Banjir dan Longsor Berulang: Saat Amanah Kepemimpinan Diabaikan
Mutiaraumat.com -- Bencana menjadi salah satu perhatian utama pemerintah saat ini. Terutama bencana banjir dan longsor. Disebabkan, tidak hanya satu atau dua wilayah yang terdampak bencana. Terlebih, nyawa yang melayangpun sudah berjumlah tidak terbendung.
Fakta Pilu
Bencana banjir dan longsor di ratusan daerah membuat banyak jiwa mengalami “kelumpuhan” dalam menjalani aktifitas. Proses belajar mengajar terhenti, karena bangunan sekolah terseret arus banjir; toko-toko tidak dapat beroperasi sebagaimana mestinya; tidak ada lagi keseruan aktifitas bersama keluarga di rumah, karena tidak hanya air dan pasir, tapi juga lumpur berikut gelondongan kayu menghantam rumah masyarakat.
Drainase bermasalah semakin memperburuk keadaan; jembatan terputus akibat arus air yang tidak dapat dibendung; fasilitas umum, seperti masjid, sekolah, rumah sakit dan lainnya yang disfungsi semakin menambah penderitaan rakyat yang terdampak.
Dilansir dari data BNPB, selama periode 1-25 Januari 2026, sudah ada 128 kejadian banjir dan 15 bencana tanah longsor di Indonesia. Dari total tersebut salah satu daerah yang mengalami dampak paling parah ialah Aceh Tamiang.
Bahkan, dijuluki bak kota mati, disebabkan akses jalan “lumpuh”, tiada penerangan, tiada makanan dan minuman, mobil dan motor ringsek, sampai bau mayat menyengat di bawah puing-puing bangunan atau pepohonan yang belum kunjung dievakuasi (BBCNewsIndonesia, 06/12/2025)
Lalainya Penanganan
Kesukaran yang dialami rakyat tidak cukup sampai disana. Darurat banjir dan juga longsor akan terus berlanjut di beberapa wilayah Indonesia apabila pihak yang berwenang lalai dalam memperhatikan faktor-faktor yang menyebabkan bencana banjir dan longsor.
Pemerintah, merupakan pihak yang paling utama bertanggungjawab dalam mengentaskan bencana ini. Nahasnya, pihak pemerintah pula yang menjadi salah satu dalang bencana. Dimulai dari regulasi yang amburadul; proses perizinan eksploitasi sebuah wilayah yang tidak memperhatikan amdal; bahkan semakin memiliki gelora untuk membuka lahan sawit baru di tanah Papua.
Paradigma kapitalisme telah merusak sendi kehidupan dan menghanyutkan harapan rakyat akan kesejahteraan dan keamanan. Mengguritanya posisi kapitalisme di negeri yang rawan terjadi bencana ini, mengakibatkan duka dan luka yang dialami Masyarakat kian menganga.
Mengapa tidak?, pemerintah menjadikan untung dan rugi peribadi tolak ukur dalam membuat keputusan. Mengedepankan kepentingan korporat dibanding kepentingan rakyat kian menampakkan wajah asli negeri.
Bahwa, Indonesia bukan negeri yang berpatokan pada slogan “ demokrasi ‘dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat’ lagi”, akan tetapi negeri bagi korporatokrasi.
Bencana banjir dan longsor akan berlanjut, jika sikap pemerintah menangani bencana masih lalai. Baik lalai dalam aspek preventif: membangun bendungan, memperhatikan drainase, perhatikan tata kelola wilayah “AMDAL” dan seterusnya.
Maupun dalam aspek kuratif: memberikan bantuan makanan, pakaian, obat-obatan, mental healing, Pembangunan Kembali, dan sebagainya.
Solusi Holistik
Berharap penyelesaian bencana ini pada manusia (pemerintah) memang akan menyisakan penyesalan mendalam. Satu-satunya tempat berharap yang memberikan solusi komprehensif terhadap bencana banjir dan longsor hanya Allah Swt (dalil)
Hakikatnya sungai, bukit, lembah, hutan, tambang, dan seluruh sumber daya alam diciptakan Allah untuk kemanfaatan hidup, bukan mendatangkan kerusakan.
Seperti yang dikabarkan Rasulullah Saw:
“Kaum muslim berserikat pada tiga hal: padang rumput, api, dan air (HR. Abu Dawud dan Ahmad).
Hutan, akan dirasakan manfaatnya dalam hidup oleh seluruh rakyat apabila menjadikan akidah Islam sebagai aturan dalam sistem pemerintahan. Berikutnya, menjalankan syariat Islam dan hukum Allah dalam semua elemen kehidupan.
Ketakwaan melekat pada setiap individu. Berikutnya, dahsyat hari pertanggungjawaban amal, dan senantiasa melekatnya filosof mazju al madah bi ar-ruh “mengintegrasikan materi dengan ruh”.
Menghasilkan pejabat dan rakyat berpola pikir dan pola sikap sesuai dengan apa yang Allah mau, bukan apa yang “tuannya” suka.
Dan semua itu hanya akan berlaku tatkala mencampakkan system kapitalisme dan menerapkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Wallahu’alam bishshawwab.[]
Oleh: Siska Ramadhani, S.Hum
(Aktivis Muslimah)
0 Komentar