Menikah Itu Ibadah Terpanjang, Bukan Sekadar Pelampiasan Hasrat
Tintasiyasi.id.com -- Di zaman serba instan, pernikahan sering direduksi menjadi sekadar solusi biologis. Pokoknya halal, selesai. Padahal, menikah dalam Islam bukan cuma soal menundukkan hawa nafsu, tapi tentang memulai ibadah terpanjang dalam hidup manusia.
Sebuah perjalanan ruhani, sosial, dan peradaban yang menuntut kesabaran, kedewasaan, dan ketakwaan tingkat tinggi.
Islam tidak pernah memandang pernikahan sebagai urusan sepele. Ia adalah akad suci, perjanjian berat yang disaksikan Allah, bukan kontrak ringan yang bisa diputus hanya karena emosi sesaat. Pernikahan bukan arena pamer romantika, melainkan ladang amal jariyah yang panjang dan melelahkan, tapi penuh pahala.
Rasulullah Saw bersabda,
"Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu memikul tanggung jawab keluarga, maka menikahlah. Karena ia lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kehormatan."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Perhatikan kalimatnya, mampu memikul tanggung jawab. Artinya, menikah bukan sekadar soal siap biologis, tapi siap mental, spiritual, dan tanggung jawab. Siap menafkahi, mendidik, membimbing, memimpin, serta memikul beban rumah tangga dengan lapang dada.
Allah pun berfirman,
"Dan nikahkanlah orang-orang yang masih sendiri di antara kalian. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya."
(QS. An-Nur: 32)
Ayat ini mengajarkan optimisme, tapi bukan kecerobohan. Allah menjamin kecukupan bagi yang menikah, bukan bagi yang nekat tanpa tanggung jawab.
Masalahnya, hari ini banyak orang masuk ke gerbang pernikahan dengan bekal nafsu, bukan kesadaran. Ketika romantika memudar dan ujian datang, rumah tangga pun goyah. Padahal, dari awal menikah itu bukan kontrak bahagia, melainkan komitmen taat.
Syaikh Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari mengingatkan,
"Tenangnya hati bukan karena menguasai keadaan, tetapi karena menyerahkan diri kepada Allah."
Dalam rumah tangga, ketenangan tidak lahir dari pasangan yang sempurna, tapi dari hati yang bersandar penuh kepada Allah. Sebab, tidak ada pasangan tanpa cela. Yang ada hanyalah dua manusia rapuh yang sedang belajar taat bersama.
Syaikh Ibnu ‘Atha’illah juga berkata,
"Jangan menunggu keadaan ideal untuk beramal, karena Allah tidak pernah menunda pahala bagi orang yang ikhlas."
Pernikahan adalah ruang latihan ikhlas paling panjang. Ikhlas menghadapi pasangan yang tidak selalu sesuai harapan. Ikhlas menerima kekurangan. Ikhlas menahan ego. Ikhlas memaafkan. Ikhlas melayani. Ikhlas berjuang. Dan semua ini bernilai ibadah.
Dalam perspektif ideologis Islam, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, pernikahan bukan hanya hubungan emosional, tetapi institusi pembentuk peradaban.
Keluarga adalah unit terkecil negara. Dari rumah tangga lahir generasi. Dari generasi lahir masa depan umat. Karena itu, pernikahan dalam Islam tidak boleh dibangun di atas logika cinta semata, apalagi nafsu belaka. Ia harus berdiri di atas akidah dan syariat.
Suami adalah qawwam, pemimpin yang bertanggung jawab, bukan sekadar penyedia materi. Istri adalah penjaga kehormatan dan pendidikan iman generasi, bukan sekadar pengurus rumah.
Ketika pernikahan dijalankan tanpa kesadaran ideologis ini, rumah tangga mudah rapuh. Sebab orientasinya sempit, hanya bahagia dunia.
Padahal orientasi Islam jauh lebih tinggi, yaitu meraih ridha Allah dan membangun peradaban.
Di sinilah letak kemuliaan pernikahan. Ia bukan pelarian dari sepi, bukan solusi dari kesepian, bukan juga sekadar jalan halal melampiaskan syahwat. Ia adalah jihad panjang yang menuntut kesabaran, keikhlasan, dan kedewasaan iman.
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menegaskan bahwa sistem pergaulan Islam bertujuan menjaga kehormatan, keturunan, dan stabilitas sosial. Pernikahan menjadi benteng utama agar relasi laki-laki dan perempuan berjalan terhormat, terarah, dan bermartabat.
Tanpa sistem ini, masyarakat akan tenggelam dalam kekacauan moral, kerusakan keluarga, dan generasi yang kehilangan arah.
Maka menikah sejatinya bukan hanya urusan dua insan, tapi urusan umat dan peradaban. Rumah tangga yang lurus akan melahirkan generasi tangguh. Sebaliknya, rumah tangga yang rusak akan melahirkan luka sosial yang panjang.
Karena itu, siapa pun yang melangkah ke pernikahan, hendaknya bertanya pada dirinya sendiri,
"Aku menikah untuk apa? Untuk bahagia sesaat, atau untuk beribadah seumur hidup?"
Jika jawabannya yang kedua, maka bersiaplah menghadapi ujian dengan lapang dada. Sebab pernikahan bukan tentang siapa yang paling dicintai, tetapi siapa yang paling mau berjuang dan bertahan.
Sebab pada akhirnya, menikah bukan tentang seberapa romantis kisah cinta kita, tapi seberapa kuat iman kita saat cinta diuji. Karena menikah adalah ibadah terpanjang dan ibadah tidak pernah ringan.
Tapi selalu bernilai surga. Barakallahufikum.[]
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)
0 Komentar