Bantuan Asing untuk Bencana Sumatera Ditolak, Mengapa?
Mutiaraumat.com -- Melansir dari laman kompas.com (20/12/2025). Konsultan Trisakti Sustainability Center, Leonard Tiopan Panjaitan mengkritik atas penolakan bantuan asing untuk korban banjir Sumatra. Menurutnya hal itu mengabaikan kebutuhan korban banjir bandang yang sangat mendesak, bahkan hingga sampai saat ini belum ditetapkan status bencana nasional.
Bantuan 30 ton beras didatangkan dari Uni Emirat Arab. Akan tetapi, pemerintah melalui Presiden Prabowo Subianto secara resmi menolak bantuan tersebut. Sontak, sikap pemerintah Indonesia yang menolak bantuan negara asing tersebut menimbulkan tanda tanya bagi negara asing. Padahal di mata dunia, kebutuhan kemanusiaan sangat dibutuhkan untuk para korban bencana.
Korban Bencana Kian Menyedihkan
Alasan pemerintah menolak bantuan asing karena merasa mampu untuk mengatasi bencana secara mandiri dan memiliki kapasitas yang cukup untuk menangani bencana.
Nyatanya, hingga saat ini para korban masih terbengkalai. Bukankah penolakan bantuan asing dapat merusak hubungan kerjasama internasional dan dapat mempengaruhi bantuan internasional di masa depan?
Seharusnya, pemerintah perlu mengkaji keseimbangan antara kemandirian dan kerjasama internasional dalam menangani bencana.
Hal ini penting untuk menjadi pertimbangan pemerintah dalam konteks dan situasi spesifik bencana utamanya di Sumatera, serta kemampuan dan kapasitas pemerintah dalam menangani bencana.
Sesungguhnya, bencana besar seperti di Sumatera memerlukan sumber daya yang sangat besar yang mungkin tidak dapat dipenuhi oleh pemerintah sendiri.
Kemungkinan besar, penolakan bantuan asing dapat menyebabkan keterlambatan respon terhadap korban bencana bahkan dapat memperburuk situasi.
Selain itu, penolakan bantuan asing dapat menuai kritik dari masyarakat internasional dan domestik yang dapat merusak citra pemerintah.
Islam Solusi Segala Masalah
Islam memiliki prinsip dan ajaran dalam berbagai persoalan termasuk dalam menangani korban bencana. Dalam setiap zaman, bencana nyaris tak terelakan tak terkecuali dalam sistem Khilafah.
Tetapi, pembedanya adalah sikap manusia dalam menghadapi bencana tersebut. Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur'an surat Al-raf ayat: 97-100:
"Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi. Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya,bahwa kalau kami menghendaki tentu kami azab mereka karena dosa-dosanya; dan kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?"
Inilah yang diinginkan oleh Allah Swt. kepada hamba-Nya dengan menurunkan musibah untuk mengingatkan dan menyadarkan kita. Maka, berdasarkan dalil diatas ketika bencana melanda yang pertamakali dilakukan oleh para penguasa, khususnya khalifah sebagai kepala negara adalah melakukan evaluasi menyeluruh.
Mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, apa penyebabnya dan bagaimana solusinya.
Negara khilafah yang menerapkan hukum Islam secara kafah tetaplah negara manusia, bukan negara malaikat. Oleh karena itu, bisa saja terjadi pelanggaran dilakukan manusia. Kalau pun terjadi pelanggaran harus segera diselesaikan. Sebab, inilah yang menjadi penyebab datangnya bencana.
Sebagaimana yang dilakukan Khalifah Umar bin Khattab saat terjadi bencana kekeringan, kelaparan dan wabah, beliau melakukan muhasabah dan bertaubat kepada Allah Swt.
Karena itu, baik negara, masyarakat maupun individu harus melakukan muhasabah agar menyadari kesalahan dan dosanya sehingga mereka kembali lagi ke jalan Allah.
Maka, untuk melakukan hal tersebut, butuhkan edukasi dan kepemimpinan yang adil sehingga masyarakat akan bergerak jika mendapatkan edukasi dan keteladanan dari pemimpinnya saat menghadapi suatu masalah termasuk masalah bencana.
Pemimpin tidak hanya memberi perintah, tetapi ia terjun langsung bahu membahu dengan rakyatnya sehingga sikap ini akan fberhasil membangun kebersamaan dan sikap ta'wun ditengah masyarakat. Meski mereka menangis, tetapi mereka bersabar teguh, dan ridho kepada takdir Allah. Begitulah seharusnya ketika negara menghadapi bencana.Wallahu a'lam.[]
Oleh: Amirah Desi
(Aktivis Muslimah)
0 Komentar