Pengeroyokan Guru di Sekolah, Potret Buram Dunia Pendidikan
Tintasiyasi.id.com -- Baru-baru ini telah viral sebuah video di berbagai media sosial, dimana dalam unggahan video tersebut terlihat sejumlah siswa telah mengeroyok seorang guru di sekolah.
Dalam video yang beredar, bahwa pemicu pengeroyokan itu terjadi berawal saat seorang guru melewati suatu ruang kelas saat proses belajar mengajar. Lalu Ia mendengar salah satu seorang siswa menegurnya dengan kata yang tidak pantas.
Sang guru yang mendengar itu, diapun langsung masuk di dalam kelas di mana suara itu berasal. Lalu menanyakan siapa yang memanggilnya dengan ungkapan yang tidak pantas.
Seorang siswa mengakuinya, bahwa dia yang mengatakan itu dengan cara menantang. Akhirnya, sang guru pun dengan amarah yang membara refleks menampar wajah siswa tersebut. Katanya, selama kurang lebih 15 tahun mengajar, baru kali ini dia memukul atau menampar seorang murid.
Kejadian tak sampai di situ, pengeroyokan pun akhirnya terjadi ketika mediasi menuai jalan buntu. Kata seorang siswa bahwa sang guru tersebut mulutnya kasar dan suka menghina.
Sementara di satu sisi. Sang guru mengatakan, bahwa perkataannya tersebut bukan suatu hinaan. Melainkan motivasi untuk semua siswa.
"Iya saya melontarkan kata tersebut sebagai motivasi untuk semua siswa, saya mengatakan secara umum. Saya tidak bermaksud mengejek. Saya mengatakan, 'Kalau kita kurang mampu, kalau bisa jangan bertingkah macam-macam'. Itu secara motivasi pembicaraan," Ungkapnya.
Oleh sebab itu, karena kejadian ini akhirnya sang guru melaporkan ke Dinas Pendidikan untuk menengahi kasus tersebut. Selain melaporkan ke Dinas Pendidikan, akhirnya sang guru pun melaporkan ke Polda.
Dilansir dari detik.Sumbagsel, Jumat (16/1), Agus (guru) melaporkan kasus tersebut didampingi kakak kandungnya, Nasir, pada Kamis (15/1) malam. Agus menjalani proses pemeriksaan selama lima jam di SPKT Polda Jambi.
"Kita bikin laporan tentang kasus pengeroyokan yang dilakukan siswa. Kondisi adik saya masih pusing, tadi di-BAP dari jam 4 sore, baru selesai sekarang," kata Nasir saat ditemui di Polda Jambi.
Nasir mengungkapkan alasan pihaknya mengambil langkah hukum tersebut, sebab Agus adiknya yang telah dikroyok oleh sejumlah siswanya kini mengalami ketidaknyamanan secara psikis setelah kasus tersebut viral di media sosial.
"Karena sudah viral, ya, ada yang merugikan adik saya secara mental. Psikisnya terganggu, nama baiknya tercoreng di media sosial dan warga. Jadi kami sebagai warga negara berhak melaporkan tindakan pengeroyokan ini, " ujar Nasir
Akibat dari kejadian itu, Agus sang guru itu juga mengalami lebam di bagian tubuhnya, seperti punggung, tangan, dan pipi. Agus telah melakukan visum.
Hingga saat ini belum ada titik terang atas kasus tersebut. Masih dalam proses penyelidikan, sebab belum diketahui pasti siapa yang terlebih dahulu membuat onar, hingga terjadi pengeroyokan.
Perlu kita ketahui. Bahwa kasus antara guru dan murid ini sudah sering terjadi. Ini bukan baru pertama kalinya, bahkan kasus-kasus yang terjadi sebelumnya, seorang guru yang sampai masuk dalam ruang tahanan, bahkan hingga kehilangan nyawa.
Sangat disayangkan, harusnya proses belajar mengajar itu menjadi damai dan tentram. Seorang guru mengajar dengan ikhlas dan kasih sayang, sementara seorang murid harus memiliki adab yang tinggi terhadap sang guru.
Jika hal tersebut diterapkan dalam individu masing-masing, maka kasus intimidasi dalam dunia pendidikan ini tidak akan terjadi, karena masing-masing memiliki kesadaran yang penuh.
Namun tak dapat dipungkiri. Dalam sistem kapitalis, potret dunia pendidikan makin buram. Dimana seorang guru harusnya menjadi teladan yang baik bagi siswanya, namun banyak juga guru yang justru sebaliknya. Begitu pun seorang siswa, harusnya mereka menghormati seorang guru dengan penuh penghormatan yang tinggi, namun tak jarang banyak guru mendapat intimidasi dari para siswa.
Dalam dunia pendidikan Islam. Guru itu dihargai, dihormati sepenuh hati serta dimuliakan. Namun guru juga harus bisa menjadi teladan yang baik bagi para murid. Sebab, para murid mereka tidak membutuhkan guru yang cerdas, namun mereka membutuhkan guru yang penuh kasih sayang dan memberi teladan yang baik bagi mereka.
Namun, untuk mencetak guru serta generasi yang berakhlak. Tentu saja tidak bisa dicetak dalam sistem yang rusak. Harus ada sistem yang memadai, sehingga bukan hanya perbaikan individu. Namun perbaikan secara kaffah (keseluruhan). Wallahu'alam bishshawwab.[]
Oleh: Siti Rahmah, A. Md. Kom (Penulis Opini Muslimah Cinta Qur'an)
0 Komentar