Letakkan HP Suami dan Pegang Iman Sendiri


MutiaraUmat.com -- Secara hukum,
membaca HP suami bisa dibolehkan, kalau suami mengizinkan atau suami ngajak nonton video dakwah, video kocak bareng dan sebagainya, bukan sekadar dorongan emosional dan bisikan over thinking tengah malam.

Tapi secara kewarasan dan secara iman, istri nggak perlu hidup jadi detektif rumah tangga karena pernikahan bukan kasus kriminal.

Ada satu fakta yang sering lupa kita cerna pelan-pelan bahwa ranah pribadi suami itu murni tanggung jawab dia di hadapan Allah. Bukan istri. Bukan mertua. Bukan netizen. Kalau seandainya, na’udzubillah di dalam HP itu ada indikasi maksiat, maka yang dicatat malaikat bukan nama istri, tapi murni milik suami.

Allah tidak pernah bikin sistem dosa kolektif rumah tangga. Yang salah, ya yang berbuat. Yang niat, ya yang jalanin. Dan justru di sinilah masalahnya.

Banyak istri bukan makin tenang setelah kepo, tapi makin rusak batinnya. Awalnya niat cari ketenangan, ujung-ujungnya nemu bahan overthinking.

Belum tentu zina, tapi cukup buat bikin dada sempit dan tidur nggak nyenyak. Padahal Allah sudah tegas melarang satu hal yang sering kita anggap sepele, yaitu memata-matai apalagi suami sendiri.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka….dan janganlah kalian memata-matai.” (QS. Al-Hujurat: 12).

Larangan ini umum. Bukan cuma ke tetangga, bukan cuma ke teman, tapi juga berlaku di dalam rumah tangga.

Al-Ghazali menjelaskan, tajassus (memata-matai) adalah penyakit hati yang merusak pelakunya lebih dulu sebelum merusak orang yang dimatai-matai.

Artinya apa? Yang paling hancur dari kebiasaan kepo itu sering kali istri sendiri.

Bagaimana tidak? Hatinya capek. Pikirannya penuh. Imannya goyah dan bahkan istri bisa kehilangan dirinya sendiri karena depresi. Sementara suami? Kalau memang salah, dosanya tetap utuh miliknya sendiri.

Ibnu Taimiyah juga menegaskan bahwa mencari-cari aib orang lain tanpa dasar yang dibenarkan syariat adalah perbuatan yang dilarang, bahkan jika itu dilakukan dengan dalih “ingin tahu kebenaran”.

Karena Islam bukan agama kepo, Islam agama amanah. Menikah itu bukan kontrak kepemilikan jiwa dan rahasia, tapi akad amanah untuk saling menjaga dan saling mengingatkan tanpa melanggar batas Allah.

Maka, wahai istri, kalau suamimu lurus, kepomu hanya buang energi. Kalau suamimu bengkok, kepomu tidak otomatis meluruskan. Yang ada, hatimu lelah sebelum masalahnya selesai.

Lebih elegan jika seorang istri menjaga dirinya dengan menjaga iman, menjaga akal sehat, menjaga doa. Karena tugas istri bukan mengawasi dosa, tapi menjadi penenang dan pengingat.

Dan jika suatu hari Allah membuka aib tanpa kita cari, itu urusan lain. Bukan hasil kepo, tapi kehendak-Nya.

Ingat satu hal yang menenangkan, Allah Maha Adil. Tak satu dosa pun salah alamat. Tak satu kesabaran pun sia-sia.

Jadi tenanglah. Letakkan HP suami. Pegang iman sendiri. Karena menjaga kewarasan itu bukan cuma soal mental health, tapi memang perintah Allah.

Barakallahufikum.[]


Nabila Zidane
Jurnalis

0 Komentar