Dampak Normalisasi Gaul Bebas
Mutiaraumat.com -- Seorang mahasiswi menjadi korban pembacokan di Kampus Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Kamis pagi, 26 Februari 2026 pukul 08.30 WIB. Korban dilarikan ke rumah sakit karena mengalami luka berat di bagian kepala (metronews.com, 26-2-2026).
Motif diduga akibat penolakan cinta. Pelaku, Reyhan Mufazar (22), diketahui menyimpan perasaan terhadap korban sejak keduanya mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dalam satu kelompok yang sama (kumparan.com, 27-2-2026).
Kesalahan remaja dalam memaknai sebuah pergaulan hingga tak sedikit remaja yang terlibat aktifitas kekerasan, pembunuhan dan pergaulan bebas.
Mereka merasa bebas bertindak tanpa melihat norma dan aturan agama sehingga bertindak tanpa memikirkan akibat perbuatan yang mereka lakukan. Maka tidak heran remaja saat ini tak tahu arah dalam bertindak hingga ringan melakukan kekerasan fisik sampai berniat untuk menghilangkan nyawa orang lain.
Inilah salah satu potret kegagalan sistem pendidikan sekuler membentuk generasi berkepribadian mulia. Sekulerisme membentuk standar kebebasan dan bertindak semaunya dalam diri remaja.
Meletakkan aturan agama sebatas ibadah ritual seperti sholat, puasa, zakat, haji bukan sebagai pengatur kehidupan salah satunya dalam pergaulan. Di tengah keluarga dan masyarakat terjadi normalisasi nilai-nilai liberalisme dalam pergaulan.
Anggapan lumrah saat remaja melakukan aktivitas pacaran dan maraknya perselingkuhan berdampak besar dalam merubah perilaku yang bertentangan dengan norma agama berujung seks bebas, kekerasan bahkan pembunuhan.
Dampak merasa bebas berkehendak tanpa peduli resiko dan konsekuensi atas pilihannya meskipun pada akhirnya mereka akan merasakan pahitnya atas hidup bebas yang mereka jalani.
Negara pun turut andil dalam hal ini, karena negara dengan sistem kapitalis dinilai kurang memprioritaskan pembinaan generasi. Sistem pendidikan dijalankan atas dasar kepentingan ekonomi dan industri maka generasi juga dipandang hanya sebagai faktor ekonomi yang bernilai produktif dan berorientasi pada materi. Yang mana seharusnya pendidikan ditujukan sebagai sarana pembentukan manusia yang taat kepada Allah Taala.
Berbeda dengan sistem pendidikan Islam yang dibangun atas dasar akidah, dengan tujuan membentuk kepribadian islam yaitu individu yang memiliki pola pikir dan pola sikap sesuai nilai-nilai syariat Islam.
Maka, terbentuk generasi yang bertakwa, sadar tanggung jawab, dan paham halah-haram. Keimanan dan keterikatan pada syariat islam akan mendorong remaja membuang paham sekularisme yang merusak dan berbahaya.
Membentuk remaja yang tidak hanya fokus pada pencapaian akademik atau keterampilan saja.
Pada lingkup masyarakat, apabila seluruh masyarakat memahami Islam dan menjadikan islam sebagai rujukan untuk menyelesaikan semua masalah.
Islam akan dijadikan sebagai satu-satunya acuan menjalani hidup sehari-hari. Maka, terciptalah kontrol sosial dalam bentuk amal makruf nahi mungkar yaitu masyarakat yang saling mengingatkan dalam kebaikan, menentang kemaksiatan, sehingga menciptakan suasana yang mendukung ketaatan dan menjauhkan dari perilaku menyimpang.
Pemerintah dalam sistem Islam menerapkan aturan dan sanksi pada pelaku kekerasan dengan aturan dan sanksi sesuai hukum Islam untuk memberi efek jera dan menjaga keamanan dan kehormatan masyarakat.[]
Oleh: Puput Weni R
(Aktivis Muslimah)
0 Komentar