Bencana: Jalan Sunyi Menuju Kenaikan Derajat

Mutiaraumat.com -- Di mata manusia, bencana adalah musibah. Di mata iman, ia bisa menjadi karunia tersembunyi.

Tidak sedikit orang yang justru senang melihat orang lain tertimpa kesulitan. Itulah sifat sirik dan dengki. Mereka merasa bahagia saat orang lain jatuh.

Padahal mereka lupa satu hakikat besar bahwa hakikat bencana di dunia bisa menjadi berkah besar di akhirat. Bagi orang beriman, penderitaan bukan kehinaan, tetapi tanda bahwa Allah sedang membersihkan dan mengangkatnya.

Ujian Itu Tanda Perhatian Allah

Syaikh Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari berkata dalam Al-Hikam,

“Terkadang Allah membuka bagimu pintu ketaatan melalui musibah, dan terkadang Dia menutupnya melalui kenikmatan.”

Artinya, banyak orang justru lebih dekat kepada Allah saat mereka diuji, daripada saat mereka hidup nyaman. Karena musibah memaksa hati untuk tunduk, berdoa, dan menyadari
kelemahan diri. Sedangkan kenyamanan sering membuat manusia lupa.

Orang Iri Salah Menilai Takdir

Orang yang iri melihat bencana hanya melihat kulitnya, yaitu air mata, kerugian, dan kehilangan. Tapi ia tidak melihat isinya, yaitu ampunan dosa, kenaikan derajat, dan pahala yang berlipat.

Imam Ibnul Qayyim berkata,

“Musibah yang menjadikanmu kembali kepada Allah
lebih baik daripada nikmat yang membuatmu lupa kepada-Nya.”

Maka sesungguhnya orang yang diuji, namun tetap bersabar, maka ia lebih kaya daripada orang yang hidup mewah tapi jauh dari Allah.

Bencana Menghapus Dosa dan Meninggikan Derajat

Rasulullah Saw bersabda bahwa tidaklah seorang mukmin tertimpa kesusahan, bahkan hanya tertusuk duri, kecuali Allah menghapus dosa-dosanya. Inilah rahasia yang sering dilupakan bahwa rasa sakit di dunia bisa mengurangi siksa di akhirat.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa penderitaan adalah pembersih jiwa. Ia meluruhkan kesombongan,menghancurkan ketergantungan pada dunia,
dan menumbuhkan keikhlasan.

Sabar Mengubah Musibah Menjadi Mahkota

Syaikh Ibnu ‘Atha’illah juga berkata,

“Jika Allah menyingkap makna ujian, niscaya engkau akan melihat bahwa di balik pahitnya
ada manisnya karunia.”

Bagi orang beriman, bencana bukan penutup jalan, tetapi gerbang pahala. Setiap sabar,
setiap air mata, setiap penolakan untuk berputus asa
semuanya dicatat.

Oleh karena itu sob, biarlah orang sirik tertawa saat melihat orang lain jatuh. Mereka hanya melihat dunia. Sedangkan orang beriman melihat akhirat.

Karena di hadapan Allah,
bencana yang diterima dengan sabar bisa berubah menjadi mahkota kemuliaan di hari ketika semua manusia berdiri tanpa perlindungan apa pun kecuali rahmat-Nya.[]

Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

0 Komentar