Gema Ramadan: Transformasi Iman Menjadi Solusi Sistematik bagi Umat
MutiaraUmat.com -- Setiap tahun, umat Islam menyambut Ramadhan dengan suka cita. Tradisi membersihkan masjid, menghias rumah, memperbanyak sedekah, hingga saling bermaafan telah menjadi denyut kehidupan yang berulang dan menghangatkan. Bulan suci ini bukan sekadar penanda perubahan kalender hijriah, melainkan momentum spiritual yang ditunggu-tunggu. Di dalamnya ada harapan akan ampunan, ada rindu pada suasana ibadah yang khusyuk, dan ada optimisme untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Suka cita menyambut Ramadan telah menjelma menjadi tradisi kolektif umat yang terus terpelihara dari generasi ke generasi.
Namun, di tengah gegap gempita itu, realitas pahit tak bisa diabaikan. Ramadan tahun ini kembali hadir saat sebagian umat berada dalam kesulitan ekonomi yang berat. Di wilayah Aceh yang terdampak bencana, ribuan warga masih bertahan di pengungsian (regional.kompas.com, 2026). Hunian sementara belum sepenuhnya rampung. Di beberapa kabupaten, listrik belum menyala. Aktivitas ekonomi lumpuh, warga belum dapat kembali bekerja dan hanya menggantungkan hidup pada bantuan masyarakat. Ironisnya, bantuan pemerintah berjalan lambat, sementara ketahanan pangan para korban bencana berada pada titik yang sangat rapuh (jatim.tribunnews.com, 2026). Dalam kondisi demikian, menyambut Ramadan bukan hanya soal menyiapkan menu berbuka, tetapi soal memastikan esok hari masih ada makanan yang bisa disantap.
Fakta ini menyadarkan kita bahwa persoalan Ramadhan tidak bisa direduksi sebatas ibadah ritual individual. Ada dimensi sosial dan politik yang tak terpisahkan. Ketika rakyat menghadapi kesulitan mendasar seperti pangan, tempat tinggal, akses listrik, pekerjaan, maka ada problem tata kelola yang patut dipertanyakan. Negara dalam sistem kapitalis kerap menempatkan orientasi profit sebagai poros utama kebijakan. Negara berfungsi lebih sebagai regulator pasar daripada pengurus penuh urusan rakyat. Akibatnya, penanganan bencana sering berjalan lamban, anggaran dibatasi logika efisiensi, dan pemulihan bergantung pada kalkulasi untung-rugi. Dalam paradigma seperti ini, kepentingan publik kerap tersubordinasi oleh kepentingan ekonomi jangka pendek.
Ramadhan sejatinya menghadirkan kritik moral terhadap situasi tersebut. Ia mengajarkan empati, keadilan, dan tanggung jawab sosial. Akan tetapi, nilai-nilai itu tidak cukup berhenti pada level personal. Ia menuntut terwujudnya sistem yang menopang pelaksanaannya secara menyeluruh. Di sinilah pentingnya memandang Ramadhan bukan hanya sebagai momentum ritual, tetapi juga sebagai misi ideologis dan politik dalam arti pengaturan kehidupan publik. Islam hadir sebagai sebuah sistem yang sempurna yang memiliki konsep dan metode dalam pengaturan kehidupan individu dan publik tersebut.
Dalam perspektif sistem Islam, negara memikul tanggung jawab riayah yaitu mengurus dan menjamin kebutuhan rakyat. Negara tidak membiarkan rakyat menjalani Ramadhan dengan beban kehidupan di pundak mereka. Negara justru memastikan suasana ibadah tercipta secara optimal baik melalui kebutuhan pokok yang terjamin, harga-harga stabil, keamanan terpelihara, dan fasilitas publik mendukung kekhusyukan. Perhatian terhadap ibadah warga bukan sekadar imbauan moral, melainkan kebijakan nyata yang terstruktur.
Dalam konteks bencana, negara Islam menaruh perhatian khusus pada wilayah terdampak. Kebijakan, anggaran, dan sumber daya manusia dikerahkan secara cepat dan terkoordinasi untuk rekonstruksi. Visi riayah menjadikan pengelolaan anggaran bersifat efektif dan solutif, bukan untuk pencitraan politik. Tidak ada pembatasan anggaran yang menghambat pemulihan, karena negara memiliki pos pemasukan tetap serta mekanisme pendanaan yang unik. Dengan demikian, respons terhadap bencana tidak bergantung pada belas kasihan atau donasi sporadis, melainkan menjadi kewajiban sistemik yang melekat pada negara.
Pada akhirnya, Ramadhan bukan hanya bulan ibadah ritual semata, namun menjadi cermin dari kualitas kepemimpinan dan sistem yang menaungi umat. Ramadhan menjadi momentum refleksi total bahwa kesalehan ritual harus berjalan seiring dengan tegaknya sistem yang adil, yang benar-benar mengurus rakyat, dan yang menjadikan kesejahteraan serta kemuliaan umat sebagai prioritas utama.[]
Oleh: Sri Mellia Marinda
(Aktivis Muslimah)
0 Komentar