Berdamailah dengan Apa pun yang Tak Bisa Kita Ubah
Mutiaraumat.com -- Ada hal-hal dalam hidup yang bisa kita upayakan. Ada pula yang tak bisa kita kendalikan, sekeras apa pun kita mencoba. Di titik inilah manusia sering lelah. Kita marah pada keadaan, kecewa pada manusia, bahkan diam-diam mempertanyakan takdir.
Padahal, hidup tidak pernah menjanjikan semua berjalan sesuai rencana. Yang Allah janjikan bukanlah hidup tanpa ujian, melainkan pertolongan bagi mereka yang bersabar dan bertawakal.
Allah berfirman,
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)
Ayat ini seperti pelukan lembut bagi jiwa yang letih. Ia mengingatkan kita bahwa keterbatasan manusia adalah alasan mengapa kita perlu bersandar penuh kepada Allah. Karena apa yang tampak buruk hari ini, bisa jadi adalah pintu keselamatan yang belum kita pahami.
Sering kali kita menghabiskan energi untuk melawan kenyataan. Kita ingin mengubah orang, mengubah keadaan, mengubah masa lalu, mengubah takdir. Padahal, semakin kita memaksa, semakin lelah hati kita. Bukan karena masalahnya bertambah, tapi karena kita menolak berdamai.
Ikhlas bukan berarti pasrah tanpa usaha. Ikhlas adalah ketenangan setelah ikhtiar maksimal. Ia adalah keberanian untuk berkata, “Ya Allah, aku sudah berusaha, selebihnya aku serahkan pada-Mu.”
Syaikh Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari berkata,
“Istirahatkan dirimu dari mengatur segala urusan, karena apa yang telah diatur oleh selainmu tidak perlu lagi engkau sibukkan dirimu dengannya.”
Kalimat ini sederhana, tapi dalam maknanya. Kita sering lelah bukan karena terlalu banyak bekerja, tetapi karena terlalu sibuk mengatur hal-hal yang bukan berada dalam kendali kita. Kita ingin segalanya sesuai keinginan, padahal hidup berjalan sesuai kehendak Allah.
Ikhlas mengajarkan kita satu seni hidup yang mahal, berdamai. Berdamai dengan luka yang tidak bisa dihapus.
Berdamai dengan masa lalu yang tidak bisa diulang.
Berdamai dengan manusia yang tidak bisa kita ubah.
Berdamai dengan takdir yang tidak bisa ditawar dan di situlah keajaiban terjadi. Hati yang berdamai menjadi ringan. Pikiran yang ikhlas menjadi tenang. Jiwa yang berserah menjadi kuat.
Syaikh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata,
“Siapa yang mengenal Allah, ia akan tenang dengan takdir-Nya. Dan siapa yang tidak mengenal Allah, ia akan terus gelisah dengan hidupnya.”
Artinya, ketenangan tidak lahir dari sempurnanya keadaan, tetapi dari dalamnya pengenalan kepada Allah. Semakin kita mengenal-Nya, semakin kita yakin bahwa tidak ada satu pun peristiwa yang sia-sia.
Kita sering mengira bahwa kebahagiaan terletak pada tercapainya keinginan. Padahal, kebahagiaan sejati terletak pada ridha Allah. Dan ridha Allah paling dekat dengan hati yang ikhlas.
Allah berfirman,
“Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.”
(QS. Al-Bayyinah: 8)
Inilah puncak kebahagiaan seorang mukmin, yaitu ketika hatinya ridha terhadap Allah, dan Allah pun ridha kepadanya. Bukan soal seberapa sukses hidupnya, bukan seberapa nyaman keadaannya, tetapi seberapa lapang dadanya menerima takdir.
Ikhlas itu tidak membuat hidup tanpa air mata. Tapi ia membuat air mata menjadi ibadah. Ia tidak menghilangkan luka, tapi mengubah luka menjadi jalan mendekat kepada Allah. Ia tidak selalu membuat bahagia, tapi membuat hati tetap utuh meski dihantam badai.
Kadang kita harus kehilangan agar belajar melepaskan. Kadang kita harus terluka agar belajar berserah. Kadang kita harus jatuh agar belajar bangkit dengan cara yang lebih dewasa.
Berdamailah. Karena tidak semua pertempuran harus dimenangkan. Ada kalanya, kemenangan terbesar justru adalah menerima.Menerima bahwa manusia bisa mengecewakan. Menerima bahwa rencana bisa gagal.
Menerima bahwa harapan bisa runtuh. Namun tetap yakin bahwa Allah tidak pernah salah mengatur hidup kita.
Saat hati sudah berdamai, hidup menjadi lebih ringan. Kita berhenti mengeluh, berhenti menyalahkan, dan mulai mensyukuri. Kita berhenti bertanya “kenapa aku?” dan mulai bertanya “apa hikmahnya?”
Dan di sanalah kita menemukan kedewasaan spiritual. Bahwa hidup ini bukan tentang memuaskan ego, tetapi tentang menata jiwa agar pantas meraih ridha Allah.
Karena sejatinya, tujuan hidup bukanlah kebahagiaan dunia, melainkan ridha Allah. Jika ridha-Nya telah kita dapatkan, maka kehilangan apa pun tak lagi terasa menyakitkan, dan memiliki apa pun tak lagi membuat sombong.
Berdamailah dengan apa pun yang tak bisa kita ubah.
Karena ikhlas selalu menjadi ending terbaik dan di balik ikhlas, selalu ada ketenangan yang tidak bisa dibeli oleh apa pun di dunia ini.[]
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)
0 Komentar