Kalau Capek, Jangan Mundur Kita Sedang Naik Level
Mutiaraumat.com -- Hasil yang indah tidak pernah lahir dari langkah yang mudah. Kalau semua orang bisa sampai, itu namanya jalan tol. Tapi hidup orang beriman bukan tol, tapi lebih mirip tanjakan dengan bonus hujan, kabut, dan GPS yang kadang ngaco.
Kalau sekarang terasa berat, itu bukan pertanda salah jalan.
Itu tanda kita tidak sedang jalan di tempat.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
“Tidak ada kenikmatan yang lebih besar daripada kenikmatan setelah kesabaran.”
Artinya, kalau hari-hari ini kamu lagi diuji, capek, ingin rebahan sambil drama, itu bukan tanda hidupmu buruk. Itu tanda kamu sedang digembleng untuk versi diri yang lebih kuat.
Orang yang hidupnya lurus tapi selalu tenang-tenang saja patut dicurigai. Bisa jadi dia tidak sedang ke mana-mana. Karena kalau imanmu naik, setan juga ikut naik volume. Kalau akhlakmu diperbaiki, ujian orang lain juga makin kreatif. Kalau dakwahmu makin hidup, godaan menyerah juga makin niat. Itu normal.
Allah sudah mengingatkan,
“Apakah manusia mengira mereka akan dibiarkan berkata ‘kami beriman’ tanpa diuji?”
(QS. Al-Ankabut: 2)
Jadi kalau tahun ini kamu banyak diuji, disakiti, disalahpahami, dan lelah, tenang. Kamu tidak gagal. Kamu sedang naik kelas.
Imam Hasan Al-Basri berkata,
“Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia akan menyibukkannya dengan memperbaiki dirinya.”
Maka jangan iri pada orang yang hidupnya kelihatan mulus. Bisa jadi dia sedang tidak dibawa ke mana-mana. Sementara kamu sedang dibawa naik, meski lewat jalan yang berkelok.
Tahun depan harus lebih baik dari tahun ini. Bukan hanya lebih sukses, lebih langsing, atau lebih glowing, tapi lebih kuat imannya, lebih dalam takwanya, lebih berani dakwahnya, lebih banyak karyanya, lebih halus akhlaknya, dan lebih besar baktinya pada orang tua dan keluarga. Karena semua itu yang dibawa mati.
Uang ditinggal. Followers tinggal nama. Jabatan dilipat.
Yang ikut ke kubur cuma iman, amal, dan kejujuran hati.
Jadi kalau hari ini kamu jatuh, bangkitlah. Kalau capek, istirahatlah. Kalau sedih, menangislah. Tapi jangan berhenti.
Imam Asy-Syafi’i berkata,
“Siapa yang tidak merasakan pahitnya belajar, akan merasakan hinanya kebodohan seumur hidup.”
Dan begitu pula dengan iman, siapa yang tidak mau menahan pahitnya proses, akan kehilangan manisnya hasil. Percayalah, langkah berat hari ini sedang menyiapkan hasil yang indah di waktu yang Allah pilih. Bukan cepat, tapi tepat.[]
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)
0 Komentar