BoP: Ilusi Perdamaian untuk Palestina, Umat Butuh Perisai


TintaSiyasi.id -- Media Israel, KAN News, melaporkan bahwa Indonesia akan menjadi negara pertama yang mengirim tentara ke Jalur Gaza sebagai bagian dari Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF). Sementara itu, pemerintah melalui Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyampaikan Indonesia berencana mengirimkan kurang lebih 8 ribu personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang akan menjadi pasukan perdamaian di Gaza, Palestina (SindoNews, 10-02-2026). Ini termasuk bagian dari komitmen Indonesia sebagai anggota Board of Peace.

Padahal, semua tahu bahwa pelaku kejahatan sesungguhnya adalah Israel atas dukungan penuh AS. Apa gunanya Indonesia mengirimkan tentara di bawah komando penjahat? Bagaimana mungkin perdamaian akan terwujud dari tangan pelaku genosida? Alangkah anehnya sikap negeri-negeri Islam yang siap dan rela mengirimkan tentara perdamaian, padahal sumber utama genosida adalah Israel dan AS?

Fakta menunjukkan akar persoalan genosida adalah pencaplokan tanah Palestina. Apalagi, Israel berulang kali menyepakati gencatan senjata. Parahnya, setiap kali gencatan senjata disepakati, setiap itu pula dilanggar. Piagam perdamaian yang dibuat tidak lain hanya menjadi alat legitimasi baru bagi Israel untuk menunjukkan pada dunia bahwa genosida yang dilakukan atas restu negara BoP.

Di atas meja perundingan, narasi BoP ini digambarkan sebagai oase bagi penderitaan warga Gaza. Namun, fakta di lapangan justru menyuguhkan realitas yang bertolak belakang. Dunia terlalu jahil jika masih menaruh kepercayaan pada janji-janji yang diinisiasi oleh Amerika Serikat. Bagaimana mungkin kita mempercayai sebuah "solusi perdamaian" dari pihak yang secara bersamaan menjadi pemasok senjata utama bagi sang agresor? Pelanggaran demi pelanggaran yang dilakukan Israel bukanlah ketidaksengajaan, melainkan strategi yang terencana.

Sesungguhnya, gencatan senjata, BoP, dan pengiriman tentara perdamaian tak lebih dari sekadar sandiwara politik AS-Israel. Tujuannya hanya untuk melanggengkan penjajahan dengan wajah yang lebih "sopan". Melalui narasi ini, AS berupaya mengunci perjuangan rakyat Palestina sehingga status penjajahan Israel tetap terjaga tanpa adanya perlawanan fisik yang berarti dari dunia luar.

Sangat miris melihat respons para penguasa negeri-negeri Muslim. Alih-alih menggunakan kekuatan militer untuk membela saudara seiman, mereka justru tampak tak punya nyali di hadapan hegemoni AS-Israel. Mereka memilih jalan aman di balik meja-meja konferensi. Bahkan, keterlibatan mereka dalam BoP hanya memberi legitimasi bagi para penjajah untuk terus menindas. Mereka akan siap mengirimkan tentara perdamaian di bawah komando AS. Mereka juga akan menyumbangkan dana yang tidak sedikit untuk rekonstruksi Gaza, lagi-lagi di bawah perintah Trump sebagai pimpinan BoP.

Zero toleran terhadap narasi gencatan senjata dan perdamaian yang digembar-gemborkan oleh AS-Israel sudah seharusnya menjadi sikap bersama umat. Umat tidak boleh lagi terjebak dalam lubang yang sama berulang kali. Narasi perdamaian ala Barat adalah racun yang hanya akan memperlama penderitaan di tanah diberkahi, Al-Quds.

Kebutuhan akan kesatuan umat dalam politik dan kepemimpinan kini menjadi semakin urgen. Perlawanan terhadap hegemoni kafir penjajah hanya bisa diimbangi dengan kesatuan di bawah kepemimpinan yang berani melawan hegemoni global, Khilafah Islamiyah.

Umat seharusnya menyadari bahwa solusi hakiki bagi Palestina adalah jihad. Islam memerintahkan pembelaan tanah yang dijajah dengan kekuatan fisik. Hanya Khilafah-lah yang memiliki legitimasi syar'i untuk menggerakkan tentara-tentara Muslim dari berbagai penjuru guna membebaskan Palestina. Tanpa Khilafah, umat ini akan terus menjadi penonton atas genosida.

Dalam kitabnya Mafahim Siyasi, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menyampaikan bahwa persoalan Timur Tengah merupakan persoalan yang rumit karena mencakup masalah Israel, lokasi yang strategis, umat Islam, dan minyak. Masalah Timur Tengah dan Palestina tidak akan bisa diselesaikan oleh negara besar mana pun. Hanya Khilafah yang mampu menyelesaikannya dengan mengusir Zionis dan hegemoni AS.

Ini menjadikan upaya dakwah dan penyadaran umat akan pentingnya penerapan Islam kaffah menjadi sangat fundamental. Dulu Rasulullah berdakwah dan membina sahabat di Makkah selama 13 tahun hingga akhirnya terwujud Daulah Islam di Madinah. Dakwah menegakkan khilafah juga harus meneladani Rasulullah. Allah Swt. berfirman:
"Katakanlah (Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (TQS Ali 'Imran: 32). Wallahualam bissawab.


Oleh: Nurjannah S
Aktivis Muslimah

0 Komentar