Menjadi Ibu Generasi Ideologis dan Pelopor Perubahan
Mutiaraumat.com -- Bulan Desember ada satu momentum sebuah perayaan yang disebut Hari ibu dan diperingati setiap tanggal 22 Desember. Peringatan ini merupakan sebuah momentum penting untuk mengenang semangat, perjuangan, dan pengabdian perempuan Indonesia dalam berbagai bidang kehidupan.
Momentum hari ibu banyak dirayakan di Indonesia dengan berbagai macam kegiatan seperti perlombaan beryanyi, fashion show, dan lain sebagainya. Hari Ibu bukan haya sebuah ungkapan kasih kepada sosok ibu tetapi juga sebagai peringatan untuk peran yang sangat strategis perempuan sebagai penggerak perubahan, penopang bangsa, dan penjaga nilai-nilai kemanusiaan.
Sekularisasi pemuda, baik di dunia nyata maupun digital, menyebabkan generasi kehilangan jati dirinya sebagai Muslim dan sebagai pelopor perubahan.
Sedangkan dari sisi kaum ibu tak kalah memprihatinkan, terlihat dari degradasi peran mereka adalah sebagai ummun wa rabbatul bayt dan pendidik generasi penerus, tetapi mereka menjadi malah menjadi korban sistem Kapitalisme.
Akar Persoalan Sekularisme dan Kapitalisme
Digitalisasi berada di bawah tangan hegemoni Kapitalisme, yang tidak hanya bertujuan ekonomi tetapi juga menyebarkan ideologi batil dan akan menjauhkan umat dari pemikiran Islam ideologi.
Aturan yang mereka terapkan sangat bertentangan dengan pemikiran Islam. Sasaran utama mereka adalah generasi muda dan kaum ibu sebgai objek komersil yang bertujuan menjauhkan mereka dari Islam Kaffah.
Akar persoalan terletak pada penerapan sistem sekularisme dan kapitalisme yang menjadi paradigma bernegara, sehingga peran agama dibatasi pada ranah privat (pribadi). Sistem ini berangapan seorang ibu akan dinilai mulia jika bekerja.
Sesuai penerapan jargon mereka “Pemberdayaan Ekonomi Perempuan”, seorang ibu dipaksa bekerja dan meningalkan rumah mereka hanya karena alasan ekonomi.
Dalam Islam ibu boleh saja bekerja tetapi tidak diwajibkan. Kewajiban dalam memberi nafkah ada pada suami. Sehingga para ibu tidak perlu memikirkan baimana cara memenuhi kebutuhan keluarga karena sudah ditanggung suami.
Para ibu fokus dan konsisten dalam mendidik anak dan mengurusi keluarganya.
Islam mengizinkan kaum perempuan untuk bekerja, tetapi tidak pada kondisi penghinaan dan penindasan, melainkan dalam kondisi lingkungan yang terjamin keamanan dan bermartabat, sehingga statusnya di masyarakat selalu terjaga.
Solusi Jamaah Dakwah Ideologis
Dalam penerapan sistem Kapitalisme saat ini, kehadiran jamaah dakwah Islam ideologis menjadi sangat urgen (penting) dalam membina para ibu dan generasi muda supaya mempunyai landasan dasar kepribadian Islam dan siap untuk memperjuangkan kebangkitan Islam.
Landasan bagi kewajiban jamaah Islam yang memiliki visi ideologis dan tujuan perubahan sistemik, sesuai Firmaan Allh SWT:
وَلۡتَكُنۡ مِّنۡكُمۡ اُمَّةٌ يَّدۡعُوۡنَ اِلَى الۡخَيۡرِ وَيَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡكَرِؕ وَاُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ
"Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. 1 Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali Imran: 104).
Rasulullah ﷺ, adalah teladan bagi kita untuk membentuk jamaah dakwah dan membina umat, termasuk ibu dan generasi muda, dengan Islam ideologis, menyiapkan mereka menjadi pelopor peradaban yang membela dan mengemban Islam kaffah.
Pembinaan (tatsqif) adalah tahapan awal metode dakwah Rasulullah di fase Makkah, yang kemudian dilanjutkan dengan interaksi dengan umat dan berakhir pada istilamul hukmi (penyerahan kekuasaan untuk penerapan Islam sebagai sistem kehidupan).
Wallahu a'lam bish-showab.
#DuaGenerasiSatuAmanah
#GenerasiPenerusRisalahIslam
#GenerasiPeloporPerubahan
Oleh: Fitri Susilowati
(Aktivis Muslimah)
0 Komentar