Tenang Karena Ilmu, Kuat Karena Allah


MutiaraUmat.com -- Di dunia yang gaduh seperti sekarang, satu hal sering terlupa, yaitu yang paling berisik bukan yang paling benar, tapi yang paling takut ketahuan salah.

Orang yang berdiri di atas kebenaran biasanya tidak butuh teriak. Ia tenang. Ia mantap. Ia tidak tergesa membela diri karena ia tahu bahwa kebenaran tidak perlu panik. Sebaliknya, yang salah selalu gelisah.

Ia mudah emosi, mudah menyerang, mudah memutarbalikkan fakta, karena di dalam hatinya ada ketakutan, takut kebohongannya terbongkar.

Di sinilah peran ilmu menjadi cahaya. Ilmu bukan hanya untuk menjawab soal ujian sekolah. Ilmu adalah alat untuk membaca kehidupan. Ilmu membuat kita tahu mana yang haq dan mana yang batil. Ilmu mengajarkan kapan harus bicara dan kapan harus diam.

Syaikh Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari berkata dalam Al-Hikam,

Istirahatkan dirimu dari mengatur urusan.
Apa yang telah diurus oleh selainmu untukmu, jangan kau sibukkan dirimu mengurusnya.”

Maknanya dalam sekali, sob. Orang yang punya ilmu dan iman tidak sibuk membela diri secara emosional. Ia tahu bahwa Allah sedang mengatur segalanya. Tugas kita bukan membalas, tapi tetap berada di jalan yang benar. Karena siapa yang benar tidak takut waktu. Yang salah justru dikejar waktu.

Ilmu melahirkan sabar yang cerdas, bukan sabar pasif. Sabar yang tahu kapan menahan diri, dan kapan berdiri.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa orang berilmu tidak mudah terpancing emosi karena ia memahami akibat.

Orang bodoh marah sekarang,
orang berilmu berpikir panjang.

Beliau berkata dalam Ihya Ulumuddin,

“Orang yang dikuasai amarah adalah tawanan nafsunya. Sedangkan orang yang berilmu menguasai dirinya dengan akal dan iman.

Itulah mengapa orang berilmu terlihat tenang. Bukan karena tidak diserang, tapi karena ia tidak mau ditarik turun ke level emosi.

Sob, dalam konflik hidup, seperti rumah tangga, pekerjaan, fitnah, atau perebutan hak dan yang paling aman bukan yang paling galak,
tapi yang paling paham. Paham posisi. Paham hukum. Paham kebenaran. Dan paham bahwa Allah Maha Adil.

Syaikh Ibnu ‘Atha’illah juga berkata,
“Jika engkau ingin mengetahui kedudukanmu di sisi Allah, lihatlah di mana Dia menempatkanmu.”

Kalau hari ini Allah menempatkanmu dalam ujian, bukan berarti Dia membencimu. Justru mungkin Dia sedang mengangkatmu. Membersihkanmu. Menguatkanmu. Karena orang yang dipilih untuk naik kelas memang harus diuji dulu.

Orang yang salah biasanya ribut, karena ribut adalah cara menutupi ketakutan. Sedangkan orang yang benar tenang, karena ia tahu,
kebenaran itu seperti matahari,
tak perlu berteriak, tetap akan terbit.

Imam Asy-Syafi’i berkata,

“Jika kamu benar, kamu tidak perlu marah. Jika kamu marah, besar kemungkinan kamu sedang tidak yakin.”

Maka jangan takut saat kamu tenang. Tenang bukan lemah. Tenang adalah tanda kamu berdiri di atas ilmu. Dan ilmu tidak pernah kalah.

Ilmu mungkin diuji. Olmu mungkin diperlambat.
Tapi ilmu tidak pernah dikalahkan. Sabar sedikit, sob. Yang salah memang selalu lebih berisik. Yang benar sedang disiapkan Allah untuk menang dengan cara-Nya.

Dan ketika Allah yang menjadi pembelamu, tak perlu banyak bicara. Cukup tetap di jalur ilmu dan iman. Karena di ujung semua ini, yang menang bukan yang paling emosi, tapi yang paling benar dan paling sabar.

Oleh: Nabila Zidane
Jurnalis 

0 Komentar