Di Balik Board of Peace: Antara Perdamaian dan Pengendalian Gaza
MutiaraUmat.com -- Presiden Indonesia Prabowo Subianto mengatakan akan mengirimkan pasukan TNI ke Gaza, Palestina, dalam waktu 1-2 bulan ke depan. Ada sebanyak 8.000 pasukan TNI yang akan dikirim. Nantinya, 8.000 pasukan ini akan bertugas bersama Pasukan Stabilisasi Internasional atau Internasional Stabilization Force (ISF), yang anggotanya merupakan gabungan dari negara anggota Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) Gaza yang dibentuk oleh Donald Trump sekalu Presiden AS. Prabowo juga menyatakan bahwa Indonesia dipercayakan menjadi Wakil Komandan ISF. (News.detik.com, Jumat, 20 Februari 2026 08:01 WIB)
Sekilas, hal ini terdengar seperti berita yang cukup membanggakan. Tapi muncul pertanyaan, apakah ini murni merupakan misi kemanusiaan atau justru kita sedang masuk kedalam skenario dan agenda orang lain?
Kita tentu paham bahwa ketika Indonesia ditunjuk sebagai Wakil Komandan ISF (Internasional Stabilization Force), secara tertulis ini seakan menjadi sebuah panggung besar bagi diplomasi Indonesia. Tapi kita juga tidak boleh lupa, di balik peran ini ada Dewan Perdamaian BoP (Board of Peace), sebuah kerangka perdamaian yang lahir dari alam pemikiran Trump. Yang mana poin utamanya adalah de-militerisasi daripada Hamas. Artinya, mereka menginginkan Gaza steril dan melucuti senjatanya sepenuhnya.
Inilah yang membuat kita patut mempertanyakan keterlibatan Indonesia dalam BoP. Karena ada kemungkinan yang cukup besar kalau Indonesia sedang ditarik untuk menjadi 'buffer' atau 'penyangga' dari kebijakan Amerika Serikat dan Israel. Bayangankan, saudara Muslim kita di Gaza yang berjuang dan menjadi perwakilan kita untuk mempertahankan tanah para nabi, pada akhirnya harus berhadapan secara langsung dengan saudaranya sesama Muslim yang itu kebetulan adalah kita (Indonesia) salah satu negara dengan penduduk mayoritas Muslim, dan datang dengan mandat Internasional buatan penjajah Donald Trump melalui BoP.
Hal ini tentu berpotensi mengadu domba kita. Sehingga muncul narasi seolah-olah sesama Muslimlah yang mengekang perlawanan di Gaza, Palestina. Padahal, sejujurnya kita bukanlah orang-orang yang anti terhadap perdamaian. Tetapi perdamaian tanpa keadilan, apalagi tidak melibatkan Palestine didalamnya, hanyalah upaya untuk menunda-nunda konflik. Yang menjadi masalah, kalaupun militer kita hadir disana hanya untuk melegitimasi penghapusan hak perlawanan (warga Gaza), dan tanpa ada jaminan kemerdekaan penuh terhadap Palestina, maka niat baik kita ini hanya akan menjadi boomerang bagi citra Indonesia dimata dunia, terlebih di mata dunia Islam.
Melalui halaman Euronews.com, pada Jumat 8 Agustus 2025, Perdana Menteri Israel menyerukan untuk menghancurkan seluruh Gaza dan mengusir paksa warganya. Benjamin Netanyahu selaku Perdana Menteri Israel menyatakan bahwa satu-satunya cara untuk menjamin keamanan negaranya adalah dengan menguasai seluruh Jalur Gaza setelah operasi militer berakhir. Bahkan AS sudah menyiapkan pembangunan New Gaza.
AS dan Israel berambisi untuk menguasai Gaza dan menghilangkan jejak genosida dengan membangun New Gaza. Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan rencana mereka "membangun Gaza Baru" sebuah proyek pembangunan dari nol wilayah Palestina yang hancur. Puluhan gedung pencakar langit, yang membentang di sepanjang pantai, dan bekas perumahan di kawasan Rafah yang telah luluh lantak akan dibangun oleh AS.
Presentasi proyek ini disampaikan dalam seremoni penandatanganan "Dewan Perdamaian" yang digagas Presiden AS, Donald Trump, di sela kegiatan Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, Kamis (22/01).
Peta yang ditampilkan pemerintah AS dalam forum ini menunjukkan rencana pengembangan kawasan industri, perumahan, dan pertanian, secara bertahap, dengan populasi yang mereka targetkan sekitar 2,1 juta orang. Presentasi proyek ini disampaikan langsung oleh menantu Trump, Jared Kushner. Dia berkata, Gaza telah dijatuhi 90.000 ton amunisi. Oleh karena itu, terdapat sekitar jam 60 juta ton puing-puing yang harus dibersihkan sebelum proyek ini berjalan. Peta Rencana Induk AS menunjukkan ada beberapa zona yang disediakan untuk wisata pantai, dan mereka akan membangun sekitar 180 menara apartemen.
Selain itu, juga terdapat sejumlah zona untuk kawasan perumahan, pusat data, kompleks pertanian dan industri, fasilitas olahraga, manufaktur canggih, juga taman. Sebuah pelabuhan laut dan bandara baru dekat perbatasan Mesir, turut masuk dalam perencanaan tersebut, sehingga akan ada 'penyeberangan trilateral' di mana perbatasan Mesir dan Israel bertemu.
Rencana rekonstruksi akan dibagi menjadi empat fase mulai dari Rafah, dan secara bertahap bergerak ke utara menuju Kota Gaza. Peta yang dipresentasikan menantu Trump tersebut juga menampilkan strip tanah kosong yang membentang di sepanjang perbatasan Mesir dan Israel.
Dalam slide presentasi lainnya, "Rafah Baru" disebut AS akan memiliki lebih dari 200 pusat pendidikan, 100.000 unit perumahan permanen, dan 75 fasilitas medis. Padahal, awalnya Rafah adalah kota paling selatan Gaza yang dihuni oleh 280.000 jiwa. Tetapi setelah serangan Israel kota tersebut hancur lebur. Pembongkaran secara terkendali dilakukan selama serangan berlangsung, dan saat ini wilayah tersebut sudah dikuasai Israel. Kushner mengatakan, sangat yakin bahwa pembangunan "Rafah Baru" dapat diselesaikan dalam dua hingga tiga tahun saja.
Terlihat jelas bahwa upaya AS membentuk Dewan Perdamaian Gaza melalui BoP (Board of Peace) adalah untuk mengendalikan Gaza secara total, dan nemperkuat posisi kendali politik internasional AS dengan merangkul negeri2 muslim. Semua itu dilakukan sebagai siasat untuk menguasai dan mengendalikan Gaza secara total.
Dalam Islam dilarang memberikan loyalitas kepada pihak yang memerangi dan menindas kaum Muslim.
Allah SWT berfirman :
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan musuh-Ku dan musuhmu sebagai wali (pemimpin/sekutu loyal)….” (TQS. Al-Mumtahanah: 1)
“Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai wali orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu serta membantu (orang lain) untuk mengusirmu.” (TQS. Al-Mumtahanah: 9)
Artinya, tidak boleh memberikan loyalitas penuh (wala’) terhadap pihak yang memerangi dan menzalimi kaum Muslim, juga tidak boleh membantu mereka dalam kezaliman.
Wilayah Gaza dan Palestina sejatinya tanah milik umat Islam yang dirampas oleh Israel. Allah SWT melarang umat Islam untuk patuh, tunduk, dan memberikan loyalitas pada negara kafir. Umat dan penguasa dunia Islam wajib melawan semua makar AS dan Israel untuk menguasai Gaza. Menegakkan khilafah dan jihad untuk membebaskan Palestina wajib menjadi prioritas perjuangan umat bersama partai politik islam ideologis. Karena jika memilih diam terhadap kezaliman saja termasuk dalam kezaliman itu sendiri, apalagi ikut bergabung dan berkoalisi dengan orang-orang yang melakukan kezaliman.
Jelaslah bahwa BoP merupakan pengkhianatan penguasa negeri-negeri Muslim terhadap perjuangan kaum muslim Palestina. Seharusnya negeri-negeri Muslim bahu membahu untuk mengumpulkan dana untuk memulihkan Gaza yang hancur lebur akibat genosida, bukan malah menyerahkan dana segar kepada negara penjajah yang mendukung dan membiayai pendudukan Zion*s di Palestina.
Allah SWT berfirman:
"Dan jika dikatakan kepada mereka, 'Janganlah membuat kerusakan dibumi,' mereka menjawab, 'Sesungguhnya kamilah orang-orang yang yang melakukan perbaikan." (TQS : Al-Baqarah : 11)
"Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari." (TQS. Al-Baqarah : 12).[]
Oleh: Marissa Oktavioni, S.Tr.Bns.
Aktivis Muslimah
0 Komentar