Di Antara Gedung-Gedung Tua, Kesombongan Manusia Runtuh


MutiaraUmat.com -- Di kawasan Kota Tua Surabaya, berdiri bangunan-bangunan kolonial yang usianya melampaui satu abad. Gedung Setan (Spookhuis) dibangun sekitar 1809–1815 sehingga kini berusia lebih dari 200 tahun. De Javasche Bank berdiri sejak 1829, hampir dua abad. Balai Pemuda selesai tahun 1907. Gedung Telkom Garuda berdiri sejak 1925. Gedung Cerutu dibangun sekitar 1916 dan Gedung Internatio sekitar 1929. (liputan6.com, 18/9/2019)

Semua bangunan ini adalah saksi bisu bagaimana kekuasaan kolonial membangun kemegahan di atas penjajahan dan penindasan, lalu meninggalkannya sebagai bagian dari sejarah.

Berdiri di antara tembok-tembok tua itu, hati terasa dipukul oleh waktu. Gedung-gedung yang dulu dipenuhi kekuasaan, uang, dan ambisi kini hanya menjadi latar foto wisata. 

Para penjajah yang dahulu merasa menguasai dunia sudah lama masuk ke liang lahat. Yang tersisa hanyalah dinding dan cerita.

Di titik ini, kesombongan manusia runtuh. Apa yang mau dibanggakan, jika kekayaan, kekuasaan, dan kejayaan pun tak mampu menyelamatkan pemiliknya dari kefanaan?

Syekh Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari berkata dalam Al-Hikam, “Tidak ada yang membuatmu berbangga kecuali sesuatu yang akan sirna darimu.”

Gedung-gedung kolonial ini adalah tafsir hidup dari hikmah itu. Mereka adalah simbol bagaimana manusia dulu merasa besar, kuat, dan berkuasa, namun semua itu kini tinggal jejak. 

Kemegahan yang dibangun dengan kezaliman tidak membawa keabadian, hanya menjadi monumen kehampaan.

Syekh Ibnu ‘Atha’illah juga berkata, “Jika engkau mengetahui hakikat dunia, niscaya engkau tidak akan bersedih atas apa yang luput darimu dan tidak akan sombong atas apa yang datang kepadamu.”

Kota Tua Surabaya adalah pengingat hakikat itu. Dunia ini memang hanya persinggahan. Kita datang, diuji, lalu pergi. Maka siapa pun yang membangun hidupnya di atas kesombongan, harta, dan kekuasaan sedang membangun rumah di atas pasir.

Dalam perspektif Islam, dunia bukan tujuan, melainkan ladang akhirat. Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa kehidupan dunia hanyalah satu fase dalam perjalanan manusia menuju pertanggungjawaban di hadapan Allah. 

Karena itu, manusia tidak boleh menjadikan dunia sebagai ukuran keberhasilan. Ukuran sejatinya adalah sejauh mana hidupnya diabdikan untuk ketaatan kepada Allah dan kemaslahatan umat.

Beliau menegaskan bahwa peradaban yang dibangun tanpa iman, tanpa syariat, dan tanpa orientasi akhirat pada akhirnya akan melahirkan kezaliman, kesenjangan, dan kehancuran. 

Inilah yang kita lihat dari bangunan-bangunan kolonial ini, yaitu megah di luar, tetapi lahir dari penjajahan dan penderitaan. Ia tidak membawa keberkahan, hanya meninggalkan luka sejarah.

Kota tua ini seakan berkata kepada kita, “Kekuasaan bisa membangun gedung, tetapi hanya iman yang membangun makna.”

Manusia modern sering mengulang kesalahan yang sama, yaitu mengejar harta, status, dan citra. Padahal semua itu akan bernasib sama seperti gedung-gedung ini, tetap berdiri atau runtuh, tetapi pemiliknya sudah lama tiada.

Yang akan kita bawa ke alam kubur bukan sertifikat tanah, bukan rekening bank, bukan pujian manusia. Yang akan kita bawa hanyalah iman, amal, dan kejujuran.

Karena itu, melihat Kota Tua seharusnya membuat kita lebih tenang, lebih rendah hati, dan lebih fokus pada hal yang benar-benar bernilai, yakni menjadi hamba Allah yang taat, menjadi manusia yang adil, dan meninggalkan jejak kebaikan sebelum waktu menutup pintu.

Di antara gedung-gedung berusia ratusan tahun itu, kita diajari satu kebenaran bahwa manusia hilang, dunia ditinggal, dan hanya amal jariyah yang kita bawa.[]


Nabila Zidane
Jurnalis

0 Komentar