Konten Kreator Diteror, Inilah Wajah Asli Demokrasi


MutiaraUmat.com -- Sejumlah konten kreator dan aktivis mengalami teror dan intimidasi setelah menanggapi lambatnya penanganan bencana di Sumatera dan kerusakan alam yang nampak jelas di depan mata kita. 

Dikutip oleh BBC News Indonesia (2/01/2026), beberapa konten kreator dan influenser dikirim teror berupa surat ancaman, bangkai ayam, sampai bom molotov. Seperti dj dhony dikirim bangkai ayam dengan kepala terpotong dan surat ancaman yang menyebut aktivitasnya di media sosial. Dua hari kemudian bom molotov di lempar di depan rumahnya. Beberapa influenser lainnya yaitu sherly annavita yang mobilitas di coret-coret dan chiki fauwzi yang mendapat ancaman melalui digital serta teror kepala babi, itu semua datang setelah mereka mempublikasikan konten kritik tetang penanganan untuk bencana di Sumatera.

Mesti belum diketahui pelakunya dan siapa dalang di belakang teror ini, namun banyak kesamaan yang tidak bisa dianggap remeh. Para korban sama-sama menyuarakan tentang lambannya penguasa mengurusi kepentingan rakyatnya menyelesaikan bencana dan menemukan siapa pelaku perusakan alam di Sumatera.

Semua bentuk teror menjadi gambaran siapa saja yang berani memberi kritik akan mengalami hal yang sama dengan mereka. Penguasa merasa terusik dan seolah-olah ingin membungkam suara-suara rakyat. Penguasa ingin bebas membuat kebijakan sesuai kehendak kepentingan golongannya. Bahkan undang-undang untuk kebebasan bersuara pun dilanggar.

Semuanya tidak lepas dari sistem yang dianut negara ini yaitu sistem sekuler kapitalis yaitu memisahkan agama dari kehidupan. Sistem ini menganut prinsip kebebasan, bebas melakukan apa pun sesuai kehendak hawa nafsu manusia. Dan turunannya adalah demokrasi. Dalam demokrasi manusia dibebaskan untuk berpendapat dan berekspresi tertulis dalam konstitusi namun pada praktiknya dibatasi melalui tekanan non formal, teror dan intimidasi. Inilah wajah asli demokrasi yang hanya memberi ruang bicara sejauh tidak mengusik penguasa. Pada sistem ini mereka yang diberi kekuasaan sebagai amanah yang besar malah menjadikan mereka sewenang-wenang. Rakyat yang memberi masukan dianggap sebagai ancaman.

Sejatinya upaya muhasabah terhadap penguasa harus dilakukan dalam rangka kemaslahatan umat. Penguasa dalam Islam yang biasa disebut khalifah adalah pelindung, perisai bagi umat, bukan sebaliknya memberi teror, rasa takut pada mereka yang memberikan nasihat dan kritik. Rakyat memiliki hak untuk melakukan muhasabah lil hukkam yaitu mengkoreksi kebijakan dan memberi masukan dengan cara yang makruf.

Dalam sebuah hadis yang shohih diriwayatkan bukhari dan muslim Rasulullah Saw bersabda bahwa seorang imam itu ibarat perisai (junnah). Imam nawawi menjelaskan maksud dari perisai adalah imam bertugas mencegah musuh untuk menyakiti kaum Muslim, mencegah serangan dari kaum kufur.

Islam menetapkan bahwa muhasabah pada penguasa merupakan kewajiban umat, kritik adalah bentuk amar makruf nahi mungkar bukan sebagai ancaman dan tindakan kriminal.

Seperti kebijakan khalifah Umar tentang mahar yang tidak boleh melebihi 40 uqiyah (diperkirakan 1 uqiyah setara 200 gram). Jika terlanjur maka wajib mengambilnya kembali dan diserahkan ke baitul mal. Mendengar hal itu seorang perempuan membantah dengan firman Allah An-Nisa ayat 20 yaitu larangan suami untuk mengambil kembali maharnya. Khalifah umar membenarkan perempuan itu dan mengakui kekhilafan nya. Khalifah tidak memaksakan kehendaknya dan kritik tidak menganggapnya sebagai ancaman tetapi sebagai pengingat.

Maka dari itu umat islam perlu menyadari bahwa kebebasan sejati tidak akan lahir dari sistem buatan manusia melainkan dari sistem Sang Maha Pencipta yaitu menerapkan islam secara kaffah dan menjalankannya sesuai Al-Qur'an dan sunnah tanpa tapi tanpa nanti. Sistem ini menjadikan penguasa senantiasa takut kepada Allah SWT tidak takut kepada manusia apalagi takut pada kritik rakyatnya. Dalam sistem Islam suara kebenaran dilindungi bukan di teror. Sudah saatnya umat kembali pada sistem Islam yang dibuat oleh Sang Khaliq.

Wallahu a'lam bishshawab.[]


Oleh: Halimah
Aktivis Muslimah

0 Komentar