Doa Itu Intervensi Langit atas Masalah Bumi
MutiaraUmat.com -- Kadang kita merasa sendirian menghadapi masalah. Suami belum berubah. Anak belum paham. Ekonomi sempit. Hati lelah. Lalu kita duduk diam setelah shalat dan berbisik, “Ya Allah… aku sudah tidak tahu harus bagaimana lagi?”
Di titik itu, banyak orang mengira doa hanya pelipur lara. Padahal tidak. Doa itu intervensi langit atas masalah bumi. Ia bukan kata-kata kosong. Ia bukan ritual tanpa makna. Ia adalah pengakuan bahwa ada Dzat Yang Maha Kuasa atas hati manusia, atas takdir, atas perubahan.
Allah sendiri yang memerintahkan, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untukmu.” (TQS. Ghafir: 60)
Janji ini bukan motivasi murahan. Ini firman Rabb semesta alam. Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan kemuliaan doa dan kemurahan Allah kepada hamba-Nya. Artinya, Allah tidak bosan mendengar. Yang sering bosan justru kita.
Kadang kita berkata, “Aku sudah lama berdoa, tapi kok belum berubah?”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa doa termasuk sebab yang paling kuat dalam meraih kebaikan dan menolak keburukan. Namun pengaruhnya bisa terhalang oleh kelemahan hati, tergesa-gesa, atau kurangnya keyakinan. Artinya, bukan doa yang lemah. Kadang sabar kita yang belum panjang.
Ramadhan: Musim Intervensi Ilahi
Apalagi ini bulan Ramadhan. Bulan di mana langit terasa lebih dekat. Pintu rahmat dibuka. Pintu neraka ditutup.
Setan-setan dibelenggu.
Rasulullah Saw bersabda bahwa bagi orang yang berpuasa ada doa yang tidak tertolak ketika berbuka. Bayangkan, setiap hari selama sebulan, ada waktu mustajab yang Allah sediakan. Lalu kita masih ragu untuk meminta?
Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar. Ia adalah momentum menguatkan hubungan dengan Allah. Kalau selama ini doa terasa berat, di Ramadhan ia dipermudah. Kalau selama ini hati terasa kering, di Ramadhan ia dilunakkan.
Imam Ibnul Qayyim mengatakan bahwa doa adalah senjata mukmin. Dan senjata itu menjadi paling kuat ketika hati hadir, penuh harap, dan yakin pada pertolongan Allah.
Maka ketika kita mengangkat tangan dan berkata, “Ya Allah, lembutkan hati suamiku atau ya Allah mudahkanlah urusanku”, itu bukan kalimat lemah. Itu sedang mengetuk Arsy.
Jangan Lelah Berdoa
Masalahnya sering bukan pada Allah yang tidak mengabulkan. Tapi pada kita yang ingin jawaban instan. Kita ingin hari ini berdoa, besok langsung berubah. Padahal kadang Allah sedang mengatur skenario yang lebih besar. Bisa jadi suami belum berubah sekarang, karena Allah sedang membentuk kesabaran kita. Atau sedang menghapus dosa-dosa kita. Atau sedang menyiapkan perubahan yang lebih dalam dan lebih permanen.
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa doa itu sendiri sudah bernilai ibadah, bahkan sebelum dikabulkan. Jadi setiap doa yang kita panjatkan sudah bernilai pahala.
Artinya apa? Artinya tidak ada doa yang sia-sia. Kalaupun belum terlihat hasilnya, ia sedang bekerja di alam yang tidak kita lihat.
Kadang perubahan tidak langsung terjadi pada orang yang kita doakan. Kadang yang berubah duluan adalah hati kita. Kita jadi lebih tenang.
Lebih kuat. Lebih bijak dalam bersikap dan sering kali, justru setelah kita kuat, perubahan itu datang.
Hati di Tangan Allah
Rasulullah Saw sering berdoa, “Ya Muqallibal qulub, tsabbit qalbi ‘ala dinik.” (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu.)
Kalau hati Nabi saja meminta diteguhkan, apalagi hati kita dan pasangan kita. Hati manusia bukan di tangan manusia. Ia di tangan Allah.
Seberapa keras pun seseorang, kalau Allah kehendaki lembut, maka ia akan lembut.
Seberapa jauh pun seseorang, kalau Allah kehendaki kembali, maka ia akan kembali.nTugas kita bukan memaksa. Tugas kita mengetuk pintu langit.
Ramadhan Jangan Disia-siakan
Di bulan istimewa ini, jangan lelah berdoa. Saat sahur. Saat sujud terakhir. Saat menjelang berbuka. Saat malam sunyi setelah tarawih. Bisikkan semua yang tidak bisa kita ucapkan pada manusia.
“Ya Allah, perbaiki rumah tanggaku.”
“Ya Allah, jadikan suamiku pemimpin yang amanah.”
“Ya Allah, lembutkan hatinya dan hatiku.”
Doa itu bukan tanda kalah. Ia tanda kita tahu ke mana harus bergantung. Karena ketika bumi terasa sempit, langit selalu luas dan ketika manusia terasa tidak berubah, Allah tidak pernah berubah. Jangan lelah berdoa, sob. Karena doa bukan sekadar harapan.Ia adalah intervensi langit atas masalah bumi.
Barakallahufikum.[]
Nabila Zidane
Jurnalis
0 Komentar