Di Balik Layar Game Online: Hegemoni Digital dan Krisis Generasi Muslim


MutiaraUmat.com -- Belakangan ini banyak kasus kekerasan terjadi di sekitar kita, mulai dari bullying, bunuh diri, teror bom di sekolah, pembunuhan, dsb. Mirisnya kebanyakan kasus di picu terinspirasi dari game online.

Semua itu karena platform game online saat ini banyak yang mengandung kekerasan, terlalu bebas, dan mudah diakses oleh berbagai kalangan termasuk anak-anak. Sehingga berpengaruh pada emosi dan kesehatan mental generasi. 

Platform digital sebenarnya tidak pernah netral, banyak nilai dan ajaran yang merusak dikemas dalam bentuk game yang menarik. Ruang digital dimanfaatkan oleh kapitalisme global untuk meraup keuntungan tanpa memedulikan kerusakan generasi dan kehidupan manusia. Alhasil, negara tidak mampu melindung generasi dari bahaya kerusakan akibat game online yang memuat konten-konten kekerasan.

Kapitalisme platform menciptakan hegemoni digital yang menyelimuti kehidupan sehari-hari. Hasilnya adalah struktur kekuasaan baru yang tak lagi berbasis pabrik dan modal industri, tetapi berbasis data, algoritma, dan perhatian manusia. 

Dalam tatanan sistem ini, pengguna bukan hanya dianggap sebagai konsumen, melainkan mereka juga dianggap sebagai komoditas. Sementara itu, kebijakan negara, budaya, dan generasi muda, akan bergerak mengikuti ritme yang ditentukan oleh perusahaan platform global, salah satunya game online.

Semua fakta ini mendesak untuk disikapi dengan serius dari semua pihak, terutama pemerintah. Mengingat generasi muda merupakan harapan bagi perubahan 
menuju kehidupan Islam dan kemajuan bangsa. 

Platform digital di antaranya game online telah menjadi pengasuh bagi generasi Muslim saat ini. Mekanisme ini akan menjadikan ghazwu ats-tsaqafi (invasi budaya) semakin sulit untuk dimenangkan, karena pengaruh ghazwu fikri (invasi pemikiran) yang terus dilakukan melalui penerapan paham sekularisme di negeri ini.

Desain sekularisme, melalui platform digital dengan cepat akan menggeser pemikiran Islam di benak generasi Muslim, glorifikasi kebebasan ekspresi yang muncul di layar akan menormalisasi kemaksiatan dan mengikis kecenderungan taat pada syariah. Padahal, pemikiran Islam dan ketundukan pada syariah adalah unsur utama dalam membangun syakhshiyah islamiyah (kepribadian Islam). 

Lambat laun hal ini secara pasti akan mempengaruhi identitas dan profil generasi Muslim. Invasi sekularisme yang masif melalui semua platform akan membentuk kepribadian dari generasi Muslim, menjauhkan mereka dari identitas dan profil generasi Muslim. 

Implikasinya, terjadi kegagalan dalam benak generasi dalam menyolusi semua persoalan hidup mereka, sehingga akan memunculkan kondisi batin yang cenderung khawatir akan sesuatu yang belum terjadi, dan mudah sedih terhadap apa yang sudah terjadi (kegagalan dalam menerima takdir). Level perasaan ini adalah pra-kondisi depresi yang masuk spektrum isu kesehatan mental. Gangguan kesehatan mental akan berpengaruh langsung pada cara seseorang berpikir, merasakan, dan bertindak. Jika tidak ditangani sedini mungkin, depresi dapat merusak fondasi perkembangan generasi, baik pada aspek psikologis, sosial, maupun fisik, serta menghambat potensi jangka panjangnya. Sungguh satu kerugian bagi dirinya, keluarganya, dan umat secara pasti.

Dalam Islam negara berkewajiban menjaga dan melindungi generasi dari berbagai bentuk kerusakan. Artinya, hegemoni ruang digital oleh kapitalisme global harus dilawan dengan kekuatan kedaulatan digital. Karena, kerusakan generasi hanya  bisa ditangkal dengan 3 pilar, yakni ketakwaan individu, kontrol masyarakat, dan perlindungan negara, melalui penerapan sistem politik, ekonomi, pendidikan, pergaulan sosial dan budaya Islam.

Misi penyelamatan generasi adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Upaya menyelamatkan generasi hanya akan terwujud dalam naungan Khilafah Islamiah. Karena, hegemoni digital dalam cengkraman raksasa digital yang sekuler nan rakus cuan hanya bisa dilawan dengan kedaulatan digital, dan ini hanya dapat diwujudkan oleh khilafah.

Kenapa khilafah? Karena yang dibutuhkan umat hari ini bukan hanya pemblokiran konten-konten negatif atau berbahaya. Meski jutaan konten diblokir atau dihapus, platform digital yang berperan seperti pemilik lapak dengan algoritmanya akan terus menyuplai konten yang mengontrol perilaku umat agar makin sekuler, liberal dan adiksi terhadap gaya hidup kapitalistik. 

Seandainya ada platform digital baru yang algoritmanya bisa diarahkan sejalan ideologi Islam, maka bisa menjadi alternatif bagi masyarakat dunia, namun ini membutuhkan teknologi tinggi dan investasi besar. 

Negara sekuler manapun tidak yang benar-benar serius menghentikan bahaya 
kapitalisme digital. Mereka hanya membuat peraturan yang mengurangi dampak negatifnya, bukan menghentikan bahayanya. Negara saat ini hanya mewajibkan platform menyediakan fitur keamanan, melakukan verifikasi usia, hingga memblokir akses anak terhadap risiko konten berbahaya, seperti kekerasan ekstrem, pornografi, perjudian, hingga eksploitasi data anak. Pun upaya ini dilakukan karena rakyatnya berulang protes dan negara kewalahan mengatasi dampaknya. Mengapa? Karena raksasa digital ini justru penyumbang pajak 
terbesar dan penopang utama kelangsungan negara-negara kapitalisme. 

Hanya Daulah Islamlah yang mampu mengeluarkan modal besar untuk membangun teknologi tinggi demi maslahat umat, bukan demi keuntingan segelintir kapitalis. Dari itu bisa dihasilkan paltform digital baru jika dibutuhkan yang mampu menandingi raksasa digital hari ini. 

Merupakan tanggung jawab setiap muslim untuk hidup dalam aturan islam. Tidak hadirnya pengaturan kehidupan sesuai dengan syari'at Islam, menuntut perubahan dengan terlaksananya dakwah (amar makruf nahi mungkar). Dalam Islam, setiap muslim memiliki kewajiban yang sama dalam melakukan aktivitas dakwah, mengembalikan kehidupan islam, dan mengemban dakwah islam ke seluruh penjuru dunia, melalui institusi negara yakni daulah khilafah. 

Seluruh elemen umat harus berkontribusi dalam aktivitas dakwah, terutama kalangan muda. Mereka punya potensi besar karena mampu memanfaatkan teknologi digital.[]


Oleh: Marissa Oktavioni, S.Tr.Bns.
Aktivis Muslimah

0 Komentar