicara terkait dengan beras yang akan datang dari AS tersebut ada dalam dokumen perjanjian perdagangan resiprokal (Agreements on Reciprocal Trade). Perjanjian tersebut ditandatangani oleh Presiden Indonesia (Prabowo Subianto) bersama Amerika Serikat (Donald Trump). Dokumen tersebut berisi Indonesia akan mengimpor berbagai komoditas pertanian dari Amerika Serikat dengan nilai sekitar US$4,5 miliar atau 75 triliun rupiah sebagai bagian kerja sama perdagangan kedua negara. (bbcnews.com, 26-02-2026).


Dampak lain yang tidak kalah serius adalah berkurangnya jumlah petani. Ketika lahan pertanian makin sempit atau bahkan hilang, banyak petani terpaksa meninggalkan profesinya. Tidak sedikit yang akhirnya menjual tanahnya kepada pengembang atau korporasi, lalu beralih pekerjaan menjadi buruh, pedagang kecil, atau pekerja di sektor informal lainnya.

Sebagai seorang ibu dan pendidik generasi, fakta di atas benar-benar menyakitkan bagi kita semua. Mengapa demikian? Kembali, kita berbicara terkait dengan sektor pertanian yang seharusnya mampu dimaksimalkan dengan baik sehingga bisa mendapatkan hasil yang maksimal pula. Inilah yang kemudian seharusnya menjadi sorotan pemerintah di tengah persoalan yang melanda di negeri ini. Mulai dari alih lahan pertanian, belum adanya modal, teknologi yang ketinggalan zaman, dan masih ada hal lainnya. Ini satu sisi yang seharusnya diseriusi oleh pemerintah. Karena pertanian termasuk pada penghasil komoditas pokok yang diperlukan semua orang.

Walaupun tak dimungkiri bahwa saat ini berbagai gerakan menuju swasembada pangan digalakkan pada semua wilayah di negeri ini. Namun, ibarat sia-sia belaka jika kita terikat perjanjian dengan negara lain untuk impor komoditas yang notabenenya sedang diupayakan dihasilkan dari dalam negeri. Nah, ini yang menjadi persoalan tambahan yang harus diketahui jalan keluarnya. Pasalnya, ini akan berkaitan erat dengan keberlangsungan program yang sudah berjalan dan para petani.

Dari kedua faktor di atas telah menunjukkan kepada kita bahwa negeri ini belum mampu berbuat sesuai dengan kehendaknya sendiri. Lebih mudahnya adalah tak mampu berdiri sendiri atas segala kebijakan yang berlaku di dalam serta luar negeri. Kapitalisme sekuler telah membuat negeri ini kehilangan jati dirinya sendiri, hanya bisa disetir oleh bangsa lain. Dan faktanya, kita tetap mau dan tunduk saja terhadap segala apa yang telah dikatakan oleh negara adidaya, yakni AS. Walaupun perjanjian tersebut merugikan negeri ini, tetap saja dilaksanakan dan dilakukan sesuai dengan pesanan. Inilah ironi yang terjadi di negeri ini: tak mampu bersikap tegas dan menolak segala macam perihal yang merugikan negara.

Islam memandang bahwa segala sesuatu yang terjadi harus dipikirkan dengan matang dan dengan konsep rujukan hukum syarak. Akidah yang kuat dalam diri kaum muslimin tentu akan membuat segala bentuk yang dilakukan serta diucapkan sesuai dengan Islam saja. Termasuk pula dalam hal pemerintahan dan kebijakan yang dikeluarkan. Maka, kedua hal tersebut harus serius dan dengan konsep ketundukan hanya terhadap Allah Swt. Dengan begitu, akan didapatkan pemerintahan yang sesuai dengan perintah Allah dan pengurusan umat yang serius.

Karena kembali bahwa semua yang dilakukan akan dipertanggungjawabkan pada yaumil akhir.
Maka orang-orang yang diamanahi akan serius dalam menjalankannya, tak lupa menciptakan kemaslahatan umat secara sempurna. Termasuk dalam hal kemandirian sebuah negara dalam menentukan segala kebijakan yang akan diterapkan. Maka negara yang menerapkan hukum Islam akan mampu berdiri sendiri tanpa disetir oleh negara lain. Sehingga semua lini kehidupan akan diatur sendiri dengan dasar hukum syarak.

Tak lupa sektor pertanian akan menjadi sektor yang dengan serius harus digarap karena keberadaannya begitu penting untuk keberlangsungan kehidupan manusia. Maka kebijakan yang akan ditetapkan pada sektor tersebut harus maksimal dan diperhitungkan dengan baik. Dari semua sisi harus dipelajari dengan seksama, mulai dari penyediaan bibit, teknologi, luasan lahan, modal bagi petani, penyuluhan, dan hal lain yang terkait dengan proses pertanian akan diberikan secara maksimal. Berharap juga dengan cara berdoa kepada Allah agar hasil yang dipanen akan melimpah.

Termasuk ketika ada banyak lahan yang tidak digarap atau lahan mati, dicari siapa yang mau menggarapnya dengan serius, maka akan diberikan. Sebagaimana sabda Rasulullah ï·º,
“Siapa saja yang menghidupkan tanah mati, maka tanah itu menjadi miliknya.” (HR. Tirmidzi).

Dengan begitu, maka insyaallah keberkahan akan kita dapati, termasuk rida dari Allah Swt. Semua akan bisa terwujud dengan kunci bahwa Islam ditetapkan dengan sempurna dan menyeluruh di bawah institusi Daulah Islam. Tak lupa pemimpin yang mau membawa negara menuju satu visi pada ketakwaan hanya terhadap Allah Swt. dan bersikap mandiri untuk mengatur seluruh kebijakan yang ada.

Dengan begitu, maka akan tercipta negara yang kuat dengan akidah yang mantap pula. Insyaallah seluruh lini kehidupan akan mampu diciptakan kemaslahatan umat. Tak lagi disetir oleh negara lain, karena kita punya prinsip sendiri. Prinsip yang utuh, yakni hanya menjadikan Islam sebagai pedoman hidup.

Wallahu a'lam.

Oleh: Mulyaningsih
Pemerhati Masalah Anak & Keluarga

0 Komentar