Guru dan Murid Bertikai: Alarm Bahaya Pendidikan Tanpa Nilai Islam


MutiaraUmat.com -- Seorang guru SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, bernama Agus Saputra terlibat adu jotos dengan siswanya hingga viral di media sosial. Kasus tersebut dilaporkan oleh Agus Saputra ke Polda Jambi sebagai tindak penganiayaan. Agus mengatakan bahwa kejadian itu terjadi pada Selasa (13/1) pagi. Awal mula peristiwa tersebut terjadi saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Ketika itu, kata Agus, dirinya sedang berjalan di depan kelas dan mendengar salah satu siswanya menegurnya dengan kata-kata yang tidak pantas atau tidak sopan. “Kata Agus, dilansir Detik Sumbagsel, Kamis (15/1).” 

Mendengar ucapan tersebut, Agus masuk ke dalam kelas dan meminta siswa di kelas itu untuk mengaku siapa yang telah mengucapkan kalimat tidak pantas tersebut. Salah satu siswa pun mengaku. Menurut Agus, saat itu siswa tersebut justru menantangnya, sehingga ia menampar siswa itu. 

Menanggapi kasus ini, Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, mengatakan bahwa peristiwa tersebut merupakan pelanggaran hak asasi anak untuk mendapatkan perlindungan dan pendidikan yang aman, bebas dari rasa takut dan kekerasan, sebagaimana dijamin dalam Konstitusi dan Undang-Undang Perlindungan Anak. 

Problem Pendidikan Rusak 

Kasus guru dikeroyok murid bukan sekadar konflik biasa. Peristiwa ini merupakan masalah serius yang tidak boleh diabaikan. Guru dan murid seharusnya saling menghormati dan menyayangi serta mampu membangun keteladanan. Namun, yang justru terjadi adalah guru dan murid menjadi pihak yang saling bermusuhan hingga berujung pada kekerasan di lingkungan pendidikan. 

Potret pendidikan dalam sistem sekuler kapitalis jelas tidak menjunjung tinggi syariat Islam dalam dunia pendidikan. Sistem ini menjauhkan pendidik dari nilai-nilai Islam. Maka, wajar jika lahir generasi yang tidak beradab. Pendidikan tidak dibangun berlandaskan nilai syariat Islam, melainkan bertumpu pada kepentingan duniawi. Guru hanya diposisikan sebagai pendidik yang mencetak generasi cerdas secara akademik, tetapi miskin nilai Islam. Akibatnya, dari sistem ini lahir generasi yang tidak memiliki adab, sementara guru hanya dituntut membangun orientasi dunia tanpa membangun hubungan dengan Allah SWT. 

Solusi Hadir sebagai Jalan Keluar Tuntas

Islam memandang pendidikan bukan sekadar sarana untuk mencetak orang pintar, tetapi sebagai proses pembentukan pribadi yang beradab dan memiliki sikap saling menghormati. Sebagaimana Rasulullah Saw diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia dan membimbing kehidupan sesuai dengan perintah Allah SWT. Dalam pendidikan Islam, adab didahulukan daripada ilmu, sehingga akan lahir generasi yang memiliki sikap menghormati dan menyayangi gurunya. 

Dalam dunia pendidikan Islam, guru adalah sosok teladan, bukan sekadar pelaksana tugas penyampai materi dan pengejar target kurikulum. Guru merupakan figur yang memiliki kepribadian Islam, mendidik dengan penuh kasih sayang, serta mampu mendorong generasi menjadi hamba Allah yang taat. 

Pemimpin juga berperan penting dalam menghadirkan kurikulum yang sesuai dengan syariat Islam. Setiap pelajaran yang diajarkan diarahkan untuk membentuk kepribadian Islam dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Generasi yang lahir dari sistem pendidikan Islam akan memiliki jiwa yang tangguh dan menjalani kehidupan sesuai dengan syariat Islam. 

Problem yang terjadi saat ini disebabkan oleh tidak hadirnya Islam sebagai pemimpin peradaban dunia. Untuk mengembalikan kehidupan Islam, umat dituntut menyampaikan dakwah di tengah masyarakat dengan memperbaiki pemikiran kufur menuju pemikiran Islam. Para pengemban dakwah harus meyakini bahwa hadirnya sistem Islam mampu memperbaiki kondisi umat pada hari ini.[]


Oleh: Apriani, S.P.
Aktivis Muslimah

0 Komentar