Cinta Tulus Hanya Ada pada Ibu
MutiaraUmat.com -- Ada cinta yang tidak pernah menagih balasan. Tidak pernah berkata, “Aku sudah berbuat ini untukmu, sekarang giliranmu.”
Cinta itu bernama ibu. Sebelum kita mengenal dunia, sebelum kita tahu siapa diri kita, sebelum kita bisa menyebut namanya, ia sudah mencintai kita lebih dulu. Bukan karena kita pintar. Bukan karena kita cantik atau tampan. Bukan karena kita sukses. Tapi karena kita ada.
Ia menggendong kita dalam tubuhnya sembilan bulan. Bukan sekadar membawa, tapi berbagi darah, berbagi tenaga, berbagi rasa sakit. Lalu setelah lahir, ia menggendong kita dalam pelukannya dan setelah kita dewasa? Ia tetap menggendong kita dalam hatinya.
Wahai hati yang masih punya ibu, pernahkah kamu merenung sejenak,
Berapa kali ia begadang saat kita sakit?
Berapa kali ia pura-pura kuat saat ekonomi sulit?
Berapa kali ia menyembunyikan air mata agar kita tidak merasa bersalah?
Secara psikologis, ibu adalah rumah pertama jiwa kita. Dari pelukannya kita belajar rasa aman. Dari tatapannya kita belajar bahwa kita berharga. Dari doanya kita bertahan.
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa kasih sayang seorang ibu adalah salah satu tanda kebesaran Allah di dunia. Ia adalah bentuk cinta yang mendekati tanpa syarat.
Rasulullah Saw pun menegaskan ketika seorang sahabat bertanya, “Siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?”
Beliau menjawab,
“Ibumu.”
Lalu siapa lagi?
“Ibumu.”
Lalu siapa lagi?
“Ibumu.”
Baru kemudian, “Ayahmu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Tiga kali. Bukan tanpa alasan.
Karena beban ibu bukan cuma melahirkan. Ia mengandung dengan lemah yang bertambah-tambah. Ia menyusui dengan kelelahan yang tak selalu terlihat.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an surah Luqman ayat 14, "Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu."
Lihat, setelah bersyukur kepada Allah, disebutlah orang tua. Betapa tinggi kedudukannya. Sekarang jujur pada diri sendiri.
Masihkah kita membuat ibu bersedih karena sikap kita? Masihkah kita membantah dengan nada tinggi? Masihkah kita menunda menelpon hanya karena sibuk hal-hal yang tidak sepenting itu?
Kita bisa membuat status cinta setiap hari. Tapi sudahkah kita mengirim pesan sederhana pada ibu hari ini? Kita bisa membela pasangan mati-matian. Tapi pernahkah kita membela perasaan ibu saat ia disalahpahami?
Ibu mungkin tidak sempurna. Ia bisa marah. Ia bisa cerewet. Ia bisa khawatir berlebihan. Tapi tahukah kamu?Khawatirnya adalah bentuk cinta. Marahnya adalah bentuk takut kehilangan.
Cinta ibu itu unik. Ia memaafkan sebelum kita meminta maaf. Ia mendoakan bahkan saat kita menjauh. Ia tetap menyebut nama kita dalam sujudnya, bahkan ketika kita lupa menyebut namanya dalam doa.
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa keluarga adalah unit dasar masyarakat dan di dalamnya, peran ibu adalah penopang peradaban. Dari rahimnya lahir generasi. Dari tangannya tumbuh karakter. Kalau ibu kuat, generasi kuat. Kalau ibu hancur hatinya, anak-anak ikut goyah.
Jangan jadi anak yang membuat ibunya tidur dengan mata sembab. Jangan jadi sebab ibumu terus menangis diam-diam karena ulahmu.
Jangan jadi alasan ia menua dalam kesedihan.
Jika hari ini ibumu masih hidup, itu rezeki yang tidak semua orang punya. Peluklah sebelum terlambat. Teleponlah sebelum sunyi benar-benar datang. Minta maaflah sebelum penyesalan jadi teman seumur hidup.
Karena saat ibu tiada, kamu baru akan sadar bahwa sudah tidak ada cinta yang benar-benar tulus seperti miliknya. Tidak ada rumah yang sehangat pelukannya. Tidak ada doa yang sekuat bisikannya di sepertiga malam.
Cinta tulus memang jarang di dunia ini. Tapi Allah menghadiahkan satu untukmu sejak lahir. Namanya Ibu.
Barakallahufikum
Oleh: Nabila Zidane
Jurnalis
0 Komentar