Bergabung dengan BoP demi Perdamaian Palestina, Omong Kosong Demokrasi?
MutiaraUmat.com -- Sangat jelas tergambar dalam realita dan terukir dalam sejarah panjang bahwa Palestina adalah negara yang paling menderita disebabkan oleh keberadaan zionis Yahudi. Dan telah jelas segala macam usaha damai tidak bisa menghentikan kebiadaban makhluk yang pernah dikutuk menjadi kera itu.
Berbagai macam resolusi dan gencatan senjata, tetap zionislah duluan yang melanggarnya. Lantas bagaimana mungkin pemimpin yang mayoritas Muslim terbesar ini bergabung dan menyumbangkan belasan triliun rupiah kepada organisasi (BoP) yang menyetujui keberadaan zionis di bumi Palestina?
Sungguh sangat miris dan logika yang sangat ngawur, ngelantur, ambigu, ahistoris, sekaligus membuktikan kebodohan serta ketidakberdayaan pemimpin Muslim yang "lahir" dari "rahim" sistem demokrasi. Katanya mendukung kemerdekaan Palestina. Katanya tidak tega melihat penderitaan rakyat Palestina yang berkepanjangan. Katanya ingin menghentikan genosida zionis Yahudi terhadap Palestina. Tapi yang dilakukan malah menerima serta mengajak umat untuk mengakui kepemilikan penjajahan atas bumi Palestina.
Memanglah pemimpin yang "lahir" dalam sistem demokrasi tidak akan ada untuk kemaslahatan umat. Dan tidak menginginkan kebaikan bagi umat ini. Seandainya mereka menginginkan kebaikan, mereka juga tidak akan mampu.
Jangankan untuk membuat keputusan membantu negeri Muslim yang tertindas, menentukan kebijakan untuk negeri sendiri pun tidak bisa. Sebab, pemimpin yang "lahir' dari sistem demokrasi adalah pemimpin boneka yang akan terus dikendalikan oleh penguasa tertinggi demokrasi yang saat ini diemban oleh AS (Amerika Serikat).
AS menjadi sebuah negara adidaya bukanlah dikarenakan kecanggihan teknologinya. Justru kecanggihan teknologi AS lahir ketika mereka mengemban sebuah ideologi. Yakni ideologi kapitalisme sekulerisme. Ideologi ini lahir dari proses kekacauan dan pertumpahan darah yang berabad-abad lamanya, akibat penindasan yang dialami oleh masyarakat Eropa disebabkan oleh penerapan aturan agama (Kristen) oleh Gereja yang bekerja sama dengan raja dalam mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Akhir dari kekacauan ini, diperolehlah sebuah kesepakatan (jalan tengah/moderat) diantara kedua belah pihak, yaitu agama (Kristen) hanya boleh dilaksanakan oleh individu, ditempat-tempat tertentu (tempat ibadah) saja. Sementara untuk urusan masyarakat dan negara wajib diatur oleh sistem diluar agama. Sehingga dibuatlah sistem pemerintahan berbentuk demokrasi guna mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dari peristiwa ini jugalah lahir istilah Kristen Protestan atau Kristen moderat yang dipelopori oleh Martin Luther
Untuk menjalankan sistem pemerintahannya, maka diadakanlah pemilu. Siapa yang terpilih, maka merekalah yang kelak akan melegislasi atau membuat hukum (undang-undang) sekaligus mengeksekusi berbagai aturan ditengah-tengah masyarakat terkait dengan ekonomi, politik, pergaulan, keamanan, sanksi, kesehatan dan lain-lain. Sistem pemerintahan demokrasi ini yang kita kenal dengan "Trias Politica" yaitu Legislatif, Eksekutif dan Yudikatif.
Dengan ideologi ini Barat berhasil bangkit serta mengembangkan berbagai sains dan teknologi, yang dahulu ditentang oleh agama mereka. Kebangkitan Barat ini dikenal dengan istilah "Revolusi Industri". Artinya telah terjadi perubahan mendasar (radikal) dan besar-besaran di Barat.
Dengan sains dan teknologi yang lahir dari ideologi kapitalisme inilah yang saat ini digunakan untuk menghancurkan negeri-negeri kaum Muslim Afganistan, Sudan, Irak, Iran Yaman, dan pastinya memfasilitasi genosida yang dilakukan zionis Yahudi terhadap Palestina.
Sebelum revolusi, Barat dikenal dengan masa "The Dark Age", masa kegelapan. Barat sama sekali tidak mengenal ilmu pengetahuan bahkan sekedar kebersihan. Seperti jarang mandi, bagi mereka mandi adalah sebuah aib. BAB dan BAK disembarang tempat. Yang kemudian kita ketahui lahirlah sepatu "high heels" guna menghindari kotoran manusia yang berserakan di setiap jalan yang dilewati.
Di tengah kegelapan yang dialami oleh masyarakat Barat, pada saat yang sama di negeri sebelah Timur (khilafah) sudah terang-benderang dengan berbagai macam ilmu, sains dan teknologi yang dihasilkan. Yang hingga saat ini ternyata telah banyak memberi sumbangsih bagi perkembangan dan kesuksesan peradaban Barat.
Namun, setelah Barat berhasil bangkit dengan pemikiran baru yang diembannya. Mereka berusaha menyingkirkan dan menggantikan posisi Islam sebagai negara adidaya dengan menyebarkan pemikiran/ideologi mereka ke tubuh daulah Islam. Mereka sebarkan ide-ide nasionalisme, demokrasi, dan mengompori rusaknya kehidupan akibat diperintah oleh agama (Islam) alias mengajak muslim untuk sekuler juga. Padahal agama (Islam) tidaklah sama dengan agama mereka (Kristen). Kondisi ini kita kenal dengan istilah ghazwu al-fikr atau ghazwu ats-tsaqafi (perang pemikiran atau perang kebudayaan).
Hingga akhirnya pada tanggal 3 Maret tahun 1924 Masehi runtuhlah kepemimpinan Islam Khilafah. Negara yang berhasil menjadi negara adidaya lebih kurang 14 abad lamanya, yang telah berhasil mengayomi dengan sangat baik dua pertiga dunia umat dari berbagai agama, suku, bangsa, dan bahasa. Termasuk Palestina yang selama berada didalam naungan khilafah Islam hidup berdampingan dengan aman dan damai tiga agama, yaitu Islam, Kristen dan Yahudi.
Dan setelah runtuhnya khilafah itulah Palestina diserahkan oleh Barat ke zionis Yahudi melalui lembaga "perdamaian" internasional PBB dengan membentuk sebuah negara Israel pada tahun 1948 Masehi. Di bumi Palestina bagian Barat (Gaza) terjadilah peristiwa Nakbah (pengusir besar-besaran warga Palestina. Semenjak saat itulah kondisi Palestina tidak pernah lagi aman dan nyaman hingga saat ini.
Sementara kondisi negeri Muslim lainnya hidup dalam sekat-sekat nasionalisme dan dipimpin oleh boneka-boneka AS yang dipilih dari sistem demokrasi yang menjaga kepentingan Barat. Maka jangan heran dan berharap banyak para pemimpin kaum Muslim akan membela Palestina. Karena itu, kita tidak menemukan ada satu pemimpin negara Muslim betul-betul berani melawan Barat.
Karena keberadaan zionis Yahudi di bumi Palestina disebabkan oleh runtuhnya khilafah dan digantinya sistem pemerintahan khilafah dengan demokrasi, maka untuk mengembalikan kedamaian, maka mau tidak mau kaum Muslim harus bahkan wajib mencampakkan sistem kapitalisme demokrasi dengan mengembalikan dan memperjuangkan sistem pemerintahan Islam khilafah. Wallahu a'lam bishshowab.
Oleh: Fadhilah Fitri, S.Pd.I.
Aktivis Muslimah
0 Komentar