Menjaga Lisan Saat Sumpah Serapah Dianggap Biasa adalah Keberanian Iman
MutiaraUmat.com -- Zaman sekarang, berbicara kasar seolah menjadi gaya hidup. Kata-kata kotor, umpatan, dan ejekan diperlakukan seperti bumbu wajib dalam obrolan, konten media sosial, bahkan percakapan sehari-hari. Seakan tanpa sumpah serapah, seseorang dianggap kurang “asik”, kurang “real”, atau tidak cukup ekspresif. Padahal di balik itu semua, ada satu hal yang sedang perlahan terkikis: kehormatan lisan.
Islam sejak awal menempatkan lisan sebagai amanah besar. Bukan sekadar alat berbicara, tapi pintu pahala dan dosa. Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kalimat ini sederhana, tetapi sangat dalam. Artinya, kualitas iman seseorang bisa diukur dari cara ia berbicara. Lisan bukan ruang bebas tanpa tanggung jawab, melainkan bagian dari ibadah.
Al-Qur’an pun menegaskan, “Tidak ada satu kata pun yang diucapkannya melainkan ada malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (TQS. Qaf: 18).
Bayangkan, setiap kata yang keluar dari mulut kita dicatat. Bukan hanya ceramah dan doa, tapi juga umpatan, hinaan, dan cemoohan. Maka tidak ada yang benar-benar sepele dalam ucapan.
Syekh Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari dalam Al-Hikam berkata, “Hati yang penuh cahaya akan melahirkan lisan yang terjaga.”
Jika lisan seseorang kotor, kasar, dan gemar menyakiti, itu sering kali bukan sekadar masalah kebiasaan, tetapi tanda bahwa hatinya sedang kering dari zikir dan kesadaran kepada Allah.
Ulama besar Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa lisan adalah salah satu anggota tubuh yang paling banyak menyeret manusia ke neraka. Karena lewat lisan, seseorang bisa berdusta, memfitnah, menghina, mengadu domba, dan merendahkan orang lain, semua itu bisa dilakukan hanya dengan beberapa kata.
Ironisnya, di era media sosial, lisan tidak lagi hanya berbentuk suara, tetapi juga tulisan. Satu komentar, satu status, satu caption bisa menjadi dosa yang terus mengalir selama ia dibaca orang. Umpatan yang dulu hanya terdengar sesaat, kini bisa bertahan bertahun-tahun di dunia digital.
Padahal Islam mengajarkan adab yang sangat tinggi dalam berbicara. Bahkan kepada orang yang tidak kita sukai, Allah memerintahkan Musa untuk berbicara dengan Fir’aun dengan kata-kata yang lembut. Jika kepada tiran saja diperintahkan santun, apalagi kepada sesama manusia biasa.
Syekh Ibnu ‘Atha’illah juga mengingatkan, “Jangan engkau meremehkan satu dosa kecil, karena siapa tahu itulah yang menjatuhkanmu.”
Sering kali orang menganggap kata-kata kasar itu ringan, cuma bercanda, cuma ekspresi. Padahal di sisi Allah, bisa jadi itu adalah bukti kelalaian hati dan kurangnya rasa takut kepada-Nya.
Menjaga lisan bukan berarti menjadi kaku atau munafik. Ia berarti memilih kata yang tidak melukai, tidak merendahkan, dan tidak menodai kehormatan orang lain. Kita boleh tegas, kita boleh berbeda pendapat, tetapi tidak perlu menjadi kasar.
Di dunia yang semakin ribut, orang yang menjaga lisannya justru tampak lebih tenang, berwibawa, dan bermartabat. Karena ketenangan batin selalu tercermin dalam kelembutan ucapan.
Maka di zaman ketika sumpah serapah dianggap biasa, menjaga lisan justru menjadi bentuk keberanian iman. Keberanian untuk berbeda. Keberanian untuk tetap bersih. Keberanian untuk berkata baik atau memilih diam.
Karena pada akhirnya, kata-kata kita akan kembali kepada kita. Jika kita menanam hinaan, kita akan menuai kehampaan. Jika kita menanam kebaikan, kita akan menuai ketenangan dan di hadapan Allah, yang ditanya bukan seberapa lantang kita bicara, tetapi seberapa jujur, seberapa santun, dan seberapa bertanggung jawab setiap kata yang kita lepaskan.[]
Nabila Zidane
Jurnalis
0 Komentar