Mengincar Untung dari Lumpur Bencana, Menyedihkan!


MutiaraUmat.com -- Banjir dan longsor yang melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat di penghujung tahun 2025 masih menyisakan duka yang mendalam bagi warga yang terdampak bencana. Berdasarkan data BNPB per 6 Januari 2026, total korban meninggal dunia akibat banjir bandang dan longsor yang menerjang Aceh, Sumut, dan Sumbar tercatat 1.178 orang. Ribuan orang mengungsi akibat kehilangan tempat tinggal. Aceh menjadi provinsi dengan korban meninggal terbanyak, yakni 543 orang, sekaligus menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak.

Di tengah duka yang melanda dan warga masih harus menghadapi dampak bencana banjir, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengutarakan adanya ketertarikan pihak swasta untuk memanfaatkan lumpur yang menumpuk akibat banjir bandang di Aceh. Menurutnya, hal ini sangat baik apabila pihak swasta mau membeli lumpur yang ada di mana-mana. Prabowo mengatakan bahwa pemanfaatan lumpur oleh pihak swasta dapat membantu percepatan normalisasi sungai yang mendangkal akibat banjir dan juga dapat menambah nilai bagi pendapatan daerah.

Hal ini disampaikan Presiden Prabowo saat menghadiri rapat penanganan bencana di Aceh Tamiang yang juga dihadiri oleh jajaran kabinetnya, termasuk Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin. Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan bahwa pihak Kementerian Pertahanan dan TNI akan segera bertindak membersihkan lumpur di sungai-sungai besar di Aceh agar kapal pembawa bantuan dan alat berat dapat langsung bekerja tanpa harus melalui angkutan darat. Dengan alat berat tersebut, selain melakukan pendalaman sungai, juga sekaligus membersihkan kayu-kayu yang terbawa banjir. (CNN Indonesia, 01/01/2026)

Pentingnya penanganan bencana menuntut pemerintah untuk bertindak sigap dan cepat demi keselamatan rakyat. Namun, sangat disayangkan, dalam hal ini pemerintah seolah-olah mengesampingkan rakyat dengan kebijakan yang dianggap dapat menguntungkan negara. Dengan pertimbangan ekonomi, kepentingan swasta didahulukan daripada kesengsaraan rakyat. Padahal, warga yang terdampak bencana masih harus berjuang untuk bertahan hidup.

Sungguh menyedihkan, bencana yang terjadi seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah justru dianggap sebagai peluang untuk mencari keuntungan. Kebijakan ini seolah mengukuhkan ketidakhadiran negara dalam melindungi dan mengayomi masyarakat. Dalam sistem kapitalisme hari ini, negara lebih mengutamakan nilai materi sehingga segala sesuatu diukur dari sudut pandang untung dan rugi, demikian pula dalam pengurusan hak dasar rakyatnya.

Sistem kapitalisme menjadi sebab penguasa kehilangan rasa empati terhadap penderitaan rakyat sehingga lumpur yang tertinggal akibat banjir dan longsor dijadikan ladang untuk mencari keuntungan. Sementara itu, penanganan pascabencana berjalan lamban dan terseok-seok. Akibatnya, masyarakat sama sekali belum dapat membersihkan rumahnya sedikit pun.

Dalam Islam, negara berfungsi sebagai pengurus rakyatnya (raa’in), sehingga negara akan hadir dalam setiap permasalahan rakyat. Oleh karena itu, dalam sistem Islam negara adalah pelayan umat. Rasulullah saw. bersabda, “Imam (khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR Bukhari)

Peran negara sebagai pengurus rakyat hanya dapat direalisasikan dalam negara yang menganut sistem Islam secara kaffah. Penguasa dalam sistem Islam harus berpegang teguh pada prinsip bahwa jabatan yang diembannya adalah sebuah amanah untuk melindungi dan memenuhi seluruh hak rakyat. Segala kebijakan yang diambil oleh seorang pemimpin dalam Islam harus berpihak pada kemaslahatan rakyat dan berada di atas kepentingan materi. Oleh karena itu, jika sistem Islam ditegakkan, para penguasa akan sangat tanggap dalam menangani setiap bencana.

Dalam Islam, setiap bencana yang melanda suatu wilayah kekhalifahan akan ditetapkan sebagai bencana nasional sehingga penanganannya menjadi prioritas negara. Maka, hanya dalam sistem Islam negara benar-benar hadir menjaga keselamatan rakyatnya, bukan dengan menjadikan bencana sebagai ladang mencari keuntungan.

Wallahu a‘lam bishshawab

Oleh: Irayani
(Aktivis Muslimah)

0 Komentar