Kapitalisme: Dunia yang Tidak Ramah bagi Orang Benar


MutiaraUmat.com -- Hidup di dunia dewasa dalam sistem kapitalis bukan seperti yang ada di poster motivasi. Ia bukan tentang kerja keras lalu bahagia. Ia lebih sering seperti hutan rimba, yang kuat memakan yang lemah, yang punya uang menginjak yang tak punya, dan yang berkuasa menentukan siapa yang boleh hidup tenang.

Kapitalisme mengajarkan satu hukum bahwa yang paling kuat yang bertahan. Bukan yang paling jujur. Bukan yang paling benar. Bukan yang paling tulus.

Di dalamnya, keadilan sering kali hanyalah hiasan pidato. Yang benar bisa kalah, yang curang bisa menang, dan yang miskin sering dipaksa menerima nasib.

Kalau hari ini kamu merasa lelah, terpojok, atau terzalimi, itu bukan karena kamu lemah. Itu karena kamu hidup di sistem yang tidak ramah pada orang baik.

Namun jangan pernah menyerah, walau dunia ini buas, kita tidak boleh menjadi buas. Walau sistemnya tidak adil, kita tidak boleh membuang iman.

Allah tidak pernah menjanjikan hidup tanpa ujian, tapi Dia menjanjikan bahwa tidak ada satu pun air mata yang sia-sia. Di dunia yang penuh tipu daya ini, iman adalah tameng, keyakinan adalah senjata, dan doa adalah pertolongan yang tidak terlihat.

Tetaplah berani mempertahankan hakmu.
Tetaplah bicara saat kamu dizalimi. Tetaplah berdiri saat kamu ingin dijatuhkan. Karena diam yang lahir dari takut akan membuat kezaliman semakin berani.

Allah Tidak Pernah Berpihak pada Kezaliman

Banyak orang mengira yang menang itu selalu yang licik. Tapi sejatinya, yang menang hanyalah yang sedang diuji waktunya. Allah membiarkan orang zalim tertawa sebentar, tapi Dia menyiapkan keadilan dengan cara yang lebih dalam.

Dan sering kali, keadilan Allah datang bukan dengan tepuk tangan, tetapi dengan jatuhnya tirani secara perlahan.

Jika kamu sedang dipojokkan hari ini, jangan patah. Itu tanda bahwa kamu sedang berdiri di sisi yang benar. 

Kamu Tidak Sendirian

Kapitalisme membuat orang merasa sendirian. Sendiri berjuang, sendiri menanggung, sendiri menghadapi tekanan.
Tapi Allah berkata sebaliknya, “Aku lebih dekat daripada urat lehermu.”

Saat kamu menangis diam-diam, Allah mendengar. Saat kamu diperlakukan tidak adil, Allah mencatat. Saat kamu tetap jujur di tengah kebusukan, Allah menyiapkan balasan.

Teruslah berjalan, mungkin dunia ini memang tidak adil. Mungkin hukum rimba sedang berlaku. Tapi kamu tidak hidup untuk dunia ini saja. Kamu hidup untuk kebenaran, kehormatan, dan ridha Allah.

Maka jangan tukar imanmu dengan rasa aman sementara. Jangan tukar harga dirimu dengan kenyamanan palsu.
Tetaplah berdiri. Tetaplah berani. Tetaplah percaya. Karena di tengah dunia yang buas, Allah selalu memihak hamba-Nya yang bertahan dengan iman.[]


Nabila Zidane
Jurnalis

0 Komentar