Guru Dikeroyok Murid, Murid Dihina Guru: Cermin Buram Pendidikan Sekuler
MutiaraUmat.com -- Kasus pengeroyokan seorang guru SMK oleh murid di Jambi yang viral di media sosial kembali mengguncang nurani publik. Peristiwa keributan tersebut bermula ketika guru di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, mendengar salah satu siswanya menegurnya dengan kata-kata tidak pantas. Guru tersebut kemudian menegur siswa di kelas dan refleks menampar siswanya. Tak berhenti sampai di sini, mediasi pun dilakukan karena siswa tidak terima atas perlakuan guru tersebut. Namun, mediasi menemui jalan buntu hingga akhirnya terjadilah peristiwa pengeroyokan terhadap guru tersebut (news.detik.com, 17/01/2026).
Namun, dari sisi siswa, muncul pula pengakuan bahwa guru tersebut kerap berkata kasar, menghina siswa dan orang tua, bahkan melabeli mereka sebagai “miskin” (news.detik.com, 17/01/2026).
Dua versi kronologi ini menunjukkan bahwa konflik telah lama terpendam dan akhirnya meledak dalam bentuk kekerasan. Peristiwa ini bukan sekadar insiden kekerasan biasa, melainkan alarm keras bahwa dunia pendidikan sedang menghadapi krisis serius. Guru yang seharusnya dihormati justru menjadi korban kekerasan di ruang yang semestinya aman dan mendidik.
Akademisi dari UIN Sultan Thaha Saifuddin, doktor ilmu sosial pendidikan, Junaidi Habe, mengatakan bahwa dalam perspektif sosiologi, tindakan verbal yang kasar terhadap guru merupakan bentuk anomali sosial, yaitu situasi ketika norma dan nilai sosial kehilangan daya ikatnya (Kompas.com, 18/01/2026).
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa rapuhnya ikatan sosial antara siswa dan guru disebabkan oleh dialog dua arah untuk membimbing dan memanusiakan manusia yang telah berubah menjadi kaku dan transaksional. Aturan hadir hanya sebagai formalitas administratif tanpa legitimasi moral. Sekolah tetap berjalan secara struktural, tetapi gagal menjalankan fungsinya sebagai institusi moral. Dalam situasi seperti ini, tidak mengherankan jika siswa tidak merasa terikat secara emosional maupun moral untuk menjaga etika berkomunikasi (Kompas.com, 18/01/2026).
Kasus guru dikeroyok murid jelas bukan persoalan emosi sesaat atau konflik personal semata. Ini adalah potret relasi guru dan murid yang telah rusak. Di satu sisi, murid menunjukkan sikap tidak sopan, kasar, dan kehilangan batas adab. Namun, di sisi lain, tidak dapat dimungkiri bahwa ada guru yang abai terhadap etika pendidik, menggunakan kata-kata yang merendahkan dan melukai psikologis siswa. Kedua pihak akhirnya terjebak dalam lingkaran kekerasan yang semakin sulit diputus.
Fenomena ini tidak lahir dari ruang hampa. Ia merupakan buah dari sistem pendidikan sekuler-kapitalistik yang menyingkirkan nilai-nilai agama dari proses pembentukan manusia. Pendidikan direduksi menjadi sekadar alat untuk mencetak tenaga kerja sesuai kebutuhan pasar, sementara pembinaan akhlak dan adab hanya menjadi pelengkap, bahkan sering diabaikan.
Hal ini tentu berbeda dengan Islam. Islam memandang pendidikan secara utuh. Tujuannya bukan hanya melahirkan manusia cerdas, tetapi juga manusia beradab. Rasulullah saw. menegaskan bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak. Dalam sistem pendidikan Islam, adab didahulukan sebelum ilmu. Murid dididik untuk memuliakan guru (ta’dzim), sementara guru diwajibkan mendidik dengan kasih sayang, kesabaran, dan keteladanan, bukan dengan hinaan atau kekerasan verbal.
Guru dalam Islam bukan sekadar pengajar materi, melainkan figur teladan yang perilakunya menjadi contoh hidup bagi murid. Negara pun memiliki peran sentral dengan memastikan kurikulum pendidikan berlandaskan akidah Islam. Setiap mata pelajaran diarahkan untuk membentuk kepribadian Islam, yakni terbentuknya pola pikir dan pola sikap sesuai syariat Islam, bukan hanya mengejar kompetensi pasar atau nilai akademik semata.
Kasus di Jambi seharusnya menjadi momentum evaluasi menyeluruh atas sistem pendidikan yang berjalan. Tanpa perbaikan mendasar dan pengembalian pendidikan pada fungsi pembentukan kepribadian Islam, konflik serupa berpotensi terus berulang. Pendidikan tanpa adab hanya akan melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara moral dan, pada akhirnya, merusak sendi kehidupan bermasyarakat. Semua perubahan ini hanya dapat terwujud jika kembali pada sistem Islam yang paripurna. Wallahu a‘lam.
Oleh: apt. Yuchyil Firdausi, S.Farm.
Aktivis Muslimah
0 Komentar