Miris, 67 Persen Gen Z Jadi Pengangguran
Mutiaraumat.com -- Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengungkapkan bahwa hampir 67 persen pengangguran merupakan generasi Z atau Gen Z (Kompas.com, 17 desember 2025).
Di tengah janji pemerintah yang akan membuka 19 juta lapangan pekerjaan tetapi fakta dilapangan ketersediaan lapangan pekerjaan itu jauh dari kenyataan.
Mengapa begitu banyak Gen Z yang menganggur, apakah karena Gen Z malas? Atau karena sistemnya yang tak berpihak?
Banyaknya Gen Z yang menjadi pengangguran bisa disebabkan oleh banyak faktor, dari masalah struktural, sistem pendidikan hingga kondisi ekonomi. Berikut uraiannya:
Pertama, Ketidaksesuaian pendidikan dengan kebutuhan industri. Banyak lulusan Gen Z yang mnguasai teori, tapi minim skill praktis. Ini disebabkan salah memilih jurusan atau jurusannya tidak dibutuhkan pasar.
Kedua, Kurikulum sekolah/kampus tertinggal dari realitas dunia kerja. Akibatnya: ijazah ada, kompetensi tidak siap pakai.
Ketiga, Lapangan kerja menyempit, bonus demografi tak dikelola. Indonesia punya bonus demografi, tetapi Industri padat karya justru melemah. Banyak perusahaan yang melakukan efisiensi, PHK masal, dan otomatisasi.
Keempat, Lapangan kerja tidak tumbuh secepat jumlah pencari kerja.
Dari uraian di atas, banyaknya Gen Z yang menganggur bukan murni kesalahan karena Gen Z tetapi ini masalah negara dan sistem ekonomi.
Seperti diketahui bersama negara Indonesia saat ini menganut sistem ekonomi kapitalistik. Dalam sistem ini perusahaan mengejar efisiensi & laba, bukan penyerapan tenaga kerja. Tenaga manusia digantikan mesin/AI, negara lepas tangan dan menyerahkan pasar pada swasta.
Akibatnya pengangguran struktural terus bertambah, standar rekrutmen makin tinggi, upah makin rendah. Fresh graduate dituntut untuk berpengalaman tetapi gaji tidak sebanding dengan biaya hidup.
Sehingga banyak pekerjaan bersifat kontrak, freelance, dan tidak stabil. Akhirnya sebagian Gen Z menunda kerja atau menolak kerja tidak layak.
Selain itu, dari sisi Gen Z nya sendiri juga tidak sedikit yang memiliki mentalitas rendah dan ekspektasi tinggi dalam mendapatkan gaji meskipun faktor ini minor tapi nyata.
Sebagian Gen Z terbiasa instan karena pengaruh media sosial, ingin kerja cepat sukses, fleksibel, gaji besar, kurang tahan tekanan dunia kerja. Namun itu bukan faktor utama, hanya sebagai dampak lingkungan dan sistem.
Faktor yang paling besar pengaruhnya justru dari sistem yang diterapkan saat ini di mana sistem saat ini lebih pro oligarki dari pada mensejahterakan rakyat. Jadi ini adalah krisis sistemik, bukan krisis generasi.
Islam Punya Aturan Terkait Penyediaan Lapangan Kerja
Dalam Islam, negara berfungsi sebagai pengatur urusan rakyat sehingga negara berkewajiban untuk menyediakan seluas-luasnya lapangan pekerjaan bagi rakyatnya.
Bekerja adalah kewajiban individu (laki-laki) dan menyediakan kerja adalah kewajiban negara. Negara tidak boleh lepas tangan ketika rakyat menganggur. Perintah bagi individu laki-laki untuk bekerja termaktub dalam firman Allah Swt:
“Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya.” (QS. Al-Mulk: 15).
Ayat ini memerintahkan untuk bekerja, tetapi perintah ini tidak akan berjalan jika negara menutup atau membiarkan akses kerja rusak. Negara adalah ra’in (pengurus), bukan sekadar regulator.
Rasulullah ï·º bersabda:
“Imam (kepala negara) adalah ra’in (pengurus) dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Artinya negara itu harus bersifat aktif mengurus rakyatnya bukan hanya sekadar membuat aturan tetapi juga harus memastikan apakah rakyatnya itu bisa hidup layak atau tidak. Termasuk terkait dengan lapangan kerja. Dalam Islam, negara berdosa jika membiarkan pengangguran massal karena kewajiban negara menjamin kebutuhan pokok individu per individu.
Ketika khalifah Umar bin Khattab memimpin, Umar paling membenci pengangguran. Umar RA berkata:
“Aku tidak suka melihat seseorang duduk tanpa kerja, lalu berkata: ‘Ya Allah beri aku rezeki’.”
Artinya, kepala negara itu harus mendorong rakyatnya untuk bekerja berikut menyediakan juga lapangan pekerjaannya. Dalam Islam, lelaki wajib bekerja untuk menafkahi keluarganya Tetapi negara lebih wajib lagi menyediakan lapangan pekerjaan.
Maka, banyaknya pengangguran pada Gen Z bukan semata-mata karena kegagalan generasi tetapi merupakan tanda kegagalan sistem yang diterapkan saat ini.
Sudah saatnya beralih pada sistem Islam yang akan menyediakan lapangan pekerjaan yang produktif bagi generasi Z.[]
Oleh: Emmy Emmalya
(Analis Mutiara Umat Institute)
0 Komentar