Sikap yang Benar Saat Ujian Datang
MutiaraUmat.com -- Ujian dalam hidup bukan tanda bahwa Allah membenci kita. Justru sering kali, ia adalah tanda bahwa Allah sedang memperhatikan kita.
Masalahnya bukan pada besarnya badai, tetapi pada sikap hati saat badai datang.
Banyak orang ketika diuji langsung jatuh pada tiga "M", yaitu mengeluh, menyalahkan, dan meratapi. Padahal tiga "M" itu tidak pernah menyelesaikan apa pun, tapi justru melemahkan jiwa dan mengaburkan hikmah.
Sikap orang beriman berbeda. Ia memilih tenang ketika dunia ribut. Ia memilih lapang dada ketika keadaan sempit. Ia memilih sabar ketika hatinya ingin marah.
Syekh Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari berkata dalam Al-Hikam, “Jangan heran jika doamu belum dikabulkan, karena Allah tahu waktu yang paling tepat untuk memberimu, bukan waktu yang kamu inginkan.”
Ujian sering bukan penolakan, tetapi penundaan penuh cinta, maka belajar dan bertumbuh di tengah tekanan. Ujian tidak datang untuk menghancurkan, tetapi untuk mengajarkan. Karena itu, sikap orang beriman bukan “Mengapa ini terjadi padaku?” tetapi “Apa yang Allah ingin aku pahami dari ini?”
Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa musibah adalah cermin jiwa. Ia akan memperlihatkan, seberapa kuat iman kita, seberapa jujur kita kepada Allah, dan seberapa dewasa kita memandang hidup. Orang yang tidak belajar dari ujian akan mengulang luka yang sama.
Rumah Tangga yang Kuat Lahir dari Iman yang Kuat
Dalam rumah tangga, ujian akan datang dalam banyak bentuk, tekanan ekonomi,
perbedaan sikap, fitnah, atau luka yang tak terduga.
Pasangan yang lemah iman akan saling menyalahkan. Sedangkan pasangan yang kuat iman akan saling menggenggam. Mereka mungkin lelah, kedinginan, bahkan nyeri di segala penjuru jiwa, tetapi mereka tetap berjalan bersama. Karena mereka tahu, musuh mereka bukan pasangan, tapi bisikan setan yang berusaha menggoyahkan keimanan.
Imam Asy-Syafi’i berkata, “Siapa yang tidak sabar atas kepahitan belajar, ia akan hidup dalam kehinaan kebodohan.”
Ini berlaku juga dalam rumah tangga. Tanpa kesabaran dan ilmu, cinta mudah runtuh. Dengan iman dan kesabaran, cinta menjadi kokoh.
Percaya pada Rencana Allah
Syekh Ibnu ‘Atha’illah juga berkata, “Apa yang telah ditentukan untukmu tidak akan meleset darimu, dan apa yang tidak ditetapkan untukmu tidak akan pernah sampai kepadamu.”
Kalimat ini adalah obat bagi hati yang gelisah. Jika hari ini terasa berat, bukan berarti Allah sedang menjatuhkanmu. Bisa jadi Dia sedang mengangkatmu lebih tinggi
daripada yang mampu kamu bayangkan.
Oleh karena itu sob, ujian tidak datang untuk mematahkan, tetapi untuk memurnikan. Maka jangan hadapi ujian dengan keluh kesah, tetapi dengan iman, ilmu, dan kesabaran.
Jangan saling menyalahkan, tapi saling menguatkan. Karena rumah tangga yang dibangun di atas iman tidak akan runtuh oleh badai, tapi justru akan berdiri semakin tegak, lebih kuat, dan lebih indah di mata Allah.[]
Nabila Zidane
Jurnalis
0 Komentar